Bab 11 Bangun Tidur

1171 Words
Matahari yang cerah itu membangunkan dari tidur lelap yang begitu sangat melelahkan. lagi dan lagi aku harus mendapati diriku dengan keadaan yang seperti ini. Tidak mengunakan apapun dan hanya tertutupi oleh selimut. Pria yang habis melakukan itu semalam sudah tidak ada ditempat tidurnya. Aku teringat kalau hari ini adalah hari minggu jadi tidak perlu untuk pergi ke kantornya. Melihat kearah kamar ini mengingatkanku akan satu hal kalau ini bukanlah kamarku. Ini kamar pria arogan itu. Mataku tertuju pada alat make up yang biasa ku gunakan ada di kamar ini. Sepertinya pria itu sudah merencanakannya dari awal supaya aku tidur dan melayani dirinya dikamar ini. Bukannya dia yang dulu tidak mau tidur denganku? Kenapa sekarang pria itu malah berbuah pikiran. Pusing jika membahas tentang pria arogan itu tidak akan pernah ada habisnya. Lebih baik aku mandi dan membersihkan diriku sendiri. Pergi ke kamar mandi milik pria arogan itu tidak ada salahnya sama sekali lagian aku penasaran dengan isi kamar mandinya. "Wow" Ketika pintu kamar mandi terbuka, aku terpesona. Kamar mandinya sangat luas, jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Bathup besar dan elegan berdiri di tengah ruangan, memberikan kesan mewah yang sangat berbeda dengan kamar mandi yang ada di rumahku. Bahkan kamar yang diberikan Dito padaku di lantai bawah jauh lebih kecil dibandingkan dengan ruangan ini. Dia mempunyai segalanya yang dimiliki, hanya saja uangnya selalu dia hambur-hamburkan untuk semua wanita penghangat ranjang. Padahal akan lebih baik jika dia sumbangan ke panti asuhan akan lebih bermanfaat. Aku memutar kran air, mencampur air panas dan dingin hingga terasa pas di kulit. Ketika aku merendam tubuhku di bathup, rasanya begitu nyaman. Suara air yang mengalir menenangkan pikiranku, dan rasa lelah yang semalam terasa di tubuhku mulai hilang perlahan. Aku tak ingin terburu-buru keluar dari sini; rasanya ingin berlama-lama menikmati kenyamanan ini, terutama setelah tubuhku terasa kaku dan lelah. Dengan setiap detik yang berlalu, aku merasa lebih santai dan tenang. Kamar mandi ini memberi ketenangan yang sangat kubutuhkan. Aku menutup mata sejenak, membiarkan air hangat menyentuh kulitku dan mengalir menenangkan otot-otot yang semalam terasa tegang. ***** Sarpan pagi adalah hal yang selalu aku lakukan sendiri tanpa ada pria arogan itu. tapi sekarang aku melihatnya sedang duduk di meja makan. Tumben sekali pria arogan itu ada di rumah, biasanya selalu pergi dari tempat ini. Aku berjalan menuju kearah dapur karena biasanya aku yang membuat masakanku sendiri. Memasak nasi goreng adalah hal yang selalu aku lakukan ketika pagi hari. Saat aku memasak tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku dari arah belakang. "Apa yang kamu lakukan hah?!" Aku membentak pria arogan yang memelukku. Sangat menyebalkan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku tidak suka dengan semuanya. "Pagi-pagi jangan galak-galak," Rasanya aku ingin mual seketika saat mendengar apa yang diucapkannya. Kata gombal sudah terbiasa terucap dari bibir manisnya. Mungkin juga pada setiap wanita yang dia tiduri. "Lepas gak! Aku mau masak," kesal ku. "Aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja," Demi tuhan tidak puas kah dia meniduri ku semalam. Pria arogan itu memang sangat pemaksa. Sesuatu harus dia turuti kalau tidak dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi nanti. Bibirnya yang lembut itu sudah mengendus di leherku membuatku seketika mengeluarkan suara yang membuatnya semakin bahagia. "Auuuhh.." "Ekhem," Pria arogan itu menjauhkan dirinya dariku saat melihat siapa orang yang masuk kedalam rumah ini. Rupanya itu adalah ibu mertuaku. Terimakasih karena dia sudah menyelamatkanku dari singa yang sedang kelaparan. "Eh mamah." Pria arogan itu menghampiri ibunya. Sedangkan aku hanya tersenyum ramah dan kembali berkutat pada dapur. Kebetulan ada Bi Wika yang membantuku untuk masak. Aku hanya memasak masakan kesukaanku saja habis ini aku akan berkunjung kerumah adik-adikku. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka berdua. Semua itu karena Ardito yang membuatku sibuk hingga tidak bisa menjenguk adik-adikku. Aku mengambil bawang merah, bawang putih, cape dan juga bumbu racik lainnya untuk bahan masakan. Aku menguleknya dengan perlahan, aku sudah terbiasa dengan beda ini jadi tidak perlu pake mesin pengaduk yang pakai listrik. "Biar saya panaskan dulu minyaknya nyonya," ujar Bi Wika yang akan mengambil minyak namun aku mencegahnya. "Pake margarin aja biar enak bi, jangan pake minyak," ujarku yang masih sangat sayang dengan tubuhku dan tidak mau terkena kolesterol. "Baik kalau begitu nyonya," Bi Wika mengambilkan margarin sambil menyalakan kompor. Aku hanya melihat dia dengan seksama saja. "Bi, tolong ambilkan nasinya yah," ujarku. "Iya Nyonya." Bi Wika pergi akan mengambilkan minyak. Sebenarnya aku tidak mau dipanggil nyonya. Hanya saja ini karena pria arogan itu yang menyuruh Bi Wika, jadi aku harus terbiasa sekarang dengan hal yang seperti itu. Akhirnya aku memanaskan margarin ini dan kemudian memasukan bumbu yang sudah aku tumbuk tadi dengan cobek. Aku menumisnya dengan pelan karena takut terkena cipratan minyak. Dengan hati-hati aku mencoba untuk mengaduknya agar tidak gosong. "Ini nyonya nasinya." Bi Wika memberikan nasi dan aku langsung memasukannya pada wajan yang aku gunakan untuk memasak nasi goreng ini. Aku memberikan toping agar tidak membuatnya jelek. Hingga aku selesai memasak nasi goreng ini, aku berjalan menuju kearah meja makan yang ternyata sudah ada Ardito dan juga Ibu mertuaku sedang berdiri disana. "Silahkan dimakan," ucapku dengan sangat ramah kepada pria arogan itu karena dia mertuaku disini. Aku tidak mungkin memaki dirinya ditempat ini. "Kamu bisa melihat sendiri bukan? Istrimu itu sebenarnya bisa masak loh." Aku senang ketika mertuaku berkata seperti itu, dia membelaku dihadapan Ardito. Rasanya memang senang ketika semuanya sudah jadi lebih baik sekarang. Aku pun tidak yakin kalau pada akhirnya jadi seperti ini. "Iya deh. Terserah." "Sudah benar memang dia adalah wanita pilihan mamah dan papah. Kamu harus mulai mencintainya mulai sekarang." Aku tersenyum ketika mendengar hal itu. Sampai tak lama kemudian aku akhirnya memutuskan untuk mengambilkan nasi goreng untuk pria arogan itu. "Terima kasih banyak." Ardito mengatakan itu dengan ramah. "Sama-sama." Untung saja aku bisa berakting untuk mengatakan hal ini, terlebih aku tahu kalau pada akhirnya akan jadi seperti ini. Setidaknya semuanya sudah jadi lebih baik. "Kalian sangat cocok sekali," Ibu mertua memujiku dengan mengatakan hal ini. Dia tidak tau saja sifat aku dan pria arogan ini seperti apa. Ternyata dia mudah sekali untuk ditipu. Aku sampai tidak tega membohongi seperti ini. Dia sudah aku anggap sebagai ibu kandungku sendiri karena aku sudah tidak punya ibu lagi "Mamah bisa aja," ujarku sambil tersenyum sebagai tanggapan. "Bagus kalau begitu, mamah ikut senang mendengarnya. Oh yah kapan kalian akan mempunyai cucu?" Uhuk Aku tersedak karena terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu mertuaku itu. Emangnya siapa yang mau punya anak dari Pria Arogan yang mempunyai wanita banyak sekali. Aku bahkan kesal ketika melihat laki-laki itu yang dikelilingi oleh banyak wanita. "Makanya hati-hati kalau makan, pelan saja," ujar Dito sambil memberikan minum padaku. Aku hanya menerima saja, sebenarnya aku merasa sedikit kesal, tetapi mau bagaimana lagi. Aku berusaha untuk melakukan semuanya dengan baik. "Terima kasih banyak." "Pokonya secepatnya kalian harus punya momongan. Mamah sudah tidak sabar ingin gendong cucu." "Benar bukan kata ibuku, kita harus melakukan itu dengan baik." Aku memutar bola matanya jengah ketika mendengar bisikan tersebut. Bahkan aku tidak yakin kalau akan jadi seperti ini. Memangnya siapa yang ingin punya anak dengan laki-laki itu. "Aku tidak mau!" tolakku sambil membalas bisikannya. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD