Mendengar teguran Kania, Edward terkejut setengah mati, seolah tersambar petir di siang bolong. Lamunannya pecah dan kenyataan menyapu habis semua khayalan yang baru saja menari di pikirannya. Betapa beraninya dia bermimpi mengungkapkan perasaan yang selama ini tersembunyi—mengatakan bahwa Kania adalah wanita jahat yang telah mempermainkan hatinya. Tapi nyatanya, mulutnya masih terkunci rapat, takut untuk menuturkan isi hatinya yang sesungguhnya. Kania masih bertunangan dengan Arya, dan luka lama yang belum sembuh membuat hati Kania tertutup rapat, tak mungkin wanita itu mau membuka hati, apalagi dendamnya juga belum terbalaskan. "Edward, kamu baik-baik saja?" Suara Kania mengusik, penuh kekhawatiran yang tulus. Edward segera mengusap dadanya yang terasa sesak, mencoba menenangkan diri.