Menatap dengan mata menyipit, Zana sedikit takjub. Mereka tidur di waktu yang sama. Tidak, mungkin Brama tidur lebih larut dari dirinya. Zana melihatnya keluar dari ruang kerja tadi malam saat berpapasan menambil air minum. Tapi Zana melihat lelaki itu terlihat lebih segar daripada dirinya. Hah! Ada wangi segar perpaduan dari sabun dan wangi pedas dari Dior sauvage yang dipakainya. Zana mengenal wangi itu. Zana mengendus baunya sendiri, uh, bau keringat. Ini pasti karena mimpinya. “Ada apa, sih?” tanya Zana dengan suara seraknya. “Bersiap-siaplah,” Brama menggerakkan kepalanya pada Zana. Alis Zana bertaut, “Mau kemana?” “Rumah.” Zana makin tidak mengerti, tangan kanannya menutup mulutnya yang menguap. “Sekarang jam berapa?” tanya Zana. Ia berbalik menuju kasurnya, berniat mencari po

