44. Kepercayaan

2126 Words

"Aku kan suamimu, wajar kalau aku berada di sini. Bukankah suami akan tinggal di mana istrinya berada?" Kai memejamkan mata saat hidungnya mengendus aroma jeruk yang menguar dari tubuh Nadira, tepat pada saat gadis itu melenggang di depannya. "Bukan itu yang aku maksud. Sejak kapan kau berada di situ?" "Sejak tadi." "Apa!" "Kenapa memangnya?" "Kenapa katamu? Huh, Kai ...," "Yang kulihat itu tubuh istriku, dan bukannya tubuh wanita lain. Apa aku salah," jawab Kai diplomatis. Nadira lebih memilih fokus dengan hair dryer di tangannya ketimbang meladeni Kai yang pandai sekali bersilat lidah. Dia tahu, dirinya tidak akan sanggup jika harus berdebat dengan Kai. Ujung-ujungnya Nadira yang selalu di salahkan dan dapat dipastikan Kai-lah yang menjadi juara satu di setiap perdebatan yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD