BAB 5

1405 Words
Serangan mendadak itu membuat mata Elaina membesar. Tubuhnya bereaksi spontan, seolah ia lupa cara bernapas. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, dan suara detaknya seakan terdengar jelas di telinganya sendiri. Satu ciuman panas mendarat di bibirnya, berlanjut dengan lumatan yang membuatnya terengah. Nafasnya tersengal, tubuhnya kaku, dan ia segera mengangkat tangan ke depan d**a. Dengan sekuat tenaga, Elaina mendorong tubuh Alister agar menjauh darinya. Dorongan itu berhasil menciptakan jarak, meski tubuhnya masih bergetar. Elaina mengusap bibirnya dengan tangan, merasakan sisa sensasi yang membuatnya semakin tidak tenang. Suaranya keluar dengan gemetar, penuh ketegangan. Ia berusaha mengucapkan kata-kata, meski lidahnya terasa berat. Tatapannya tertuju pada Alister, menuntut penjelasan atas tindakan yang baru saja terjadi. “Pak, apa-apaan ini?” tanyanya. Alister tersenyum. “Ciuman selamat pagi. Kamu sudah memanggilku, Pak. Berarti sudah ingat yang kita lakukan tadi malam?” Senyuman dan binar mata Alister mampu membius Elaina. Tubuhnya berdiri dengan kaku, terpaku pada satu posisi dengan wajah yang memerah. Memegang ujung handuknya agar tidak terlepas. la menatap wajah Alister yang tampan, dengan bulu tumbuh menutupi d**a. Ada tato di lengan dan memanjang sampai ke pinggang. Tidak mengerti apa makna dari tato itu. la mengingat, tadi malam mengusap d**a berbulu itu dengan penuh gairah. “Pak, apakah kita saling kenal?” Alister mengangguk. “Dari tadi malam. Kamu ingat siapa namaku?” Masih dengan senyuman tipis terulas di bibirnya, membentuk lesung pipi samar yang tertutup bulu halus. Elaina berusaha mengingat lalu mengangguk perlahan. “Alister.” “Kamu ingat juga apa yang kamu lakukan di hotel?” Elaina lagi-lagi mengangguk. “lya, mendatangi pernikahan Fidell.” Lirih suaranya menjawab setiap pertanyaan Alister “Siapa dia?” “Ma—mantan tunangan.” Alister mengulum senyum. “Kamu datang ke pernikahan mantan tunanganmu. Mengamuk sambil mabuk. Kalau bukan aku yang membawamu kemari, bisa-bisa kamu dilempar petugas keamanan di lobi hotel karena mengacau. Apa kamu ingat?” Elaina menggigit bibir dan memejamkan mata. Ingatannya kembali pada kejadian malam sebelumnya. Ia mendesah pelan, menyesali keputusan yang diambil. Alkohol yang ia gunakan untuk menambah keberanian justru membuatnya kehilangan kendali. Niat awalnya hanya ingin melampiaskan amarah kepada Fidell, tetapi sebotol Vodka Martini mengubah segalanya. Ia sadar tindakannya semalam tidak sesuai dengan rencana. Alkohol membuat pikirannya kabur dan tubuhnya tidak mampu menolak dorongan sesaat. Elaina merasa malu pada dirinya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan akan berada dalam keadaan seperti itu. Namun, di balik penyesalan, ia juga mengakui satu hal. Jika bukan karena Alister, mungkin ia sudah terlantar di jalanan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika pria itu tidak menolongnya. Pikiran itu membuatnya bergidik. Alister benar, kehadirannya malam itu menyelamatkan Elaina dari kemungkinan buruk. Elaina menunduk, suaranya nyaris tidak terdengar ketika ia menggumamkan ucapan terima kasih. Kata-kata itu keluar lirih, seolah hanya ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia tahu, ucapan itu tidak cukup untuk membalas bantuan yang sudah diberikan. Namun, setidaknya ia mengakui bahwa dirinya berhutang pada pria itu. Alister mengangkat dagu Elaina, mengamati gadis yang mendadak terlihat sendu. “Fidell menyakitimu?” Elaina mengangguk lalu terbelalak. “Pak, kenal sama Fidell.” “Ah, aku kerja di perusahaan Cakrawala Group.” “Oh, begitu. Berarti tadi malam juga dapat undangan?” “Tentu saja, makanya ketemu kamu.” Elaina mendesah, mengusap rambutnya yang basah. “Pasti aku memalukan semalam.” “Sedikit, untung aku membawamu dari sana sebelum kamu bertindak lebih jauh.” Alister melangkah ke atas lemari, membuka dan mengambil handuk kecil lalu memberikannya pada Elaina. “Rambutmu basah, gunakan ini.” Elaina menerima dengan senyum. Ingin duduk tapi merasa canggung berada di dalam kamar dengan pria asing dalam keadaan setengah telanjang. Alister mendekat, membuat jantung Elaina kembali berdetak tak menentu. “Apa kamu ingin aku bantu?” Perkataan Alister membuat Elaina mendongak. “Bantu dari apa?” “Membalas perlakuan Fidell.” Mata Elaina menyorot kebingungan, ia tidak paham arah pembicaraan Alister. Untungnya Alister segera memahami kebingungan Elaina. Dari sorot matanya, Elaina seolah berkata ‘Bagaimana bisa pria di depannya ini membantunya?’ Alister tersenyum. “Tentu saja bisa. Tapi, kita akan melakukannya dengan caraku. Seperti dua manusia dewasa yang saling membutuhkan.” Jemarinya berada di d**a Elaina, mengusap lembut kulit gadis itu. “Jangan mabuk lagi. Kamu berbahaya kalau sedang mabuk. Tadi malam, kalau aku mengambil kesempatan, saat ini kamu sudah berbaring di atas ranjang dalam keadaan lelah karena bercinta.” Elaina merona, dadanya berdebar karena malu. “Aku bukannya tidak mau.” Alister mendekat, hingga tubuh mereka bersentuhan. “Kamu cantik dan sexy. Tapi, aku ingin melakukannya dalam keadaan sadar. karena itu, kita akan membuat perjanjian untuk membantumu balas dendam.” Elaina mendesah, menggigit labium bawahnya. Kulitnya terasa gatal karena sentuhan Alister dan juga embusan napasnya. la menelan ludah, bertanya gugup. “Apa itu berarti ki-kita harus tidur bersama?” Alister mengangguk tanpa ragu. “Tentu saja. Sebagai sepasang kekasih. Meskipun niatmu untuk menjadikanku pasangan adalah demi balas dendam, tapi aku tidak peduli. Kita akan bersikap layaknya pasangan dewasa yang berpacaran. Apa kamu mengerti?” Elaina menatap Alister dengan bingung. Tidak mengerti harus bagaimana. la memang merasa marah dan kesal pada Fidell, tapi membalas dendam dengan berpura-pura pacaran dengan pria lain, apakah itu setimpal? Lagi pula, Alister menegaskan hubungan yang dewasa. Berarti mereka bukan hanya sekedar ciuman tapi juga tidur bersama. Apakah ia bisa melakukannya? “Kamu tidak harus menerimanya. Pikirkan saja dulu. Ngomong-ngomong, gaunmu robek. Aku harap punya sesuatu untuk kamu pakai.” Alister membuka lemari dan menunjukkan isinya. “Hanya ada kaos dan kemeja.” Elaina menatap isi lemari yang rapi dan menunjuk kemeja biru berlengan pendek. “Bisakah aku pinjam itu?” Alister mengambil kemeja yang ditunjuk dan mengulurkannya pada Elaina. “Pakailah, aku tunggu di ruang makan. Ada sarapan untukmu.” Elaina memakai kemeja dengan gemetar. Untung saja bra dan celana dalamnya tidak kotor. la menatap sedih pada gaunnya yang robek dan penuh tanah di bagian bawah. Mengusapnya perlahan. Gaun ini dibelikan oleh Fidell saat mereka bertunangan. Gaun yang indah, sangat pas ditubuhnya. Sayangnya, kebaikan pria itu tergerus oleh waktu. Elaina mendesah, kembali merasakan sakit hati. la berdiri di depan cermin, menatap bayangannya yang terlihat kusut dalam balutan kemeja besar yang menutupi tubuh sampai ke pangkal paha. Memang bukan pakaian yang layak, tapi setidaknya menutupi sebagian. la menyadari kalau hari ini Fidell bukan lagi kekasihnya, sudah menjadi suami wanita lain. Lalu, apa yang dilakukannya sekarang? Meratapi diri karena diputuskan tanpa penjelasan. Ditinggal menikah saat dirinya masih sayang? Elaina merasa dirinya hanya wanita bodoh yang meratapi cinta. Meraih tas miliknya yang berada di atas nakas, dengan perlahan membuka pintu. Ternganga takjub dengan interior apartemen yang sangat mewah. Di langit-langit tergantung lampu kristal yang indah, ada sofa besar dengan meja kotak. Tidak ada dinding, melainkan jendela kaca dengan gorden terbuka yang menunjukkan langsung pemandangan kota. Ada tanaman hias di sudut, ia tidak tahu itu tanaman apa. Di samping sofa ada ruang makan dengan furnitur kayu yang tebal dan elegan. Dapur bersih yang sepertinya tidak pernah digunakan. Luas, terang, elegan, dan mewah, adalah kesan dari tempat ini. “Sepertinya ini penthouse, bukan apartemen biasa,” ucap Elaina saat Alister muncul dari ruang samping. Alister mengangguk. “Benar.” “Apakah kamu tinggal di sini, Pak?” tanya Elaina. “Hanya sementara, penthouse ini pinjaman. Sama seperti mobil yang aku pakai, itu milik perusahaan.” “Ternyata begitu.” “Ayo, duduk. Makanan sudah di atas meja.” Mereka duduk berhadapan di meja panjang. Elaina membuka kotak dan tersenyum saat mendapati ada sandwich, salad buah, serta beberapa roti bawang. la menyukai makanan-makanan ini, entah bagaimana Alister bisa membaca pikirannya. la menggigit sandwich dan menyukai rasanya yang gurih. Campuran ikan tuna, mayonaise, dan sedikit saos sambal adalah hal ternikmat untuk disantap pagi hari. Alister makan burger dengan isian daging. Terlihat sangat lahap. “Temanmu baik, Pak,” ucapnya. Alister mendongak. “Kenapa?” “Meminjamkan tempat semewah ini.” “Iya, dia baik. Habiskan makanmu, banyak yang harus kita bicarakan. Aku tidak mau kamu pingsan karena kelaparan.” Mereka makan dalam diam. Elaina mencuri-curi pandang, mengamati Alister yang sedang makan sambil membaca sesuatu di Ipad. Pria itu menawan, matanya sepertinya bukan hitam melainkan coklat. Pria tampan dan lajang, apakah Alister seorang manager di kantor Cakrawala? “Elaina...” “Iya, Pak.” “Jangan mengamatiku, kamu bikin aku ingin buka baju.” “Hah, kenapa?” “Karena diamati dalam keadaan telanjang akan lebih jelas hasilnya.” Elaina menunduk, tidak lagi memandang Alister. la berkata dalam hati, untuk berhati-hati terhadap pria di depannya. Entah kenapa Alister seolah bisa membaca pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD