Ellara masih perawan.
Keheningan yang menyergap ruangan itu terasa jauh lebih menakutkan daripada bentakan atau amarah Levon sebelumnya. Untuk pertama kalinya, pria yang dijuluki The Butcher of Verona itu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Ellara menunduk sedikit, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar. "Tuan, tolong lanjutkan."
Levon tersadar dari lamunannya dan segera menghentak berkali-kali dengan membabi buta setelah mendengar permintaan lirih dari Ella. Hingga akhirnya pria itu terkulai lemas setelah permainan berakhir.
Levon yang masih berada di atas tubuh Ella, menatapnya cukup lama. Terlalu lama. Tatapan yang biasanya tajam kini terasa seperti badai yang tertahan di sana.
“Ella …” suaranya serak. “Kau ...?”
Ella mengangguk pelan. “Saya tidak pernah dibeli oleh siapa pun sebelumnya, Tuan. Saya … hanya b***k. Bukan pelacur.”
Levon menarik napas panjang, seakan paru-parunya menolak menerima kenyataan itu. Pria itu menjauh selangkah, memijit tengkuknya sendiri, dan untuk sesaat dirinya tampak seperti manusia biasa yang kehilangan kendali.
“Sial …,” gumamnya. “Sialan!”
Ella menunggu. Ia tidak berusaha menyentuh Levon lagi. Bahkan ia sengaja untuk terus berbaring do tempatnya. Ia tahu, pria seperti Levon tidak menerima kelembutan. Ia hanya bisa menerima kenyataan yang memaksanya bertekuk lutut.
Perlahan, Levon kembali menghampirinya.
“Kau memberiku sesuatu yang tidak pernah aku minta,” bisiknya. “Sesuatu yang bahkan tidak pernah aku rasakan.”
Ella mendongak sedikit. “Kalau Tuan ingin saya pergi—”
Levon langsung membanting tangan tepat di samping kepala Ella, membuat gadis itu tersentak kaget. Wajah mereka begitu dekat hingga Ella bisa merasakan setiap embusan napasnya yang memburu.
“Diam!” seru Levon. “Kau ... kau sudah menjeratku, dan dengan mudahnya kau bilang ingin pergi?”
Ellara tertegun. “Tuan …?”
Levon menunduk, menatap mata Ella tanpa berkedip. Tatapan gelap itu terasa mengikatnya. Mengikat lebih kuat daripada rantai yang pernah melingkari lehernya.
“Aku sudah merobek sesuatu darimu yang tidak akan pernah bisa dikembalikan,” ucap Levon perlahan. “Dan karena itu ....”
Ia mencengkeram dagu Ella, mengangkat wajah gadis itu agar tepat menatap matanya.
“… kau tidak akan kemana pun!”
Jeda beberapa detik, sebelum suara baritonnya kembali terdengar. “Tidak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku!”
Helaan napasnya menghantam bibir Ella yang mulai memucat.
“Aku. Tidak. Akan. Pernah. Melepaskanmu!” Levon menekankan setiap kata yang baru saja keluar dari mulutnya.
Jantung Ella berdetak keras, tetapi ... bukankah memang ini yang ia inginkan sejak awal?
Levon melanjutkan, suaranya seperti pahatan baja yang tidak mungkin ditawar:
“Selama aku masih hidup … kau hanya boleh tersentuh oleh tanganku. Bukan karena satu miliar yang kubayar.”
Ia menunduk lebih dekat, agar suaranya bisa terdengar begitu jelas di telinga Ella. “Aku bukan pria yang suka berbagi.”
Ia melepas dagu Ella, hanya untuk meraih pinggang gadis itu dan menariknya ke dalam dekapan tanpa memberikan ruang gerak sedikit pun.
“Dengar baik-baik ini, Ellara!”
Levon membisikkan sesuatu tepat di telinga gadis itu.
“Mulai malam ini, kau hidup di bawah namaku. Di bawah perlindunganku.
Dan jika ada satu orang saja yang mencoba menyentuhmu ....”
Nada suaranya berubah, kini begitu rendah dan terdengar mematikan.
“… akan kutumpahkan darahnya sampai lantai ini penuh genangan merah.”
Ella menutup mata. Ia tidak tahu apakah sumpah itu adalah perlindungan … atau justru kutukan.
Ellara masih diam, tubuhnya terasa ringan namun pikirannya dipenuhi gumpalan-gumpalan gelap yang belum mampu ia uraikan. Levon masih menggenggam pinggangnya, tanpа niat melepas. Seakan sedikit saja ia bergerak, dunia di sekeliling mereka akan runtuh.
“Bangun!" titah Levon.
Ella membuka mata. Pria itu bangkit terlebih dahulu, kemudian meraih lengannya dan membantu gadis itu duduk.
Ella menunduk. Ada nyeri yang merambat di bagian bawah tubuhnya, tetapi ia tetap mencoba menahannya. Levon melihat Ella yang sedikit meringis menahan sakit.
"Jangan paksakan dirimu untuk berdiri," ucap Levon.
Gadis itu hanya menelan ludah dan mengangguk.
Levon berdiri tegak, meraih jasnya yang tergeletak di kursi, lalu melepaskan kemejanya begitu saja. Di antara dinginnya udara, pria itu berlutut di depan Ella. Satu hal yang bahkan orang-orang terkuat di dunia bawah tak akan pernah bayangkan dilakukan oleh seorang Vercelli.
“Pakai ini.”
Ia menyampirkan kemejanya di bahu Ella.
“Tu—Tuan …?” Ella hampir tak mengenali suaranya sendiri.
Levon mengalihkan tatapan, seakan tidak nyaman dengan keputusan yang baru ia buat.
“Aku tidak suka ada bagian tubuhmu terlihat. Tidak saat kau belum berada di ruangan pribadiku.”
Kata-kata itu membuat jantung Ella berhenti sepersekian detik.
“Ruangan pribadi, Tuan?”
“Aku akan membawamu ke sana,” jawab Levon singkat.
Levon berdiri. Namun ia belum pergi, ia memerhatikan Ella dengan tajam, seolah sedang memastikan sesuatu. “Kau pingsan, aku bawa. Kau menolak berjalan, aku seret. Tapi satu hal pasti … kau akan ikut denganku. Menolak berati mati."
Ella menunduk, air mata mulai menggenang di kelopak matanya. Namun, dengan cepat Ella segera menghapusnya sebelum Levon menyadarinya.
"Terima kasih, Tuan," ucapannya lirih.
Levon memutar badannya sejenak, “Aku tidak tahu apa maksudmu mendekatiku di lelang itu. Aku tidak tahu apakah kau berbahaya atau kau hanya gadis bodoh dengan keberanian konyol.”
Pria itu tiba-tiba mengangkat tubuh Ella dengan mudah, membuat gadis itu terkejut dan memegangi bahunya. Akan tetapi, Levon tidak tampak terganggu sama sekali. Ia melakukan itu seolah tubuh Ella tidak lebih berat dari setangkai pohon mawar.
"Tuan—"
“Tutup mulutmu!" Nada dingin itu akhirnya kembali. Ia menatap leher Ella, tanda merah bekas rantai masih jelas.
Levon berjalan menuju pintu, membawa Ellara dalam gendongannya. Setiap langkahnya memantul di lantai beton, bergema mengisi ruangan luas yang kini terasa lebih kecil dari sebelumnya.
Saat pintu besar itu terbuka, hawa dingin lorong mengalir masuk, dan beberapa pengawal dengan stelan jas hitam yang rapi sudah berbaris di sana.
Salah satu pengawal yang berdiri paling depan, dengan cepat menghampiri Levon yang tampak menggendong wanita yang baru saja dibelinya di pelelangan.
"Bos! Letakkan, dan biar saya saja yang bawa—"
"Berani kau sentuh wanitaku, kepalamu sebagai gantinya!" ancam Levon dengan telunjuk yang terulur tepat di depan wajah sang pengawal.
"Sesuai perintah, Bos," jawab pengawal itu yang tentu saja menciut mendengar ancaman sang mafia.
Sambil membawa Ella di depan dadanya, Levon melangkah menjauh, dengan diiringi oleh beberapa pengawal di belakangnya. Tanpa ia sadari, jika Ella tengah menyunggingkan senyum penuh kemenangan di ujung bibirnya.