Hasan membanting botol bir ditangannya. Ia sudah berulang kali mencoba menghubungi Resti, tapi gadisnya itu bahkan tak mau mengangkat telepon darinya. Hasan kecewa. Ia merasa dikhianati setelah melihat Resti dengan gampangnya ikut masuk ke dalam mobil salah salah satu cucu dari pemilik universitasnya. “Kenapa kamu lakuin ini, Sayang?!” Hasan membelai potret Resti dalam ponselnya. “Apa salah aku, hem?!” ia berbicara seolah Resti benar ada dihadapannya. “Kenapa tega khianatin aku gini?” racau Hasan. Bagi Hasan, Resti tak pernah salah. Meski laki-laki itu murka sekalipun melalui pesan singkat media online, nyatanya di otak Hasan Resti tak pernah cacat. Orang lain lah yang bersalah. Ia selalu mengira jika Resti pasti telah dipengaruhi oleh pihak ketiga. “Sayang.. Kamu nggak salah. Victor

