Ujung mata Zana melirik saat pintu kamar mandi terbuka. Ia menoleh. Brama yang shirtless keluar dari kamar mandi. Rambut basah, wajah yang segar, bahunya yang lebar. Uh, Zana mengerjap pada otot-otot yang menonjol di tempat-tempat yang tepat. Juga dengan perut kotak-kotak itu. Brama tidak seputih itu, tapi warna tubuhnya yang sedikit cokelat itu membuatnya terlihat lebih– “Apa yang kamu lihat?” Zana mengerjap dan menolehkan wajahnya kembali ke ponsel di tangan. “Gak ada. Cuma, kamu cocok juga pake handuk pink!” katanya menahan agar bibirnya tidak meloloskan tawanya. “Saya memang cocok pakai apa saja,” jawab Brama tak acuh lalu melengang ke kamarnya. Cekikikan Zana sendiri lolos dari bibirnya saat pintu kamar Brama terkunci. Puas sekali dengan handuk hot pink ala barbie itu! Ia sampai l

