61

1406 Words

“Bak Yeye na (Mbak Rere mana)?,” tanya Niel karena tak melihat Resti berada di meja makan. “Nggil apan (Panggil sarapan),” ujar anak itu lagi. Amel menatap para anggota sarapan kali ini. Tak ada satupun manusia bersuara. Astaga! Bahkan orang-orang dewasa ini takut pada kemarahan Niel. Sungguh tak bisa diharapkan. “Nggil Bak Yeye (Panggil Mbak Rere)!,” sekali lagi Niel mengulang titahnya. Masih nggak ada yang nyuara?! Astaga! Bener-bener deh! Amel menuangkan s**u ke dalam gelas kecil Niel. Ia membelai rambut sang putra sebelum mengatakan jika untuk beberapa saat dirinya tak akan mungkin melihat Rere di rumah. “Napa?” Bukan Niel memang jika tak banyak tanya. Karena sudah sangat mengenal karakter tuyul yang ia lahirkan dengan bertaruh nyawa, Amel kembali mengulurkan rasa sabar. “Mbak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD