Kai masih belum bisa memejamkan mata, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Rintik gerimis yang mengguyur malam itu, juga petir yang menggelegar terasa sangat menganggu Kai. Disampingnya, Nadira sudah sangat pulas begitu ia menaiki kasurnya dua jam yang lalu. Fokus Kai tertuju pada wajah cantik nan teduh itu, lalu sebuah lengkungan tipis tercetak di bibirnya. Ini kali kedua mereka tidur bersama dan tidak dipungkiri, Kai merasa sangat bahagia. Kai menyingkap selimutnya sepelan mungkin, dia tak mau tindakannya sampai menganggu tidur Nadira. Pria itu lalu meninggalkan kasurnya. "Tidur tidak bisa, pekerjaan sudah selesai. Apa yang harus aku lakukan sekarang," keluhnya. Pria itu meraih ponselnya di atas nakas kemudian berjalan menuju sofa yang terletak di samping pintu