130

1166 Words

Amel memejamkan mata. Giginya bergemeletuk dengan telapak tangan mengepal. Ia lupa jika ibu mertuanya mudah sekali untuk disogok. “Astaga!” nafas Amel terengah. Ia tadi berlari kecil dari tempat persembunyian menuju kamar yang dirinya tempati. “Ibu murah banget sih..” kesal Amel. Tahu begitu tadi Amel menawari ibunya sogokan lebih dulu supaya nggak bocor. “Mah.. Gimana ini terus?!” Resti ikut panik. “Kalau Papa tahu Resti bantuin Mama, habis Mbak Mah.” Ujar gadis itu membuat mata Amel membeliak. Ia mencium bau-bau pengkhianat baru. “Mbak..” peringat Amel. “kita keluar aja ya, Ma.. Ah! Mbak aja yang keluar Mama sembunyi di dalem.” Pekik Resti seperti sedang menemukan ide bagus agar semua aman. At least dirinya bisa aman dulu. Keluar dari kamar gitu. “Mbak nggak mau ikutan urusan Mama s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD