Malam telah tiba. Di dalam kamar tanpa penerangan- karena sengaja penghuninya matikan, Amel tetap terjaga. Ia sedikit mengangkat tubuh, melihat Hanggono yang lagi-lagi terlelap sangat damai. Semua ucapan laki-laki itu adalah dusta. ‘Malam nanti?!’ Cih! Amel harusnya tak percaya. Apalagi ketika bibir Hanggono sudah maju-maju seperti bebek. Amel kalah. Meski mengajukan protes seribu kali, meracau kesal setiap detik- dirinya akan terus terbuai. “Nyenyak banget..” gumam Amel sembari memainkan jemari di da*da berbulu tebal Hanggono. Tok.. Tok.. Tok... “Ibu.. Ibu... Bapaak!!” Amel bangkit. Ia menghembuskan nafas. Teringat jika dirinya tak membawa pakaian layak. Satu-satunya penutup tubuh sudah Hanggono rusak dengan kebrutalan laki-laki itu. “Ibu!!” “Ya..” teriak Amel dari dalam agar si pen

