2. —Hidup Seperti Drama

1441 Words
Sudah dua bulan sejak Rima meninggal. Sudah selama itu juga Zana diam dan tidak melakukan apapun yang terkait dengan pekerjaannya. Ia tidak menerima jadwal apapun. Tidak ada pemotretan, tidak ada jadwal show, tidak ada apapun. Seharusnya template di Indonesia, di dunia entertainment Indonesia, saat sebuah berita atau skandal muncul, membuat geger dan memicu rasa penasaran netizen. Pola biasanya yang Zana tahu, itu akan menjadi ajang aji mumpung. Terkenal dan meledak jalur skandal. Seharusnya jadwalnya makin padat oleh undangan acara bincang-bincang, undangan acara gosip, sampai harus menghadiri beberapa podcast para youtuber top. Klarifikasi sana-sini, jual berita dan cerita sedih di mana-mana. Tapi tidak terjadi padanya. Semuanya sepi. Senyap. Tidak ada sorotan apapun untuk kasusnya. Sampai konsernya diundur. Sampai tidak ada jadwal apapun untuk dirinya. Sepertinya sekarang, ia tahu alasannya. Zana menoleh pada Brama. Brama yang terlihat menahan diri untuk tidak menjawab Zana atas pertanyaannya tadi. “Gue jadi target korban selanjutnya, kan?” tanya Zana lagi. Ia menyeringai kecil. “Apa yang kalian lakukan sama kerjaan gue juga buat bikin gue down, kan?” “Saya bukan Braja. Saya hanya akan menawarkan kesepakatan.” Mata Zana memicing, ujung bibirnya terangkat, “Braja yang ngririm lo buat ngelakuin ini, kan?” “Benar.” Brama mengangguk. “Oh, main jujur?” tanya Zana. Brama menoleh sekilas pada Zana, “Dari awal saya sudah jujur padamu.” “Jadi lo mengakui kalau semua yang terjadi sama gue sampe saat ini adalah karena lo?” “Benar.” “Ilangnya kerjaan gue juga karena elo?” “Ya.” Zana menghela napas sebal, “Jangan lo pikir lo beda sama Braja! Kalian sama aja!” “Tapi saya tidak berniat berbuat yang sama dengan Braja.” “Bullshit! Nyatanya semua yang terjadi sama gue selama dua bulan ini adalah ulah lo!” Sejak panggilan pertama kepolisian padanya, sejak ia diminta datang untuk memberikan kesaksian, sejak saat itu juga Swara memberi hiatus padanya. Alasannya, katanya supaya ia fokus pada pemeriksaan. Meskipun nyatanya lebih dari itu. Lebih dari sekedari hiatus. Ia benar-benar merasa dibuang. Padahal ia hanya menjadi saksi dari kasus seorang yang sudah baik dan menganggapnya sahabat selama di dunia hiburan ini. Waktu berkabungnya untuk Rima Nanda benar-benar dibuat berantakan akibat berita-berita yang menggiring opini yang terus menyudutkannya. Berita-berita yang menuntutnya perihal perselisihannya dengan Rima seminggu sebelum berita menyedihkan itu. Berita yang menjadi skandal yang membuat fokus utama teralihkan. Perselisihan yang terjadi karena Zana menolong Rima malam itu. Perselisihan yang seharusnya tidak terjadi. Perselisihan yang membuat Zana sempat berpikir kalau ia mungkin menjadi penyebab kematian Rima. Seperti apa yang berita itu sampaikan. Berita dan skandal itu nyatanya tidak hanya menggiring opini publik. Tapi juga membuatnya berpikir hal yang sama. Apakah iya? Apakah benar ia menjadi penyebab matinya Rima Nanda? Sungguh, Zana tidak menyangka jika malam itu akan jadi malam yang membuatnya berselisih paham dengan Rima. Tapi biar bagaimana pun, biar ia pikirkan bolak-balik pun, berapa kalipun ia memikirkannya. Zana tetap tidak bisa diam saja. Ia tidak bisa membiarkan Rima diperlakukan seperti itu. Tidak akan pernah bisa. Apalagi Rima meninggal di tangan orang yang sama. Zana semakin merasa bersalah, tapi ia memaksa diri untuk siap dan tegar dengan semua ini. Ia harus membuat Braja membayar tindakannya. Jadi ia tidak menyesal meskipun harus merelakan semua kerja kerasnya selama ini. Konsernya diundur, tidak ada jadwal apapun untuknya, skandal yang mengiringinya, tuduhan-tuduhan padanya. Semua itu. Bahkan sekarang, dengan niat hati ingin melepas penat setelah bolak-balik Polda, setelah bolak-balik persidangan yang Zana rasa terlalu cepat dilakukan itu. Juga di antara banyaknya waktu yang ia dapatkan yang berakhir dengan bengong seharian. Ia pikir ia akan bisa sedikit melepas jenuh. Namun salah, setelah kasus Rima Nanda, semuanya yang berkaitan dengan Zana seakan dipersulit. Semuanya. Termasuk hal remeh seperti datang ke salon seperti hari ini. Zana mendengus. “Lo pikir apa yang gue terima sampai saat ini, sampai apa yang lo liat tadi, ada bedanya dengan apa yang Braja lakukan ke Kak Rima?” Brama mengangguk, matanya masih fokus pada jalanan di depan, “Braja melakukannya karena keinginannya sendiri. Sedangkan saya hanya melakukan apa yang menjadi tugas saya.” “Sama aja! Lo dan Braja sama-sama udah menghancurkan hidup orang lain! Braja udah menghancurkan hidup Kak Rima. Merenggut hak hidupnya. Gak ada bedanya dengan apa yang lo lakukan ke gue sekarang!” cecar Zana. Bahunya naik turun karena kesal. Zana ingin marah. Tapi tahu sekali kalau marah tidak akan menyelesaikan apa-apa. Lagi, Zana berdecih pelan, “Langsung aja lah, jangan berbelit.” “Oke.” Jawaban Brama bersamaan dengan sebuah iPad yang dihempaskan ke pangkuan Zana. Mengalihkan pandangan dari padatnya jalanan di depannya, Zana menunduk. “Saya sudah kirimkan ke email kamu. Tapi coba dibaca dulu.” Zana menghela napas lalu mengambil iPad dan membukanya. Melihat apa yang Brama bilang sebagai kesepakatan. Penawaran Kesepakatan Pernikahan Kontrak “Lo gila?!” Zana mengalihkan pandangan matanya yang terbelalak dari layar pada lelaki yang masih anteng mengemudi di samping kanannya. Brama sepertinya sudah menyangka akan mendapat reaksi seperti ini. Karena lelaki itu sama sekali tidak menunjukan raut wajah apapun. Sejak mereka bertemu di tengah kerumunan, lalu saat merapatkan jas di pundak Zana, dan membawa gadis itu ke parkiran sambil melindunginya. Wajah Brama sama sekali tidak menunjukan ekspresi apapun. Lempeng banget. “Apa ini? Pernikahan? Kontrak? Lo pikir kita hidup di drama cina?!” Sembur Zana dengan picingan mata tak percaya kalau hal seperti ini akan menimpa hidupnya yang penuh dengan plot twist. Punya waktu dua bulan luang dari manggung dan latihan, hari-harinya yang kalau tidak ada jadwal ke polda dan konsul dengan pengacara. Membuat Zana banyak menonton drama pendek yang ceritanya tidak jauh dari menikah kontrak dan akhirnya jatuh cinta beneran. Tapi apa yang ada di depannya kini seperti drama yang dilihatnya itu. “Kocak banget!” “Tidak ada pasal yang kocak, Zana. Semuanya serius.” “Yang bener aja!” Zana mengerang kesal. “Benar sekali. Meski bukan saya yang mau tapi penawaran itu benar-benar serius” Brama menjawab. Datar. “Dan lo nerima gitu aja?” tanya Zana makin tak mengerti. “Apa yang harus ditolak. Itu hanya pernikahan kontrak dengan jangka waktu.” “Sama aja lo bunuh gue,” desis Zana. “Saya tidak punya niat untuk membunuh kamu.” “Tapi Braja udah ada niat itu, kan?” “Entahlah. Tugas saya hanya untuk membuat kamu tidak pergi kemanapun. Tapi sepertinya itu sulit karena pekerjaan kamu. Jadi, saya membatasi ruang gerak kamu,” jelas Brama. Zana menggeram kesal, “Dengan bikin gue gak dapet job apapun?” “Itu berhasil untuk sementara, bukan?” “Gila!” “Dengan menerima tawaran saya, kamu gak akan kehilangan karir kamu.” Tangan Zana mengangkat ipad, “Dengan ini?” Brama mengangguk. “Karir gue mau lo tukar sama kebebasan gue? Sama nyawa gue?” “Tugas saya hanya itu, Zanari. Nyawa kamu bukan urusan saya.” Zana menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering begitu saja. “Lalu setelah ini Braja mau bunuh gue?” “Saya gak ada urusan dengan itu.” Zana kembali menoleh. Enteng sekali mereka membicarakan hal ini. Seakan nyawa dan hidupnya tidak berarti apa-apa. “Apa?” Mulut Zana terbuka dengan jawaban Brama, ia menoleh lagi untuk kesekian kalinya setelah mobil melaju meninggalkan parkiran mall. Semua hal ini memang tidak masuk akal. Tapi penawaran ini adalah annother level dari gak masuk akal. Ini udah diluar nalar banget! Apa maksudnya dengan nyawanya bukan urusannya? Ini manusia atau bukan, sih? “Berhenti! Stop! Gue mau turun!” teriak Zana. “Saya akan memberi waktu untuk memikirkan ulang penawaran saya.” “Enteng banget buat lo, ya?!” “Hm, yang menyusunnya Dipta. Silakan kamu tinjau ulang dan kita bisa membicarakan langkah selanjutnya,” Brama mengangguk. “Bodo amat! Gue gak akan nerima hal bodoh kayak gini!” “Pikirkan konser kamu.” “Terserah! Bodo amat!” Zana tidak mau terikat dengan pernikahan kontrak atau apapun hal gila semacam itu. Ujung bibir Brama terangkat kecil, “Kita lihat saja nanti, Zanari.” “Lo pikir dengan begini Braja bisa membunuh gue juga? Sama kayak dia bunuh Kak Rima?!” Zana tak habis pikir, “Psycho lo semua!” “Turunin gue! Denger gak lo?!” jerit Zana lagi. -- Tangan Zana menekan tombol brake hold saat suara ponselnya terdengar. Ia baru saja sampai di parkiran apartemennya di Pakubuwono. Tangannya beralih meraih tas Chanel di jok samping dan mencari ponselnya. Lalu semua centang-centung yang terdengar dari ponselnya membuat Zana semakin mengubek tasnya. Ponselnya ketemu. Balon notifikasi di sana memperlihatkan chat dari grup keluarga. [Lilara : Za, ini berita apa lagi?] [Tanteyu : Zana, ini gak benar, kan?] Lalu link yang dikirim Lila menjawab penasarannya. Konser Tunggal Zanari Mirah Batal --
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD