Bab 12 Amira Bertemu Adiknya

1045 Words
"Memangnya siapa yang ingin punya anak dari kamu," ketus aku dengan kesal. Beruntung sekarang ibu mertuaku sudah pamit pulang. Aku merasa lega dan sekarang Dito juga sudah pergi. Gak tahu ke mana sekarang, biarkan saja aku juga kesal. "Menyebalkan." Daripada aku pusing memikirkan perkataan Pria arogan itu lebih baik aku memilih untuk pergi ke tempat Dimana adik-adikku berada. Aku sangat merindukannya. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan mereka. Rumah yang bisa terbilang sederhana ini adalah rumah peninggalan almarhum ibuku. Mengingat itu membuatku merasa sedih sekali. Rumah yang penuh dengan kenangan pahit dan juga manis. Aku mengetuk pintu itu dengan pelan, berharap orang rumah sedang ada didalam. "Assalamualaikum," ucapku dengan sopan. "Waalaikumsalam," jawab orang yang sangat aku rindukan. Aku memeluk orang itu dengan begitu sangat erat. "Aku gak menyangka kalau kakak akan datang ke sini." "Kamu baik-baik saja?" tanyaku pada Dafi Dia adalah adik perempuanku. Melihat dia yang kini sudah tumbuh dewasa membuat aku merasa senang. "Aku baik-baik saja. Ayo masuk ke dalam," ajak Dafi. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah ini. Dulu rumah ini memang begitu sangat tidak layak huni. Sampai aku menabung dan merenovasi kembali rumah ini dengan baik. Masuk kedalam rumah ini mengingatkan aku tentang masalaluku yang tidak seindah dengan apa yang seharusnya aku harapkan. Letaknya tidak pernah berubah masih sama seperti saat aku belum menikah duku. "Kinar mana?" tanyaku. "Adik kita yang bungsu itu lagi main sama temannya. Tadi sih udah ijin mau pergi ke toko buku." Dafi adalah adik laki-lakiku, dia sedang melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Selama ini aku yang selalu membiayainya walaupun, dia kini sudah bekerja di bengkel namun kebutuhan itu hanya cukup untuk makan dirinya dan Kinar saja. Sebenarnya Dafi orang yang sangat pintar dan dia sempat mendapatkan beasiswa waktu itu. Hanya saja karena dia bekerja sampingan di bengkel dan jarang masuk, beasiswanya dicabut. "Kinar memang kuru buku yah? Dia paling suka baca buku kaya gitu," ujarku mengingat dia memang suka baca buku. "Yah seperti Kakak gak tau aja, dia kan cita-citanya pengen jadi penulis terkenal dan juga nanti ingin kuliah di jurusan sastra." ucapan dari Difi ada benarnya. Adikku yang paling bungsu itu memang bercita-cita ingin jadi penulis terkenal. Aku sangat bangga dengan dia yang begitu sangat semangat untuk menjalani hidupnya. "Aku sedang dia kembali punya semangat hidup. Rasanya perjuanganku tidak sia-sia." Difi yang mengetahui perjuanganku pun lantas menguatkanku sambil menggenggam tanganku dengan begitu sangat erat. "Aku marasa bersalah sama Kak Amira yang harus menikah dengan orang yang tidak kakak cintai sebelumnya." Aku tidak mungkin mengatakan kehidupanku sekarang bersama dengan pria arogan itu. Aku tidak ingin membuat Difi merasa khawatir dan bersalah gara-gara aku. "Aku sangat bahagia dengan Ardito kamu tenang saja. Semua kehidupanku terpenuhi oleh dirinya." bohongku pada Difi. Sesungguhnya dia tidak pernah memberiku sepeserpun uangnya padaku. "Wah enak sekali yah hidup dengan orang kaya," ujar Difi yang kini tersenyum, bahkan aku yakin semuanya akan jadi seperti ini. Aku hanya tidak ingin membuat adikku berpikiran yang aneh-aneh tentang pria arogan itu dan membuat masalah akan semakin rumit nantinya. "Ya dek, Kakak sangat bahagia." "Apa aku boleh tinggal bersama dengan Kakak?" tanya Dafi padaku. Sebenernya aku ingin membawa mereka tinggal bersama denganku. Tetapi aku tidak punya pilihan lain. Lagian Ardito, juga pasti marah kalau aku bawa mereka. "Pasti gak boleh yah? Kak Ardito orang yang baik bukan?" tanya Dafi kembali. Dafi adalah orang yang sangat peka, aku bisa melihat dengan seksama, bahkan aku tidak yakin kalau akan jadi seperti ini. "Dia baik kok Dafi, hanya saja Kakak belum bilang dan izin sama dia. Nanti deh Kakak minta izin sama dia dulu," kataku dengan sekilas. "Makasih yah kak, sebenarnya aku hanya tidak ingin jauh dari Kakak aja, semenjak Kakak menikah jadi jarang kerumah ini, apalagi Kinar kadang merasa sendiri saat aku lembur malam." Dafi menundukan kepalanya, Sesungguhnya aku sedih juga melihatnya yang seperti ini. Aku tahu dia juga kerja keras untuk keluarga kami. Ingin sekali aku menceritakan kerja yang bagus untuknya namun, aku tahu cari pekerjaan di kota yang sangat besar ini sangat sulit. Terlebih Dafi hanya sampai SMA dan juga dia harus menyesuaikan antara kerja dan juga kuliah. Aku hanya bisa mendoakannya. Semoga setelah dia lulus sarjana nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang sangat layak. Ponselku tiba-tiba berdering tanda ada orang yang menghubungiku saat ini. Siapa sih orang yang menganggu kebersamaan ku dengan Dafi. "Hallo," "Kamu dimana Amira?" Aku bisa mendengar suara pria arogan itu memangil namaku. Apa yang ingin dia lakukan sekarang? Bahkan aku tidak yakin kalau akan jadi seperti ini sekarang. "Aku lagi ada di luar. Kenapa menghubungiku?" tanyaku pada Dafi. "Lebih baik cepat pulang sekarang!" ujarnya yang membuat aku merasa kesal. Apa yang diinginkan oleh laki-laki itu. "Aku tidak mau, lagian aku sedang sibuk sekarang," kataku padanya. Ini adalah hari weekend dan aku hanya ingin bertemu dengan saudaraku. Lagian dia tidak puas apa memerintahkan aku tiap hari di kantor. Membuat aku merasa malu dan sekarang malah menyuruh aneh-aneh. "Aku tidak suka penolakan! Cepat pulang." Menyebalkan sekali, padahal aku ingin berada di sini dulu. Tetapi kalau sudah jadi begini, semuanya jadi sulit sekarang. "Yaudah aku pulang," akhirnya aku menutup ponselnya duluan. Tidak perduli pria itu akan memaki dirinya nanti. Laki-laki itu sekarang mengatur dan memerintahkan sesuatu yang tidak aku suka. Bahkan aku sendiri pun merasa kesal dengan semuanya. "Siapa yang telepon Kak?" tanya Dafi yang sepertinya sedang penasaran dengan orang yang menghubungiku itu. "Ardito, dia menyuruhku untuk segera pulang. Padahal aku masih ingin tetap di sini," kataku pada adikku. "Baiklah, sebaiknya Kakak pulang saja. Nanti aku akan menyampaikan semuanya pada Kinar kalau kakak datang ke sini." Dafi sangat tahu apa yang ada di dalam pikiranku sekarang. Anak itu memang sudah dewasa sekarang. Aku terpaksa harus pulang, setelah semuanya selesai. Nanti aku akan mengurus semuanya dengan baik. "Baiklah, kakak akan pulang. Kalau butuh apapun, nanti hubungi aku." "Iya, maaf yah. Karena kami selalu menjadi beban untuk kakak," kata Dafi. Aku hanya memeluk dia dengan sekilas. Aku tahu apa yang dia tengah rasakan sekarang. Dimas merasa bersalah dengan diriku yang menikah dengan Ardito. "Jangan bilang seperti itu. Lagian itu sudah jadi kewajiban kakak. Kamu jaga diri baik-baik saja." Aku hanya mengatakan itu padanya. Semoga saja dia paham. "Hati-hati Kak Amira." Aku melihat dia yang kini melambaikan tangan, rasanya memang sedikit bahagia. Semuanya sudah berjalan dengan baik sekarang. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD