Hujan turun dengan malas malam itu, menimpa halaman rumah seperti upaya setengah hati untuk membersihkan dosa yang akan terjadi. Lampu teras rumah Logan Morreti menyala temaram, memantulkan bayangan air hujan yang mengalir di anak tangga batu. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi untuk tempat tinggal seorang pria yang sedang diburu oleh kebenaran yang ia pegang terlalu erat. Lean Vercelli berdiri di balik pintu mobil yang terbuka, mantel hitamnya menyerap air hujan tanpa ia pedulikan. Udara dingin menusuk, tetapi pikirannya jauh lebih dingin. Malam itu bukan tentang amarah. Bukan pula tentang balas dendam. Ini soal penyelesaian. Logan Morreti berdiri di ambang pintu rumahnya sendiri. Ia tidak mengunci pintu. Tanpa ingin bersembunyi, seolah sejak awal ia tahu siapa yang akan datang menemuinya

