Bab 4 Menyentuh Amira

1061 Words
Malam hari. Berada di dalam kamar sendirian. Aku mulai kepikiran dengan Dito yang menyebalkan dan malah ingin memotong gaji bulanan punyaku. Aku masih menahan diri untuk tidak menceritakan semuanya pada Pak Lucy. Kalau aku menceritakan semuanya pada ayah mertuaku. Sudah habis sekarang Dito kena marah. "Aku haus." Aku berjalan menuju tempat dimana lemari es berada. Aku mengambil air minum yang sangat dingin. Hingga tandas aku melihat kearah asisten rumah tanggaku yang terdiam dekat pintu. "Loh Bi Desi. Belum tidur?" tanyaku padanya dengan sedikit penasaran. Apa yang sebenernya terjadi dengan wanita tua itu. Tidak biasanya pembantu itu menunggu di pintu. Apa ada seseorang yang tengah dia tunggu sekarang. "Tuan belum pulang, nyonya. Makanya saya menunggu di sini," jawab Bi Desi sedikit agak takut melihatku. "Itu terlalu berlebihan, Bi. Nanti juga dia akan pulang sendiri kalau ingat punya rumah," kataku dengan santai. Aku sengaja berucap seperti itu pada Bi Desi. Untuk apa menjnggu laki-laki arogan itu di depan pintu. Aku saja sebagai istrinya ogah menunggu dia. Pasti sekarang laki-laki itu sedang bersenang-senang diluar sana sambil menghambur-hamburkan uang pada setiap wanita yang berpakaian kurang bahan. Kenapa aku terlihat seperti cemburu begitu. Otakku sudah mulai eror. Mungkin karena sekarang sudah hampir larut malam juga. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh pria arogan itu. Bi Desi bungkuk sebagai rasa hormat pada pria arogan itu. Sedangkan aku memalingkan wajahku karena tidak mau melihat wajahnya yang begitu sangat sombong. Laki-laki itu menatap tajam kepadaku seolah aku itu mangsanya. Dia berjalan mendekat kearahku membuat aku jadi semakin was-was. apa yang akan dilakukan oleh pria itu padaku. "Ikut aku!" Laki-laki arogan itu menarik tanganku tanpa perduli kalau asisten rumah tangga melihat apa yang aku dan juga dia lakukan sekarang. "Kemana?" "Kamarku!" Tunggu dulu, Apa katanya? Kamar? Awas saja kalau dia akan berbuat macam-macam padaku. Aku tidak akan segan melakukan sesuatu yang lebih parah lagi. Dia menarik tanganku dan menghempaskanku diatas kasur empuknya miliknya. Dia mengunci pintu kamarnya membuat aku semakin yakin kalau bisa saja Pria Arogan itu akan melecehkan aku dikamarnya. Eh tunggu dulu, mana ada Suami yang melecehkan istrinya dunia pasti akan kiamat sekarang. "Kamu berani melaporkan semuanya pada Papahnya!" Aku tersenyum menang, jadi dia membawakku kesini hanya karena hal itu. Aku memang sudah bilang tadi siang soal pekerjaan dikantor pada ayah mertuaku. "Kalau iya kenapa? Kamu akan marah hah? Hahahaha.." aku menertawakan dirinya. Dia pikir aku takut padanya. Aku wanita yang sangat pemberani dan tidak mau dianggap rendah oleh pria yang arogan seperti dia. "Kamu menantangku hah!" Bentaknya mendorongku hingga membuat posisiku berada tepat dibawahnya. Apa yang dia lakukan padaku? Laki-laki kurang ajar, bahkan bibirnya kini sudah menyentuh bibirku. Sial aku terus saja berontak dan tidak terima dengan apa yang dia lakukan ini. "Apa yang kamu lakukan hah, lepaskan aku." Suaraku bahkan seperti desahan dan dia tersenyum devil padaku. Ah sial apa yang barusan dia lakukan padaku. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi begitu saja. "Hei, Dito lepaskan aku!" Aku jelas membentaknya. Dia mencoba untuk merendahkan harga diriku. Tangannya mencekal kedua tanganku yang berontak. Dia menaikan keatas kepalaku mengunci setiap gerakanku. Aku tidak bisa berbuat apapun juga kecuali merasakan sensasi dari bibir yang malah bermain ditelingaku dan tersenyum devil saat mengetahui area sensitifku. "Setelah aku pikir, akan sia-sia jika aku membiarkan istriku ini tidak disentuh sama sekali. Papahku sudah memberikannya padaku dan aku akan rugi jika tidak menyentuhmu sama sekali." Seringai menyebalkan itu membuatku sangat kesal. Aku bukan barang yang bisa dilempar begitu saja. Ah tadi dia bilang istri? Aku bahkan tidak sudi menjadi istri dari Pria Arogan itu. Aku lebih memilih jadi istri kedua tuan Lucy yang baik hati itu. "Ah sial, Dito hentikan." Aku bahkan tidak tahan dengan gerakan yang begitu luar dari area sensitif punyaku, Dito sengaja memainkan jarinya dengan lembut di sana. Sehingga membuat aku tidak bisa menahan semuanya. "Diam dan rasakan sentuhanku," bisiknya dengan menggoda. Dia merobek baju yang aku gunakan dengan satu tangannya. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan?. Aku bahkan tidak bisa berontak sama sekali. Terlebih tubuhku tidak bisa menolak ketika disentuh oleh pria arogan itu. Dito malah mengikat kedua tanganku dengan dasi miliknya. Membuat aku malah tidak bisa tahan dengan semuanya. Dia sengaja melakukan itu agar aku tidak bisa gerak. "Kamu sangat seksi sekali, kenapa tidak dari dulu saja aku menjadikanmu jalangku," bisiknya ditelingaku. Sialan Dito, laki-laki itu hanya menjadikan aku sebagai jalangnya. Padahal aku adalah istri sahnya. Benar-benar menyebalkan, aku akan menyewa gigolo lebih tampan dari Dito nanti. "Aku akan mencari gigolo lebih tampan dari kamu." Belum juga aku sempet berbicara. Dia sudah membungkam bibir manisku dengan sangat kasar menggigitnya hingga membuatnya sedikit memerah. Begitu sangat perih sekali hingga aku merasakan asin. "Kamu sangat menggairahkan sekali," gumamnya pada telingaku. Aku tidak bisa melakukan apapun juga hingga dia menyentuh semua hal yang belum pernah terjamah oleh orang lain. Dia mengerakan bedanya maju mundur membuatku menikmati semuanya dan merasakan perih dibawah sana. "Rupanya kamu belum tersentuh oleh orang lain, bagus deh kalau begitu." Tandasnya sambil tersenyum. "Berengsek!" Aku memaki dirinya yang telah berani berbuat hal ini padaku. Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh kebencian sekarang. Pria arogan itu telah mengambil sesuatu yang harusnya aku berikan pada suamiku. Eh tunggu dulu, bukannya dia juga suamiku?. Tidak! Aku tidak sudi mempunyai suami yang seperti dia. Tidak punya hati sama sekali. "Nikmatilah malam ini sayang bersamaku," bisiknya dengan penuh nada yang sangat sensual. Sial aku bisa mati jika mendengar suara dia yang begitu sangat mengesalkan. "Aku tidak akan memaafkan mu!" bantaku disela gerakannya. "Memang siapa yang akan minta maaf padamu? Aku tidak akan pernah minta maaf padamu tentang apa yang telah aku lakukan ini. Kamu ingat ini adalah salah satu kewajiban kamu melayaniku w************n!" Pria arogan itu lagi-lagi merendahkanku. Aku benci sekali dengan pria ini, andai waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan sudi dijodohkan dengan pria arogan ini. Aku terpaksa menerimanya dulu karena Tuan Luky yang memintaku. Aku juga tidak bisa keluar dari perusahaan karena permintaan dari Tuan Luky. "Bahkan tubuhmu ikut bergerak sayang," kata Dito sambil tersenyum dengan penuh arti. "Sialan kamu, Dito. Aku bersumpah akan membenci kamu selamanya," kataku. "Tetapi tubuh kamu menikmatinya. Kamu yakin ingin membenciku setelah tubuh kamu terus menginginkan aku?" godanya lagi padaku. Sampai kita berdua main menuju kearah klimaks dan beberapa ronde dengan Dito, laki-laki itu memang sangat menyebalkan sekali. Aku bahkan tidak yakin kalau akan jadi seperti ini. "Sialan Dito!" Keringat membanjiri tubuh kami berdua setelah percintaan yang begitu sedikit panas dengan Dito. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD