3. —Skandal? Oh?

1537 Words
“Kenapa konser saya harus batal, Pak?” tanya Zana tidak terima. Pak Hikam, Direktur Utama Swara Music, berdiri dari kursi beroda miliknya di balik meja kerjanya. Berjalan ke arah Zana dan mengiringnya ke sofa yang berada di ruangan sejuk di lantai dua puluh itu. “Diundur saya masih bisa terima, tapi dibatalkan itu keterlaluan, Pak!” Lelaki berumur setengah abad itu menoleh pada ambang pintu, dimana sekretarisnya berdiri meminta maaf karena tidak berhasil mencegah Zana yang menerobos masuk. “Duduklah dulu, Zana, kita bicara,” ucap Pak Hikam dengan tangan terbuka menunjuk sofa. Mengikuti ucapan lelaki dengan posisi tertinggi di perusahaan itu, Zana duduk di sofa sisi kanan. Miring ke kanan agar bisa berhadapan langsung dengan Pak Hikam. “Saya tahu kamu sudah berlatih dengan sangat keras untuk konser ini. Tim kamu juga sudah bekerja dengan baik. Tapi seperti yang kamu tahu, nama kamu sedang tidak baik-baik saja,” buka Pak Hikam dengan lembut namun tetap penuh penekanan. “Bukannya kalau konsernya batal nama saya akan lebih jelek lagi?” “Justru itu memperparah dalam situasi seperti ini, Zana.” “Saya gak bersalah. Saya cuma dipanggil sebagai saksi.” “Saya harap kamu mengerti, Zana.” Zana mengenal nada pamungkas itu. Itu artinya tidak ada yang perlu mereka bicarakan lagi. Tutup topik. Selesai pembicaraan. Tidak ada lagi bantahan. Ujung bibir Zana kembali terangkat, kini bukan karena kesal, tapi seringai tipis. Semuanya sudah dimulai ternyata. Itu artinya memang tidak ada cara dan jalan lain selain mengikuti apa yang sudah diputuskan untuknya. Percuma ia bicara. Percuma ia menolak. Kini ia hanya bidak catur yang digerakan oleh kekuasaan. “Album saya juga gagal edar, Pak Hikam?” tanya Zana berusaha mengatur suaranya. “Sayangnya begitu.” Kepala gadis itu mengangguk-angguk, menggerakkan rambut panjangnya yang digerai. “Lagu saya ditarik juga?” tanya Zana lagi. Pak Hikam mengangguk, “Lagu baru di album yang sama.” Lagi, Zana menghela napas, “Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?” tanyanya. “Seperti yang sudah kamu tahu.” “Diusir pelan-pelan dengan dalih hiatus,” gumam Zana dengan kepala kembali mengangguk-angguk. “Kami akan menghubungi lagi saat semuanya mereda, Zanari.” “Lagipula kontrak kita belum diperbarui, Pak Hikam. Saya memutuskan untuk tidak memperbaruinya,” senyum Zana sambil berdiri. “Kamu cuma sedang marah. Bicarakan lagi dengan Regan. Kerja sama kita selama ini berjalan dengan baik.” “Anda yang membuatnya berakhir tidak baik, Pak,” tandas Zana dengan senyum kecewanya. Pak Hikam ikut berdiri. “Terima kasih sudah menampung saya selama lima tahun ini, Pak Hikam. Saya pamit.” Zana menunduk dengan gaya khasnya setiap selesai perform. Lalu tanpa menatap pada lelaki tua di depannya, ia berbalik, meninggalkan ruangan sejuk milik Direktur Utama Swara Music. Ujung bibirnya kembali terangkat saat ponselnya bergetar. Semuanya sudah mulai sekarang. Brama tidak main-main dengan ancamannya. Konsernya benar-benar batal. Sekarang, hanya tinggal menunggu apa yang akan diperbuat lelaki itu untuk membuat karirnya tamat. -- “Hm, oke, Ka Re.” Zana mengangguk-angguk dengan ponsel ditopang di telinga kiri. ‘Za, kabarin gue terus ya. Gak usah pikirin yang macem-macem, kita di sini lagi bikin statement bantahan, kok.’ Regan seperti biasa. Managernya itu akan memberi nasihat positif untuknya, mengingatkan Zana kalau ia masih ada untuk artisnya itu. Senyum Zana terbit di bibirnya, “Iya, Kak Re. Masih aja bawel,” keluhnya kemudian. ‘Za,’ panggil Regan. “Kak Re,” panggil Zana. Bersamaan mereka terkekeh. Receh banget sih tertawaan mereka. Tapi di sisi Regan, yang sudah bersama Zana sejak sebelum debutnya. Zana adalah orang yang tidak ribet. Meski gadis itu selalu merepotkan, tapi bekerja dengan Zanari Mirah itu menyenangkan. ‘Lu duluan,’ Regan memberi Zana waktu. Zana berdeham. ‘Macem menang award ya, Za. Dehem dulu,’ ledek Regan. Terkikiklah Zana dengan jokes receh si Anti Move On itu. “Kak, serius, deh. Aku ini mau speech sebelum beneran putus kontrak.” ‘Baru mau gue bilang, Za. Selagi lu masih punya kontrak sama Swara, gue masih sama lu!’ tegas Regan. “Lu makan gaji buta, Kak,” Zana mencairkan harunya sendiri. ‘Gue gak digaji dua bulan ini gak akan jadi miskin, Za.’ “Sombong amat,” seru Zana meniru sound viral Mandra dari sinetron Si Doel. Ganti Regan yang tertawa. “Beneran, Kak. Aku mau pensiun,” serius Zana kemudian. ‘Lu masih muda.’ “Lu kan tau, Kak, aku masih punya janji lain sebagai jaminan jadi penyanyi,” Zana tersenyum mengingat janjinya yang masih terus ia undur. Regan menghela napas di seberang sana, ‘Gue nunggu lu sampai selesai, Za.’ Ucapan Regan itu benar-benar membuatnya terharu. Zana masih tersenyum karena ucapan itu. Bekerja dengan Regan selama lima tahun ini membuatnya tidak kesulitan dalam beradaptasi. Selain bantuan Rima yang memberinya nasihat-nasihat sebagai penyanyi senior, bantuan Regan juga tidak kalah ampuhnya. Semua-muanya Zana diurus dengan baik. Manager merangkap asisten pribadi yang awet dengannya sampai sekarang. Mungkin ia juga masih memikirkan ingin naik panggung lagi karena orang itu. Zana menatap ponselnya lagi. Berita seminggu yang lalu yang masih ia lihat berkali-kali. Masih kesal dengan konsernya yang harus batal itu. Namun kontraknya dengan Swara Music masih berlanjut, tiga bulan lagi. Sampai saat itu tiba, Zana mungkin tidak akan mendapat panggung dimana-mana lagi. Okelah, Zana bisa menerimanya. Namun yang paling mencengangkan adalah berita yang tersebar hari ini. Cengiran di bibirnya benar-benar lebar saat melihatnya. Berita yang sangat template skandal sekali. Berita yang membuat Regan menghubunginya tadi untuk mengatakan kalau brand-brand yang bekerja sama dengannya memutuskan kontrak dan meminta pembayaran penalti karena image Zana yang terjun bebas dan tenggelam ke palung mariana. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Ia tahu ia sudah berurusan dengan siapa. Sekarang ia sedang menggali kuburannya sendiri. Sedang mempersiapkan diri dengan pemberitaan apa lagi yang akan menyeretnya nanti. Dan hari ini gongnya. Brama sudah membuatkan berita mencengangkan yang bahkan Zana saja harus memastikan berkali-kalau itu benar-benar ditujukan untuknya. Bahwa apa yang tertulis di sana memang teka-teki untuk mencuatkan namanya lagi. Uh, meriah sekali hidupnya. Zana menyadarinya, tahu sekali kalau ini akan terjadi. Cepat atau lambat. Rima Nanda saja bisa mati di tangannya. Membuat berita seperti ini tidak akan sulit untuk Braja Krisna Kusumahardja. Ini yang Brama bilang akan Zana sesali. Ini yang Brama katakan kalau ia harusnya menerima kesepakaan yang ditawarkan padanya. Karena skandal ini, ia mungkin akan semakin tenggelam. Setelah