“ANINDIRA!” gelegar suara Antasena terdengar di selasar menuju dapur. Tempat di mana Dira masih menekan Zana ke dinding dan mencengkeram leher gadis di depannya. Wajah Zana sudah merah, ia sudah kehabisan napas. Tapi matanya masih menatap Dira dengan tajam. Bentakan Antasena membuat tangan Dira terlepas dari Zana. Ia mendesis. Bruk! Gadis itu jatuh ke lantai saat Dira melepaskannya. Zana jatuh pingsan. Bi Anti cepat-cepat menghampiri nonanya itu. Meraih kepala Zana, memeriksa napasnya, memeriksa lehernya, juga kepalanya yang tadi membentur dinding. "Non Zana," panggil Bi Anti pelan, "Non." Dengan matanya yang mendelik pada Antasena, Dira menoleh cepat-cepat. “PAPA! DIA KAYAK YANG AKU BILANG! CEWEK MURAHAN GATEL YANG NGEGODA BRAMA!” teriak Dira dengan semua amarah yang masih berada

