Suara ketukan di pintu kamarnya saat ini terasa seperti alunan melodi indah di telinga Zana. Akhirnya! Akhirnya Brama datang. Baru kali ini Zana merasa senang karena akan bertemu dengannya. Baru kali ini Zana benar-benar menantikan saat lelaki itu datang! Ulala, kemenangan sudah ada di depan mata! Zana menyimpan kembali salep luka di laci, lalu berdiri dengan anggun, meraih satin robe-nya, memakai dengan slow motion, dan berjalan dengan santai dalam balutan sandal bulu berwarna pink miliknya. Ceklek! Pintu terbuka dan pemandangan di depan matanya benar-benar membuat Zana merasa menang. Kemenangan pertama setelah dua kali dibuat kalah oleh lelaki ini. “Apa yang sudah kamu lakukan pada rumahku?” Mata Zana mengedip dua kali. Ia sedang memotret dengan matanya, bagaimana raut wajah Brama

