Hanggono Tirto tak melangkahkan kakinya meski Resti dan Hasan telah meninggalkan laki-laki itu. Tangannya melambai, memanggil Alex agar mendekat. “Kamu jangan anggap serius omongan istri saya ya, Lex! Gila apa! Masa cucu saya yang muda itu nanti nikah sama kakek-kakek sih!” ujar Hanggono tak sadar diri. Sepertinya laki-laki itu membutuhkan kaca yang sangat besar. “Saya mengerti Pak. Hal tersebut tentu tidak akan terjadi.” “Good! Bagus Lex!” Hang menepuk-nepuk pundak Alex. “Kamu yang sabar, ya! Patah hati memang kejam. Tiga tahun lalu saya juga rasain kok.” sekilas perkataan Hanggono ini mirip sebagai curhatan pribadi meski sudah terlewat sangat lama. Hanggono meninggalkan Alex di depan kamar perawatan Rara. Hanggono tahu Alex pasti tak memiliki daya yang cukup karena harus melihat wa

