Bab 29. Belum Saatnya

1146 Words

Pagi datang tanpa hujan, tetapi sisa dinginnya masih menggantung di udara. Cahaya matahari menyusup pelan melalui jendela-jendela tinggi rumah Vercelli, memantul di permukaan meja makan yang telah tertata rapi. Lean sudah duduk di sana sejak beberapa menit lalu. Jasnya tergantung rapi di sandaran kursi, kemeja putihnya tak berkerut, seolah malam tak pernah singgah membawa kilas balik berdarah. Beberapa suapan sudah masuk ke dalam mulutnya meskipun ia hanya menatap piring di depannya tanpa benar-benar melihatnya. Langkah kaki terdengar dari tangga. Levon turun dengan langkah pasti. "Sudah dari tadi, Paman?" tanyanya yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan oleh Lean. Levon menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Lean. Hanya ada diam di antara mereka, tidak ada basa-basi sama sekali.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD