Aku sudah selesai membersihkan diriku hingga bersih. Menggunakan handuk kimono, aku berniat mengeringkan rambutku yang masih basah. Tentang Dito yang berbicara dengan seorang wanita bernama Lunaya, itu bukan urusanku. Bagi aku, tidak aneh jika pria arogan dan kaya seperti Dito memiliki banyak wanita, tapi aku tidak berniat menjadi salah satunya.
Aku membuka lemari untuk mencari baju tidur, tetapi mataku membulat saat tidak menemukan setelan bajuku di tempat biasanya. Semua barang-barangku seolah hilang begitu saja. Panic mulai merayap dalam diriku. Tanpa pikir panjang, aku keluar untuk mencari asisten rumah tangga yang ada di rumah ini.
"Bi Wika!" panggilku dengan keras, bahkan aku tak peduli bahwa aku hanya mengenakan kimono handuk yang menampilkan kaki jenjangku.
"Iya, Nyonya, ada apa?" jawab Bi Wika, seorang wanita paruh baya yang datang mendekat sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Bajuku kenapa hilang semuanya, Bi?" tanyaku, merasa cemas.
"Baju Nyonya sudah dipindahkan ke dalam lemari Pak Dito," jawab Bi Wika.
"Hah? Maksudnya gimana, Bi? Kenapa bajuku dipindahkan ke lemari Dito?" aku bertanya dengan bingung.
"Saya hanya menuruti perintah Tuan Dito saja," jawab Bi Wika dengan rendah hati.
Panik dan jengkel, aku memutuskan untuk mencari Dito, yang pasti sedang berada di ruang kerjanya. Aku tahu, pada jam seperti ini, dia biasanya ada di sana. Tanpa mengetuk pintu, aku masuk begitu saja. Tidak peduli jika pria arogan itu mungkin sedang bersama wanita yang tadi di luar, yang katanya adalah wanita penghangat ranjang. Hanya memikirkan hal itu saja sudah cukup membuatku merasa jijik.
Aku menghentakkan meja dengan marah, menatap Dito yang sedang duduk di kursinya. Bagaimana bisa dia begitu seenaknya memindahkan bajuku ke kamarnya? Bukankah kami sudah sepakat bahwa kami tidak akan tidur bersama? Lalu kenapa dia mengubah semuanya?
"Kenapa kamu memindahkan bajuku?" tanyaku dengan suara menuntut.
Dito menatapku, matanya menelusuri tubuhku yang hanya mengenakan kimono handuk. Aku bisa merasakan pandangannya yang menatap lebih dari sekadar wajahku, membuatku merasa tidak nyaman. Bahkan jakunnya terlihat naik turun saat dia menatapku. Aku segera menutup bagian tubuhku yang mungkin terlalu terekspos.
"Dasar mata jelatan, tidak bisa lihat wanita sedikit seksi saja," kataku dalam hati, kesal dengan sikapnya.
Aku tersadar dari lamunanku ketika Dito yang kini sudah ada di hadapanku. Senyumannya yang penuh arti membuatku merasa semakin tidak nyaman.
"Ada apa sampai kamu menemuiku ke sini dengan handuk itu? Apa kamu berubah pikiran untuk menggodaku?" katanya dengan nada menggoda.
Seringai di wajah Dito begitu jelas terlihat di mataku. Semua pria pikirannya hanya berputar pada logika dan kemesuman.
"Aku tidak ingin bercanda denganmu! Kenapa bajuku dipindahkan?" tanyaku, suara sedikit meninggi.
"Oh, hanya masalah itu saja. Aku kira ada masalah lain," jawabnya dengan enteng, yang justru membuatku semakin geregetan.
"Jawab pertanyaanku, kamu tidak mau lihat aku seperti ini?" aku melanjutkan, mataku menatap tajam.
"Bajumu ada di kamarku sekarang, kamu tinggal masuk saja, aku masih ada kerjaan," Dito berkata sambil melihat layar laptopnya, berusaha mengalihkan pandangannya dariku, mungkin karena aku terlihat sangat seksi dalam keadaan seperti ini.
"Kenapa kamu memindahkannya ke kamar kamu?" tanyaku, tak bisa menahan rasa kesal yang semakin memuncak.
Mataku menatap tajam ke arahnya, dan aku sudah bisa menduga apa yang akan dia katakan. Dito pasti akan menginginkan aku tinggal di kamarnya.
"Kamu sudah bisa menduganya. Kalau aku memindahkan bajumu ke kamar aku, itu artinya aku menginginkan kamu tinggal bersama," jawabnya dengan santai, seolah ini hal biasa.
"Aku tidak mau tidur bersama dengan kamu," aku menghentakkan kakinya, merasa semakin kesal. Aku memilih untuk pergi ke kamar Dito, hanya untuk mengambil bajuku kembali. Mungkin dengan begitu, aku bisa kembali ke kamarku dan menghindari hal-hal seperti ini.
Aku masuk ke kamar Dito, merasakan tubuhku yang kedinginan hanya dengan handuk kimono. Tanpa berlama-lama, aku langsung membuka lemari dan mengambil baju tidurku. Aku mengenakannya perlahan, berusaha mengabaikan perasaan janggal yang muncul.
Namun, tanpa aku sadari, ada seseorang yang mengamatiku dari belakang. Aku terkejut ketika seseorang itu tiba-tiba memelukku dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan, bodoh?!" makiku, terkejut dan kesal saat merasakan tubuh Dito melingkari tubuhku.
Aku sudah bisa menebak orang yang memeluknya itu siapa. Dia adalah pemilik kamar ini. Memangnya siapa lagi yang berani masuk kedalam ruangan ini selain dirinya dan laki-laki itu kecuali pembantu pada malam hari.
"Aku sudah membangunkan juniorku sayang," bisiknya dengan nada sensual membuatku lagi merasa geli seketika. Rupanya orang itu sudah mengetahui kelemahannya.
"Lepaskan, jangan bertindak begitu!" bentakku, berusaha mendorongnya agar dia melepaskanku.
Dito tersenyum, melihat reaksiku yang berontak. Dia tampaknya menganggap ini sebagai tantangan.
Aku bergegas untuk keluar dari ruangan itu, meski hanya mengenakan pakaian tidur yang sederhana. Aku ingin segera keluar dari situasi ini sebelum semakin sulit. Aku mencoba membuka pintu, namun ternyata terkunci, dan kini aku terperangkap di ruangan ini bersama Dito.
"Kamu mencari ini, sayang?" Dito berkata sambil memegang kunci kamar dengan senyum yang penuh arti. Pria ini memang cerdik dan sangat pintar dalam memanfaatkan situasi.
Aku mencoba untuk merebut kunci itu darinya, tetapi Dito dengan sengaja menghindarkannya, seakan tidak ingin memberikannya begitu saja.
"Kembalikan kuncinya!" kataku, berusaha tetap tegas.
"Aku akan mengembalikannya nanti pasti setalah kamu melayaniku," kata Dito membuatku merasa kesal.
"Kamu sudah punya dua wanita yang menghangatkan tubuhmu, untuk apa kamu masih membutuhkanku?"
Aku terlihat kesal ketika mengatakan hal tersebut. Ardito memang mempunyai banyak sekali wanita, jelas saja tadi yang tiba-tiba datang ke kantor dan yang tadi datang kerumahnya.
"Tapi mereka tidak bisa memuaskan aku seperti yang kamu lakukan padaku." Seringai dari wajahnya terlihat begitu jahat. Aku tidak perduli dengan hal tersebut.
Dia berusaha untuk mengambil kunci tersebut dengan diam-diam, tangannya akan merebut kunci tersebut namun, Ardika mampu membaca gerakanku
"Akh..."
Tanganku yang akan mengambil kunci tiba-tiba ditarik oleh Ardito. Senyum kemenangan kini terpancar dari pria dewasa yang jakunnya sudah bergerak maju mundur. Bagaimana tidak saat ini Amira hanya mengunakan dalamnya saja.
"Aku sudah bisa membaca pergerakanmu sayang," bisik Ardito yang kini menghempaskanku ke ranjang empuk miliknya.
Aku terus berontak saat tubuhnya sudah ditindih oleh Ardito yang kini sudah berada diatasnya dan tersenyum kerena melihat Aku yang tidak bisa melakukan apapun juga kecuali merasakan sentuhan dari dirinya.
"Nikmati saya apa yang aku lakukan," bisiknya pada telingaku sebelum akhirnya Ardito memulai aksinya padaku.
Aku hanya bisa mencoba menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara yang membuat dirinya jijik karena dijadikan wanita penghangat ranjang oleh suaminya sendiri.
"Aueeh. Hentikan Ardito!"
Ardito tersenyum menyeringai ketika aku yang lepas kendali saat dirinya sedang memakai sesuatu yang sangat indah disana. Dia melumatnya dan mempermainkannya dengan begitu penuh minat. Sedangkan aku hanya bisa manangis karena nasinya yang berbuah hancur.
BERSAMBUNG