BAB 4

1313 Words
“Kamu menyukainya?” “Sangat. Tapi, sekarang aku mengantuk.” Setelah membuat Elaina terbang, Alister ditinggalkan begitu saja menggantung. Masih dalam pengaruh Vodka Martini-nya, Elaina menyudahi sesi panasnya dengan Alister seolah mereka baru saja memainkan permainan poker. Elaina melepaskan tangannya dari wajah Alister, meringkuk di sofa dan tak lama mendengkur halus. Masih dalam keadaan telanjang. Alister menghela napas lega, menatap gadis yang kini tertidur pulas. Gairahnya menguap seketika. Dengan perlahan ia mengangkat tubuh Elaina dan membawanya ke atas ranjang. Menyelimutinya dan mematikan lampu. Alister melihat jam di tangan dan mengernyit saat menyadari kalau waktu ternyata mendekati tengah malam. Meraih ponsel di atas meja dan melihat ada banyak pesan masuk serta panggilan telepon dari beberapa orang. la mengabaikan mereka, hingga satu panggilan kembali datang. la menerimanya kali ini. “Ya.” “Pestanya sudah selesai, Tuan.” “Mereka sudah pergi?” “Sudah, hanya tersisa para tamu undangan yang mabuk dan pekerja.” “Baiklah. Kamu boleh kembali.” Alister teringat sesuatu. “Tunggu, bisakah kamu membantuku mencari sepatu warna kuning keemasan?” “Sepatu, Tuan?” “lya, bagian kanan. Kamu coba cari di sekitar pelaminan, mungkin ada di sana.” “Siap Tuan.” Selesai menelepon, Alister segera menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower dan membiarkan air menyiram tubuhnya. Senyum tipis muncul tanpa ia sadari, teringat pada momen ketika dirinya mencumbu Elaina. Bagi Alister, itu bukan hal yang biasa. Ia bukan pria yang mudah mendekati wanita, apalagi bermain cinta dengan sembarang orang. Namun, Elaina berbeda. Alister dikenal sebagai sosok dingin yang menjaga jarak dari banyak wanita. Ia hanya membuka diri pada mereka yang benar-benar ia inginkan. Elaina termasuk dalam kategori itu. Sejak pertama kali bertemu, ketertarikan sudah tumbuh. Kini, setelah kedekatan mereka semakin nyata, Alister merasa tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Baginya, langkah berikutnya adalah membuat Elaina sadar bahwa pertemuan mereka bukan kebetulan. Ia ingin gadis itu mengerti bahwa hubungan mereka memang ditakdirkan untuk bersatu. Keyakinan itu terus menguat dalam pikirannya. Meski begitu, Alister juga menyimpan kekhawatiran. Ia tahu bahwa identitas dirinya yang sesungguhnya bisa mengejutkan Elaina. Harapannya sederhana, semoga gadis itu tidak memilih untuk lari ketika mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Alister bertekad menghadapi risiko itu, karena baginya Elaina adalah satu-satunya wanita yang layak ia perjuangkan. Selesai mandi, Alister memesan makanan dari restoran apartemen. Ia menoleh sebentar ke arah Elaina yang tertidur pulas di kamar. Dari suara dengkuran halusnya, ia menilai gadis itu tidak akan bangun malam ini. Ia memperkirakan esok Elaina akan terbangun dalam keadaan linglung. Karena itu, ia memutuskan untuk memesan makan malam sekaligus sarapan untuk besok, dengan tambahan menu soup pereda pengar. Dalam hati, Alister sempat bertanya-tanya berapa banyak Vodka Martini yang sudah diminum Elaina hingga membuatnya tertidur begitu lelap. Saat berada di ruang tamu, pandangan Alister tertuju pada gaun yang tergeletak di lantai. Ia memungutnya dan memperhatikan detailnya. Gaun itu bukan jenis mahal yang terbatas edisi, tetapi juga bukan gaun murah yang biasa dipakai sehari-hari. Alister bertanya-tanya apakah Elaina sengaja memilih gaun itu untuk menghadiri pesta. Pertanyaan itu berputar di kepalanya, meski ia tidak menemukan jawaban pasti. Ia kemudian meraih bra dan celana dalam milik Elaina yang juga tergeletak. Alister membawanya ke kamar, berjaga-jaga kalau gadis itu mencarinya nanti. Ia tahu, ketika Elaina terbangun dan menyadari dirinya tanpa busana, benda-benda itu akan menjadi hal pertama yang dicari. Setelah menuntaskan makan malamnya, Alister beralih ke ruang kerja. Ia menyelesaikan beberapa pekerjaan hingga melewati tengah malam. Rasa lelah akhirnya membuatnya kembali ke kamar. Ia merebahkan diri di samping Elaina, menatap wajah gadis yang tertutup sebagian oleh selimut. Jemarinya mengusap pipi dan bibir Elaina, lalu tersenyum simpul sebelum memejamkan mata. “Harusnya, kamu tidak mambiarkan alkohol menguasaimu dan mengendorkan kewaspadaanmu, Elaina, Kenapa bodoh sekali? Apa patah hati membuatmu jadi linglung? Pastikan ini adalah terakhir kalinya kamu mabuk karena patah hati! Semoga saja, hanya sama aku kamu begini.” Setelah itu, ia mulai terlelap. Jatuh dalam bayang kelelahan dengan tangan berada di kepala Elaina. *** Elaina mengerang, tubuhnya terasa pegal-pegal. la tidak tahu apa yang dilakukannya