Bab 27. Hanya Ingin Tahu

1161 Words

Levon melangkah mendekat, berhenti tepat di depannya, tapi tetap menjaga jarak. “Kau masih bisa memilih.” Ellara tertawa pahit. “Memilih?” Ia menoleh tajam. “Sejak kapan aku punya pilihan? Sejak ayahku ditembak di depan mataku? Sejak aku harus menjual diriku untuk mendekatimu? Atau sejak kau menyeretku ke dunia yang bahkan tidak memberiku ruang untuk bernapas?” Tangannya bergerak refleks, menekan perutnya yang masih datar. Tidak ada yang berubah secara kasatmata. Namun kesadaran itu terasa berat, menekan dari dalam. “Aku takut,” akunya pelan, nyaris tak terdengar. “Bukan pada kematian. Tapi pada kemungkinan … bahwa aku akan mencintainya.” Levon menahan napas mendengar kalimat tajam yang baru saja Ellara lontarkan. “Jika aku mencintainya,” lanjut Ellara dengan suara bergetar, “maka ak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD