Nyra melangkah pelan mengikuti Ferrin menuju ruangannya. Setiap langkah terasa berat, seolah pikirannya diselimuti kabut tebal yang menahan napasnya. Saat Ferrin membuka pintu dan duduk di kursinya, tanpa sadar Nyra ikut duduk di hadapannya. Hening. Hanya suara detak jam di dinding yang terdengar jelas, memecah kekakuan di antara mereka. Nyra menunduk, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuan. Wajahnya pucat, matanya bergetar menahan air mata yang hampir jatuh. Ia ingin bicara, tapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokan. Antara marah, kecewa, terkejut, dan sedih, semuanya bercampur jadi satu hingga ia tak tahu lagi harus merasakan yang mana. Ferrin menatapnya dengan hati-hati, menyadari betapa rapuhnya wanita di depannya. “Nyra…,” panggilnya lembut, tapi Nyra hanya terdiam, bibi