tadi malam, sampai sekujur tubuhnya nyeri. Bisa jadi karena kerja yang terlalu lama, dan akhirnya membuatnya kelelahan. Tanpa sadar ia tersenyum, masih dengan mata tertutup. Menarik selimut untuk menutupi tubuh, mengirup aroma dari kain linen dan membuka mata. Ini bukan aroma parfumnya. Menatap langit-langit kamar, jendela, dan menyadari kalau tidak tidur di kamarnya sendiri. Saat itulah ia mendapati ada sosok lain di dalam kamar. Elaina menatap bingung pada punggung telanjang seorang pria, yang berdiri menghadap jendela. Pria itu tidak menyadari kalau dirinya sudah bangun. Siapa dia? Kenapa ada di kamar yang sama dengannya? la berusaha duduk dan merasa kalau kepalanya sangat nyeri dan perutnya mual. Menggelengkan kepala, ia mengingat tentang sebotol minuman dan juga bir yang ditenggaknya tadi malam. Semua alkohol itu membuatnya lupa diri, dan tidak menyadari apa yang selanjutnya terjadi. Hal terakhir yang ia ingat hanyalah dendamnya kepada Fidell, sang mantan tunangan yang telah mengkhianatinya. la menutup mulut, menahan mual. Sepertinya pengaruh Vodka Martini belum sepenuhnya hilang. la meraba selimut, dan menyadari tubuhnya telanjang. Rasa panik menyerangnya hingga tanpa sadar mendesah. Matanya mengelilingi seluruh penjuru kamar, mencoba mencari keberadaan pakaiannya. Pria itu menoleh, membalikkan tubuh dan tersenyum. “Selamat pagi, Elaina. Apa tidurmu nyenyak?” Elaina menelan ludah, duduk dengan segera dan memekik saat selimutnya melorot, menunjukkan bagian atas tubuhnya yang telanjang. Buru-buru ditariknya ujung selimut ke atas untuk menutup bagian atas tubuhnya yang terekspos. Meskipun itu sia-sia, karena mengingat dirinya yang tanpa busana bisa dipastikan mereka telah melewati sesuatu malam tadi. “Di—di mana ini? Siapa kamu?” tanya terbata. Suaranya sarat dengan rasa takut. “Ckckck, bisa-bisanya kamu lupa, Elaina. Padahal, baru tadi malam kita bercinta dengan penuh gairah.” Melihat Elaina melongo, Alister menahan senyum. Ternyata gadis di depannya ini memang sangat menggemaskan, baik saat mabuk atau saat sadar. Mendekat ke ranjang, mengusap bahu dan dagu Elaina. la mengabaikan rasa enggan gadis itu. “Kenapa? Takut?” Elaina mengangguk, dan menggigit labiumnya. Pria yang bertelanjang d**a itu, kini tersenyum dan mendekatkan wajahnya. “Jangan jahat Elaina. Jangan melupakanku setelah kamu mendapatkan tubuhku.” Elaina memucat. “Apaa?” “Padahal, kita b******u dengan sangat liar.” “Bohong!” Elaina terbelalak, berteriak keras, dan berusaha menyangkal apa yang baru saja disadarinya. Namun, rasa mual di perutnya tidak bisa ditahan. Ia segera menyingkirkan tubuh pria itu, lalu berlari terburu-buru menuju toilet tanpa menyadari bahwa dirinya dalam keadaan telanjang. Tubuhnya gemetar ketika menunduk di atas kloset, memuntahkan seluruh isi perut. Tidak ada makanan yang keluar, hanya cairan pahit yang membuat tenggorokannya perih. Setelah selesai, Elaina bangkit dengan langkah goyah dan berdiri di depan wastafel. Pandangannya tertuju pada tubuhnya sendiri yang telanjang. Ia mengernyit ketika melihat leher dan bahunya memerah. Tangannya terangkat, mengusap bagian itu, dan seketika ingatan tentang kejadian malam sebelumnya muncul kembali. Potongan-potongan memori membuatnya semakin resah. Jeritan keluar dari mulutnya, menyadari betapa dirinya telah kehilangan kendali. Ia ingat bagaimana dirinya ingin dicium dan dicumbu oleh pria yang bahkan tidak dikenalnya. Kesadaran itu membuatnya semakin malu. Pantas saja ia terbangun tanpa busana. Situasi ini lebih parah daripada yang semula ia bayangkan. Elaina mencoba menenangkan diri. Ia membuka pancuran air, masuk ke dalam shower, lalu mulai mandi. Ia merasa perlu membersihkan tubuhnya sebelum berbicara dengan pria itu. Selesai bersabun dan keramas, Elaina baru menyadari bahwa ia tidak membawa pakaian ganti. Ia berdiri bingung di dekat pintu kamar mandi, memikirkan cara untuk meminta tolong. Ujung matanya kemudian menangkap tumpukan handuk di atas rak. Ia meraih salah satunya dan membalut tubuhnya. Handuk itu hanya menutupi bagian d**a hingga paha, tetapi cukup membuatnya tidak lagi telanjang. Elaina menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia membuka pintu kamar mandi perlahan. Di dalam kamar, pria itu berdiri di dekat ranjang. Begitu melihatnya keluar, pria itu segera menghampiri dengan senyum yang jelas terlihat di wajahnya. Elaina menegang, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. “Elaina, segar sekali kamu habis mandi.” Sebelum Elaina sempat menjawab, Alister menyambar tubuhnya dan melumat bibirnya. Elaina terpana, sampai lupa untuk bicara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD