Bab 4. Penjara untuk Ellara

1307 Words
Mobil mewah berwarna hitam melaju halus membelah kegelapan malam kota Jakarta. Di dalam kabin yang sunyi, hanya terdengar deru mesin halus dan sesekali desisan napas. Levon duduk dengan postur tegak, satu tangannya melingkar posesif di pinggang Ellara yang kini duduk di sampingnya. Ellara mencoba mengalihkan pandangan ke luar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota yang berlalu cepat. Namun, tatapan Levon yang terus menerus memandangi wajahnya membuat gadis itu sulit berkonsentrasi. "Lihat aku!" perintah Levon tiba-tiba. Ella yang sedikit tersentak oleh panggilan itu, menoleh pelan. Manik matanya yang hijau bertemu dengan tatapan tajam dari pria bermata coklat indah itu. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Kamu tidak akan bisa bertahan." Levon bertanya dengan nada datar tapi terdengar penuh penekanan. "Jangan katakan kalau kau hanya ingin uang. Wanita sepertimu ... terlalu pintar jika hanya mengincar hal sesederhana itu." Jantung Ella berdetak lebih kencang. Sebenarnya, dirinya sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan ini sejak awal. Namun saat Ella ditanya langsung oleh Levon, kata-kata itu terasa begitu berat untuk diucapkan. "Saya ... hanya ingin hidup, Tuan," jawab Ella pelan. "Hidup di tempat yang tidak ada yang berani menyakiti saya lagi." Levon menyipitkan mata. "Dan kau pikir tempatmu adalah di sisiku? Kau hanya mencari mati di tangan monster." "Saya tidak menganggap Tuan monster." "Bohong!" Levon mencengkeram dagu Ella, memaksanya menatap lebih dalam. "Kau tahu siapa aku?" "Saya tahu," bisik Ella. "Tapi tangan yang penuh darah itu ... adalah tangan yang akan melindungi saya." Keheningan kembali menyergap. Levon melepaskan cengkeramannya dengan kasar, dan kini ... tangannya mulai bergerak menyentuh bekas luka di leher Ella dengan lembut. Sebuah sentuhan yang kontras dengan kepribadiannya yang keras. "Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Levon, suaranya berubah menjadi sebuah pertanyaan yang terdengar berbahaya. Ella tersentak. Ia tidak mengira Levon akan bertanya tentang masa lalunya. "Itu ... sudah tidak penting lagi, Tuan." "Penting!" Levon menaikkan suaranya sedikit. "Setiap bekas luka di tubuhmu adalah penghinaan. Aku berhak tahu siapa yang membuatnya." Ella menutup mata, mengingat memori menyakitkan yang selama ini ia kubur dalam-dalam. "Pemilik rumah bordil tempat saya dijual pertama kali," jawab Ella akhirnya. "Dia ... suka menyiksa b***k-b***k yang menolak melayani tamu. Saya adalah salah satunya." Rahang Levon mengeras. "Namanya!" "Tuan, saya mohon—" "NAMANYA!" Ella terkesiap. "Vincent." Nama itu seperti menyulut api di dalam diri Levon. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Vincent," gumam Levon. "b******n busuk itu." Ia meraih ponselnya dari saku jas, menekan beberapa tombol dengan cepat, kemudian menempelkannya ke telinga. "Daniel," ucap Levon begitu panggilan tersambung. "Cari Vincent, sekarang juga! Aku ingin dia ada di hadapanku besok malam. Hidup atau mati, aku tidak peduli. Tapi ... tentunya kau tahu kalau aku lebih suka dia masih bisa berteriak." Ella membelalak. "T-Tuan ... Anda tidak perlu—" Levon mengangkat tangan, membuat Ella langsung diam seketika. "Kau pikir aku akan membiarkan orang yang telah menyakitimu tetap bernapas dengan tenang?" Levon menatap Ella dengan tatapan yang membuat gadis itu merinding. "Aku sudah bilang, Ellara. Kau milikku sekarang. Dan tidak ada yang boleh melukai apa yang menjadi milikku." Ponsel di tangan Levon kembali berbunyi, tetapi kali ini ia hanya melirik layar kemudian mematikannya. "Kita sudah sampai," ucap Levon. Mobil berhenti di depan sebuah mansion megah yang berdiri kokoh di tengah area luas yang dikelilingi pagar tinggi dan pengamanan ketat. Lampu-lampu taman menerangi bangunan bergaya Victorian dengan sentuhan modern yang menciptakan aura kemegahan yang tak terdtandingi oleh bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Pintu mobil dibukakan oleh seorang pengawal. Levon turun dengan Ella yang saat ini masih tetap berada di dalam gendongannya. Sepertinya Levon sama sekali tidak berniat membiarkan gadis itu berjalan sendiri. "Selamat datang kembali, Tuan Vercelli," sapa seorang pelayan wanita paruh baya dengan sikap membungkuk penuh hormat. Levon hanya mengangguk singkat dan terus melangkah masuk. Bagian dalam mansion itu bahkan jauh lebih megah dari apa yang terlihat di luar. Tangga marmer lebar, lukisan klasik berharga mahal di dinding, lampu kristal besar menggantung di langit-langit tinggi. Namun, Ella tidak sempat mengagumi semua itu terlalu lama karena Levon langsung menaiki tangga menuju lantai dua, kemudian berjalan menyusuri koridor panjang hingga berhenti di depan sebuah pintu ganda besar. Ia membuka pintu itu dengan satu tangan. Tampak begitu mudah dilakukannya, seolah tidak ada beban di tangan lainnya. Ruangan yang terbuka adalah kamar tidur terbesar yang pernah Ella lihat seumur hidupnya. Tempat tidur king size dengan seprai sutra hitam mendominasi tengah ruangan, dikelilingi furnitur mewah dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Levon membawa Ella ke arah tempat tidur dan menurunkannya dengan hati-hati. Gadis itu langsung tenggelam di kasur empuk yang terasa seperti awan. "Ini kamarku," ucap Levon. "Mulai sekarang, ini juga kamarmu." Ella mendongak, mata bulatnya menatap Levon dengan campuran keterkejutan dan rasa tak percaya. "T-Tuan maksudnya ... saya akan tidur di sini? Bersama Tuan?" "Memangnya kau pikir aku akan menempatkanmu di mana? Kamar pembantu?" Levon melepas jasnya dan melemparnya sembarangan ke sofa. "Aku katakan padamu sekali lagi. Saat ini kamu adalah milikku, dan pastikan kamu tidak lepas dari pengawasanku." Ia berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan, membukanya, dan mengeluarkan sebuah kemeja tidur sutra berwarna abu-abu gelap. "Pakai ini," ucap Levon sambil melemparkan kemeja itu ke arah Ella. "Dan bersihkan dirimu di kamar mandi. Di sana sudah tersedia semua yang kau butuhkan." Ella meraih kemeja itu dengan tangan gemetar. Ia bangkit dari tempat tidur, mencoba berdiri meski kakinya masih terasa lemas akibat permainan brutal yang Levon berikan padanya. Levon memperhatikan setiap gerakannya dengan tatapan tajam. "Butuh bantuan?" tawarnya. "T-Tidak, Tuan. Saya bisa sendiri." Ella melangkah tertatih menuju pintu kamar mandi yang ditunjuk Levon. Begitu ia masuk dan menutup pintu, barulah gadis itu bisa menarik napas lega. Kamar mandi itu lebih mirip tempat spa pribadi dengan bathtub besar, shower dengan banyak jet water, wastafel marmer, dan deretan produk perawatan mewah yang tertata rapi. Ella melepas kemeja Levon yang masih melekat di tubuhnya dan melangkahkan kaki untuk bisa berdiri di bawah shower. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, membersihkan sisa-sisa malam yang baru saja ia lalui dengan kenikmatan sesaat bersama sang mafia. Ia memejamkan mata, membiarkan air menghanyutkan ketegangan yang sejak tadi menjalar di otot-ototnya. Namun pikirannya terus berputar. "Aku sudah berhasil masuk ke dalam kehidupanmu." Senyum tipis kembali muncul di bibirnya. "Setidaknya ... aku sudah mulai." "Tapi ... kenapa dadaku terasa sesak seperti ini? Apakah layak aku memberikan satu-satunya milikku untukmu, Vercelli?" Ella menggeleng, mengusir perasaan aneh yang mulai tumbuh. Ia tidak boleh lemah. Tidak sekarang! Setelah selesai mandi, Ella mengenakan kemeja tidur yang diberikan Levon. Bahan sutranya terasa dingin tetapi ukurannya terlalu besar, karena memang itu adalah kemeja Levon. Sehingga ujungnya hampir mencapai lututnya. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan ragu-ragu. Levon sudah berganti pakaian. Sekarang, dirinya hanya mengenakan celana panjang hitam tanpa atasan, memamerkan tubuh berotot yang dipenuhi bekas luka dan tato di beberapa bagian. Pria itu sedang berdiri di depan jendela, dengan segelas wine di tangannya, dalam diam ia menatap keluar dengan wajah dinginnya. "Sudah selesai?" tanya Levon tanpa menoleh. "S-Sudah, Tuan." "Tidurlah. Kau pasti lelah." Ella ragu-ragu melangkah menuju tempat tidur. Ia berbaring di ujung kasur, menjaga jarak sejauh mungkin dari sisi yang mungkin akan ditempati Levon. Beberapa menit berlalu hingga Levon akhirnya berbalik dan berjalan menuju tempat tidur. Ia naik ke atas kasur dan berbaring, tetapi tidak langsung tidur. Sebaliknya, pria itu justru meraih pinggang Ella dan menariknya hingga tubuh gadis itu menempel ke dadanya. "T-Tuan!" Ella terkesiap. "Diam dan tidur," bisik Levon di telinganya. "Jangan mencoba kabur. Kau tidak akan suka apa yang terjadi jika aku bangun dan tidak menemukanmu di sini." Ella menelan ludah. Tubuhnya kaku di dalam pelukan Levon yang hangat, tetapi penuh ancaman. "Saya ... tidak akan ke mana-mana, Tuan," jawab Ella pelan. Levon tidak menjawab. Tangannya hanya mengait lebih erat di pinggang Ella, seolah memastikan gadis itu tidak akan bisa melarikan diri bahkan dalam tidurnya sekali pun. Ella menutup mata, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang berderap kencang. "Memang ini yang aku inginkan, Levon." Ella menyeringai kecil sebelum pada akhirnya kesadarannya menghilang ditelan kelelahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD