162

1108 Words

Sukmana Tirto membuka mata. Ia menoleh ke kanan, melihat putranya yang tertidur lelap. Tak terasa air mata Sukma mengalir begitu saja. Waktu yang tersisa akan semakin dekat dan Sukma tak siap kehilangan Hanggono. Tapi hidup terlalu lama di dunia juga tak menyenangkan. Sukma telah melihat banyak sekali hitam dan abu-abu. Ia sendiri bukan manusia bersih. Tangannya juga berlumuran darah. Neraka mungkin telah menantinya untuk kembali. ‘Hanggono akan baik-baik saja,’ batin Sukma meyakini jika putranya akan baik-baik saja. Ia telah memilihkan pendamping terbaik. Membangun kerajaan bisnis meski tak sepenuhnya atas usaha dirinya karena Hanggono memiliki andil besar dalam membuat megah perusahaan peninggalan suaminya. “Anak lanangnya Ibu..” lirih Sukma. Ia membelai rambut Hanggono hingga laki-lak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD