Bab 3 Amira Merasa Kesal

958 Words
Sepertinya Dito sengaja mengerjai aku agar tidak betah dari perusahaan ini, terlebih setelah dia dengan sengaja menurunkan jabatanku. "Menyebalkan." Aku mengumpat kesal sambil membersihkan semua ruangan tempat di mana Dito berada. Awas saja kalau dia berani melakukan sesuatu yang aneh. Aku tidak akan datang memberikan dia pelajaran. Lihat saja nanti Dito, aku akan memberikan pelajaran. Sampai diam-diam aku mendengar kalau dia tengah menelpon seseorang. Aku bisa mendengar suara dia dan pembicaraan dia diam-diam. "Iya Alex." "Kamu jadi kan untuk datang ke klub malam hari ini?" tanya Alex. Diam-diam aku mendengar percakapan tersebut, aku tahu kalau Alax adalah teman dari Dito, tetapi untuk apa dia ingin bertemu di klub malam? Jangan bilang kalau mereka akan mencari perempuan. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi nanti. "Iya jadi dong. Nanti habis dari kantor aku akan ke sana." "Baiklah, bro. Aku tunggu." "Kalau begitu aku tutup dulu yah. Ada yang menguping soalnya," kata Dito. Seketika aku langsung menjauhkan diri dari laki-laki itu. Terlebih laki-laki itu ternyata sangat peka sekali. Aku memang tengah mendengar percakapan dirinya. "Kamu menguping?" tanya Dito. Aku langsung menatap dirinya dengan tajam. Jelas aku tidak terima dengan perkataan dia barusan. Bahkan aku sendiri pun tidak yakin. "Siapa juga yang menguping, orang kedengaran kok, ngapain mau ke sana?" tanyaku dengan sedikit kepo. "Bukan urusan kamu, kalau pun aku mau bertemu dengan wanita seksi di sana, juga bukan urusan kamu. Apa kamu lupa kalau kita menikah karena perjodohan ayahku, jadi jangan mengharapkan apapun," ujar Dito seolah memberikan aku sebuah peringatan. "Memangnya apa yang aku harapkan? Tidak ada tuh!" balasku dengan tidak terima. Tidak ada untungnya aku menikah dengan dia, bahkan aku malah diturunkan jabatan sekarang. Dari seorang sekretaris sekarang jadi pegawai biasa dan malah sekarang makin rendah lagi karena harus melakukan kegiatan yang biasa OB lalukan. Yaitu membersihan ruangan kantor. Walaupun yang aku bersihkan itu adalah ruangan Dito, tetapi tetap saja ini adalah pekerjaan yang sedikit rendah untuk aku yang memang wanita karir. Belum lagi aku tahu alasan Dito melakukan itu semuanya padaku. Yaitu agar aku bisa mengundurkan diri dari perusahaan keluarganya. Sungguh menyiksa sekali bekerja di tempat yang seperti ini. "Buatkan aku kopi!" "Tapi Pak Dito..." "Aku tidak terima penolakan!" Sialan dia, malah menyuruh aku melakukan hal itu. Awas saja yah aku akan memasukan garam pada kopinya. Enak saja dia malah mengerjai aku dengan seperti itu. Jelas aku tidak akan terima dengan hal ini. Saatnya membalas semuanya. "Baik akan saya buatkan." Aku langsung keluar dari ruangan tempat di mana Dito berada. Sebenernya aku merasa sedikit kesal, tetapi untuk saat ini, aku berusaha untuk melakukan semuanya dengan baik. Sampai tak lama kemudian, Gita datang menghampiri diriku dengan sekilas. "Kamu ngapain bawa alat bersih-bersih seperti itu?" tanya Gita yang terlihat heran. Aku menjawab dengan kesal. "Kamu tahu, Dito semakin semena-mena saja padaku. Dia bahkan menyuruh aku untuk membersikan ruangannya. Sekarang dia juga menyuruh aku membuatkan kopi untuknya!" kataku berkeluh-kesah pada Gita. Hanya Gita yang memang tahu dengan kondisi aku sekarang. Bahkan aku sendiri pun tidak menyangka akan jadi seperti ini. "Kenapa bisa seperti itu?" tanya dia dengan heran. "Aku sendiri juga tidak tahu. Pokonya aku kesal dengan semuanya." "Kamu yang sabar saja. Nanti juga pasti dia akan luluh sama kamu, terlebih kamu adalah istrinya," ujar Gita. Aku memutar bola mata dengan jengah. Rasanya tidak mungkin kalau laki-laki seperti itu akan luluh. Terlebih walaupun dia adalah suamiku, tetapi kita menikah kontrak. Tentu saja pasti hubungan antara aku dengan dia kurang baik. Semuanya jadi akan susah dan malah jadi akan sulit. "Tidak!" kataku dengan nada yang sedikit kesal. Bahkan aku sendiri pun tidak tahu kalau pada akhirnya akan jadi seperti ini. Belum lagi dengan hubungan aku dengan dia. "Kenapa?" tanya Gita heran. "Sudahlah, aku buat kopi dulu. Sebelum dia nanti malah mengamuk," kataku pada Gita. Gita hanya mengangguk saja, lalu dia terlihat tengah memperhatikan aku yang memang sedang membuat kopi. Setelah aku memasukan kopi kepada gelas tersebut. Sampai tiba-tiba Gita melotot saat aku hendak akan memasukan garam ke dalam minuman tersebut. "Tunggu, Amira." "Kenapa?" tanyaku heran ketika Gita menghalangi aku. "Kamu tidak salah memasukan bukan?" tanya Gita padaku. "Tidak kok," jawabku dengan tenang. "Kamu memasukan garam ke dalam minuman itu, harusnya kamu memasukan gula," kata Gita yang sedikit panik. Terlebih dia tahu aku akan memberikan minuman ini untuk siapa. Aku menepuk pundaknya dengan lembut agar dia merasa lebih tenang sekarang. "Aku memang sengaja memasukan garam ke dalam minumannya," jawabku dengan santai. Gita menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakukan dari diriku. "Kamu memang memancing Pak Dito marah yah?" "Tidak kok, dia aja yang ngeselin," jawabku dengan singkat. Memang benar kalau Dito menyebalkan, ini adalah salah satu pembalasan untuk dirinya. Terlebih setelah dia yang membuat aku malu. "Yaudah deh. Aku gak ikutan." Dia hanya mengatakan itu dengan sekilas. Aku juga tidak ikut campur dengan hal ini. Sampai tak lama kemudian, aku teringat akan sesuatu sekarang. Aku akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tempat di mana Dito berada. Aku mengetuk pintu terlebih dulu. Sampai tak lama kemudian, aku berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut. "Permisi Pak Dito, ini minumannya." Aku menaruh minuman tersebut di meja. Sampai tak lama kemudian, Dito mengambil gelas tersebut dan dia mencoba untuk mencicipinya. Dia langsung menyemburkan lagi minumannya dan dia langsung mengebrak meja dengan sedikit marah. "Kamu sengaja memasukan garam ke dalam minuman ini!" ujar Dito yang terlihat marah. Aku hanya tersenyum dengan penuh kebahagiaan setelah mendengar hal tersebut. Terlebih aku tahu kalau semuanya jadi seperti ini. "Kalau iya, memangnya kenapa?" "Kamu benar-benar sengaja. Kalau begitu gaji kamu bulan ini aku potong!" Dito terlihat sangat mengancam diriku dengan seperti ini. Bahkan aku tidak yakin kalau akan jadi begini sekarang. "Pak Dito gak bisa begitu dong!" "Aku pemimpin perusahaan di sini, jadi bebas kalau akan melalukan apapun!" katanya dengan sedikit arogan. Aku hanya bisa menghentakan kaki dengan kesal. "Suami Arogan Menyebalkan!" BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD