Hampir semua orang yang ada di sana datang ke acara pernikahannya kemarin sore. Datang dengan seragam kebaya merah muda dan beskap warna cream. Hanya dua orang yang tidak datang. Zana menatap lekat wanita di samping lelaki yang dipanggil Papa oleh Brama, Antasena. Wanita dengan eye shadow berwarna biru dan eye liner yang mempertegas wajah galaknya. Lalu beralih pada gadis yang seusia dirinya. Dua orang yang tidak hadir. Zana masih menerka. “Sedang apa?” Suara Brama membuat Zana tersentak dan menoleh. “Ikuti aku!” perintah Brama dengan tegas. Tidak perlu di perintah dua kali, Zana berderap mengikuti lelaki itu. Melangkah menuju pintu kaca yang berada lurus dari pintu utama yang dijaga tadi. Kepalanya masih menoleh celingukan pada tiap lorong di kiri dan kanannya. Jantungnya yang sud