menjawab semua panggilan dari Regan tadi, ia menyimpan ponsel di atas meja, berniat kembali bergelung di selimutnya dan melanjutkan drama tontonannya. Itu menjadi kegiatan rutinnya selama masa pengangguran ini. Baru saja Zana berdiri dari kursi, ponsel dengan case berwarna pink itu kembali berdering. Tangan lentik dengan kuku-kuku yang bersih dan terawat meraih kembali ponsel dari atas meja rias. Cahaya dari ponsel kembali menyilaukan matanya yang sedari tadi berada dalam gelap. Ponsel masih berdering. Mata cokelat bulat dalam bingkai bulu mata lentik itu menatap nomor yang dalam beberapa lama ini selalu menghubunginya. Sejak pertemuan pertama mereka di depan salon yang menolaknya. Sejak orang sinting itu dengan ringannya memanggilnya ‘sayang’. Sejak ia menolak tawaran kesepakatan itu mentah-mentah. Ya, orang sinting itu. Lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai kakak angkat dari Braja Krisna. Bramasta Mahesa. Lelaki yang menawarkan hal gila yang tidak sangka akan Zana dengar langsung di depan wajahnya. Tawaran gila yang tidak Zana sangka akan datang padanya. Sebuah annother plot twist dari hidupnya. Menatap layar ponselnya, Zana sampai sudah hafal nomor itu. Tangannya memegang ponsel dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya berhenti di udara, ragu sejenak sebelum menggeser ikon terima di layar. Ia menarik napas sebelum membawa ponsel ke telinga kirinya seraya kembali duduk di kursi meja riasnya. ‘Bagaimana kejutan yang saya kirimkan?’ Suara lelaki di ujung sana juga sudah dikenalnya. Pandangannya beralih pada cermin di meja rias. Ia meraih saklar lampu dan Ctak! Lampu yang mengelilingi cermin menyala, menyorotnya dengan sempurna. Mata cokelat itu kemudian menatap pantulannya sendiri. Menatap matanya sendiri, hidung bangirnya, turun ke bibir bulatnya yang pink, pipinya yang sedikit bulat, pada alisnya yang rapi, juga pada rambut bergelombangnya yang ia biarkan terurai. “Apa cuma itu yang bisa lo lakukan?” ‘Karirmu sudah tamat, Zanari. Tawaran yang saya berikan ada batas waktunya.’ Meski ia meyakini kalau ini sudah selesai. Hanya tinggal menunggu tiga bulan dan ia benar-benar lepas dari Swara. Tidak perlu merasa cemas, Zana. Afirmasi positifnya pada diri sendiri. “Kalau gitu gue masih punya waktu!” tandas Zana lalu memutuskan sambungan telepon sepihak, tanpa menunggu jawaban dari Brama di seberang. Layar ponselnya kembali menampilkan foto blur dalam postingan di insta. Judul besar di foto itulah yang dimaksud Brama di telepon tadi. Video Asusila Viral, Diduga ZM. Apakah Wajah Polosnya Hanya Topeng? Zana mendengus. Jelas sekali perempuan dalam video itu bukan dirinya. “Hah, nyari yang lebih mirip bisa kali! Pasti susah banget kan cari talent yang secantik gue?!” keluhnya sambil meletakkan kembali ponselnya di atas meja, mengabaikan setiap komentar dalam postingan itu. Ia menatap kembali dirinya di cermin. Suara ponsel terdengar berdenting lagi. Tapi Zana mengabaikan ponsel dengan case pink di atas meja, membuka laci meja dan mengambil yang lain. Layarnya yang menampilkan balon notifikasi membuat sudut bibirnya bergerak kecil. Tersenyum. Lalu mengetik balasan. Tok! Tok! Tok! Bip bip bip biiip. Kepala Zana menoleh ke pintu kamarnya. Suara itu jelas adalah suara kunci pintu apartemennya yang sedang dibuka dari luar. --
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD