Bab 7 Kamu Menyebalkan Ardito

1155 Words
Aku langsung melepaskan tangannya ketika Dito malah semakin merasa. Apalagi aku merasa tidak nyaman. "Jangan dekat!" Senyuman dari bibir manisnya membuat siapa saja pasti akan terpesona, terkecuali denganku. Aku tidak akan pernah tergoda dengan seorang Pria Arogan dan juga pemaksa seperti dirinya. "Kamu mau kemana?" Sorot matanya tajam menetap kearahku. Dia pikir aku akan takut dengannya? Dia salah! Aku tidak takut dengan Pria sepertinya. "Aku mau pergi ke tempatku," jawabku sangatlah enteng. "Kamu tidak mendengarkan percakapanku dengan Papah? Kamu sekarang sudah menjadi sekretarisku lagi!" "Maaf yah, aku tidak mau!" Aku membalikan badanku tapi Pria Arogan itu menarik pinggangku hingga membuatku sangat dekat dengan pria itu. Kami saling pandang satu sama lain. Aku menatap dirinya dengan penuh kebencian. Belum lagi tangannya mencekal diriku seperti itu. "Lepas!!" "Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu memuaskan aku." "Aku sidak Ssd.." belum sempat aku mengatakannya. Bibirku sudah dibungkam duluan oleh pria arogan itu. Aku memukuli d**a bidangnya yang begitu sangat kekar membuat bayanganku tiba-tiba tertuju pada malam itu. Aku melihatnya seperti roti sobek-sobek begitu sangat memukau. Astaga Amira! Apa yang kamu pikirkan tentang pria itu hah? Kamu bisa gila membayangkan pria itu yang kini tengah bermain pada bibir indahku. Dia melepaskan tautan bibirnya saat menyadari kalau aku kehabisan nafas, bahkan aku tidak bisa menahan diri setelah ini. Benar-benar membuat aku sedikit tidak nyaman. "Kamu m***m Dito," umpatku dengan kesal. "Bibirmu begitu sangat manis," bisiknya di telingaku. "Kamu gila, Dito. Lepaskan aku sekarang!" marahku pada laki-laki itu. Benar-benar sedikit menyebalkan. Dia memiringkan wajahnya dan aku mendorongnya tapi rasanya percumah karena tenaganya lebih besar daripadaku. "Aku peringatkan, jangan pernah melakukan sesuatu!" "Memangnya kenapa? Lagian aku hanya menyentuh istriku sendiri," ujar Dito dengan santai. Aku tidak salah dengar bukan? Sekarang laki-laki itu mau mengakui kalau aku adalah istrinya. Benar-benar sedikit menyebalkan sekali. "Masih merah, pentas kamu memakai shall," seringai dari wajahnya membuat aku kian kesal dengan dirinya. "Kamu sengaja memberikan bekas merah di leherku bukan," dengusku dengan kesal. Bahkan aku tidak tahu harus berbuat apalagi setelah ini. Dia adalah laki-laki yang memang sedikit menyebalkan. Tok... Tok... Ketukan dari pintu itu membuatku sadar kalau ada orang yang akan masuk kedalam ruangan ini. Pria Arogan itu akhirnya melepaskan tangannya dari pinggangku. Aku harus berterimakasih kepada orang itu karena berkatnya aku bisa terbebas dari Pria Arogan ini. "Masuk!" Aku buru-buru mengambil tas yang tadi hampir terlepas dari pundakku. Aku segera membenarkannya, memastikan tidak ada yang melihat kejadian canggung kami berdua. Suasana terasa kaku, dan aku tak ingin membuatnya semakin buruk. "Permisi, Pak Ardito. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kalian," suara Gino terdengar dari pintu. Aku menoleh dan melihat Gino mendekat. Rupanya, laki-laki itu datang menemui Dito, dengan ekspresi sekilas yang seakan sudah dipersiapkan. Setidaknya semuanya berjalan dengan lancar, meskipun aku merasa ada yang kurang nyaman. Dito tampak mengangkat sebelah alisnya, terlihat bingung. "Siapa?" tanya Dito dengan nada datar. "Dia wanita bernama Polisa," jawab Gino singkat. Aku memilih untuk tidak memperdulikan percakapan mereka. Rasanya semakin berat untuk tetap berada di ruangan itu, jadi aku memutuskan keluar. Namun, begitu aku melangkah keluar, mataku tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang sedang melintas. Wanita itu terlihat sangat mencolok, dengan penampilan yang jauh dari kata sederhana. Make-up tebalnya membuat dia terlihat seperti ondel-ondel, dan bibir merah menyala semakin memperkuat kesan aneh. Aku bahkan sempat berpikir, jangan-jangan dia ini seorang vampir? Tapi, aku cepat-cepat menepis pikiran itu. Ah, aku terlalu sering menonton drama, ini hanya imajinasiku saja. Aku tidak bisa menahan tawa yang hampir keluar, tetapi aku segera menahan diri. Kalau aku tertawa, itu akan sangat tidak sopan. Namun, wanita itu tiba-tiba menatapku tajam. "Kenapa kamu menatapku seperti itu? Iri ya, gak punya wajah secantik aku?" ujarnya dengan nada menantang. Aku hampir tak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Apa dia serius? Tentu saja aku tidak iri dengan penampilannya yang berlebihan itu. Dalam hati, aku tertawa kecil. Bahkan, aku merasa lebih cantik darinya. "Emang siapa yang menawarkanmu? Maaf, ya, aku nggak tertarik." Aku menjawab dengan santai, meski sedikit kesal. Wanita itu terlihat bingung, mungkin tidak terbiasa dengan jawaban seperti itu. Aku bisa melihat ekspreinya yang berubah seketika. Sepertinya, dia bukan tipe orang yang sering mendapat penolakan. "Cih, siapa sih kamu?" umpat wanita itu dengan kesal. Sial, dia membuat aku begitu sangat kesal kali ini. Awas kalau dia akan berbuat macam-macam! Dia hampir sama seperti Fika, menor dan muka seperti nenek sihir. "Kamu mau ketemu dengan Ardito?" tanyaku sedikit penasaran. "Iya tentu saja. Aku ingin bertemu dengan Ardito." Jadi wanita yang dimaksud oleh Gino adalah dia. Benar-benar tidak tahu malu sekali, pakai baju seksi seperti akan menggoda Dito. Aku tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. "Sepertinya Pak Ardito tengah sibuk, jadi lebih baik kamu pergi dari sini," usirku padanya. "Jangan berbohong kamu yah!" ujarnya padaku dengan nada yang seperti tengah marah. Aku hanya melihat dengan sekilas. Sampai Gino keluar menghampiri kami berdua. Polisa langsung menghampiri Gino dengan sekilas. "Bagaimana?" tanya Polisa pada Gino. "Maaf, dia tidak bisa diganggu karena tengah sibuk." Aku tersenyum puas ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Gino barusan. Memangnya Polisa tidak akan bisa dekat dengan Dito. ***** Aku kembali masuk keruangan kerjaku. Gita tersenyum melihat kearahku dan menyambut ku dengan senang. Berbeda dengan wanita yang ada disebelahnya. Dia menatapku dengan begitu sinis. "Akhirnya kamu kembali juga Amira, kamu hampir 3 jam diruang Pak Bos," kata Gita menggodaku. "Lain kali, aku tidak akan mau jika disuruh ke sana lagi," kataku dengan kesal. Sampai matanya melihat kearah Fika yang tengah menatap kearah diriku. "Palingan juga abis cuci bajunya si bos." Apa kata dia bilang? Ah sial! Dia berani bermacam-macam denganku. Stop! Aku tidak boleh terbawa emosi sekarang. Aku menghela nafasku dan berucap dalam hati. "Awas saja Cika." Gita membelaku dengan maju kearah Cika, aku tersenyum ketika melihatnya. Tapi aku mencekal tangannya karena tidak ingin ada keributan dikantor ini. Apalagi aku tau kamu tadi ada Papah Luky datang ke kantor. "Biarkan saja," bisikku pada Gita. Gita menganggukkan kepalanya dan akhirnya dia ikut duduk bersama denganku. Aku mengerjakan tugasku yang memang belum selesai aku selesaikan. Baru juga aku merasa tenang sekarang, tiba-tiba ada seorang pembawa gosip datang. "Hai kalian tau gak? Ada berita gembira." ucap Wita datang ketempat ini. "Berita apa?" tanya Cika langsung semangat ketika melihat Wita datang sambil membawa gosip. Dua wanita itu sangat cocok dapat gelar ratu gosip karena kelakuannya yang selalu membicarakan tentang orang lain. Tidak punya kerajaan lain selain gosip. Padahal lebih banyak lagi hal yang lebih berpaedah lainnya. "Tadi aku liat ada yang ngaku pacarnya si bos loh." Cita mengatakan itu sambil melihat wajahnya kearahku. Seolah dia menghina aku sebagai istrinya bos. Aku paham tatapan itu, seolah mengejek aku sekarang. Bahkan aku juga tidak tahu harus melakukan apalagi setelah ini. "Haha kasian banget yah istri bosnya diselingkuhi, wajar sih dia belagu." Cika berkata seperti itu mungkin maksudnya untuk menyindirku. "Cih menyebalkan!" Aku mengumpat kesal, tidak terima dengan perkataan dari dua penggosip itu. Semuanya gara-gara Dito yang membawa Polisa ke sini. "Awas saja Dito! Aku akan memberikan pelajaran pada dia!" umpatku kesal. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD