Bab 5. Tawanan dan Pembalasan

1288 Words
Cahaya pagi menerobos masuk melalui celah tirai tebal, membuat Ella perlahan membuka matanya. Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya masih terasa lelah dari semua yang terjadi semalam. Namun, ada sesuatu yang membuatnya tersadar sepenuhnya. Telinganya mendengar suara teriakan yang samar-samar terdengar dari lantai bawah. Ella tersentak, tangannya refleks meraih sisi tempat tidur di sampingnya. Kosong! Levon sudah tidak ada di sampingnya. "Tidak ...!" Suara itu terdengar lagi, tetapi kali ini terdengar lebih jelas. Rintihan kesakitan yang begitu jelas. Seketika, jantung Ella berdegup lebih kencang. Rasa ingin tahu bercampur dengan kecemasan mendorongnya untuk bangkit dari tempat tidur. Kakinya masih sedikit gemetar saat ia mencoba berdiri. Namun, ia memaksakan diri untuk bergerak. Ella melangkah keluar dari kamar dengan hati-hati, menyusuri koridor panjang menuju tangga. Semakin dekat ia dengan lantai bawah, semakin jelas suara-suara itu terdengar. Suara pukulan keras yang bertubi-tubi, erangan kesakitan, dan ... suara Levon yang terdengar begitu dingin dan mengerikan. "Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup dengan tenang setelah menyakiti dia?" Ella menelan ludah. Tangannya mencengkeram pegangan tangga dengan erat saat ia mulai menuruni anak tangga satu per satu. Pandangannya tertuju ke arah ruang tamu besar yang kini berubah menjadi arena penyiksaan. Tepat ketika pasang matanya menangkap pemandangan di bawah sana, seluruh tubuhnya membeku. "Vincent ...," lirihnya. Pria paruh baya berperawakan besar itu kini terikat di sebuah kursi di tengah ruangan. Wajahnya sudah babak belur, darah mengalir dari hidung, pelipis, dan mulutnya. Pakaiannya compang-camping, dan tubuhnya penuh luka memar. Di hadapannya berdiri Levon dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memamerkan lengan berotot yang kini ternoda oleh percikan darah. Beberapa anak buah Levon berdiri di sekelilingnya, wajah mereka datar tanpa ekspresi, seolah pemandangan seperti ini adalah hal yang sudah biasa bagi mereka. Levon menggenggam sebilah pisau kecil di tangan kanannya, ujungnya masih menetes darah segar. Mata coklatnya yang biasanya terlihat tajam kini memancarkan aura kematian yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa ketakutan. "T-Tuan Vercelli ...." Vincent terbata-bata, suaranya terdengar parau. "S-Saya tidak tahu ... saya tidak tahu kalau dia—" "Tutup mulut busukmu itu!" bentak Levon. Pisau di tangannya bergerak cepat, menggores pipi Vincent dengan kasar. "Aargh!" Pria itu berteriak kesakitan. Ella terpaku di tengah tangga. Mulutnya sedikit terbuka, matanya membelalak tidak percaya. Ini ... ini semua karena dirinya? Tak! Tubuh Ella terhuyung, tanpa sengaja langkah kakinya menimbulkan suara yang mencuri perhatian Levon. Levon tiba-tiba menoleh. Matanya yang tajam langsung menangkap keberadaan Ella di tangga. Untuk sesaat, ekspresinya berubah. Bukan menjadi lembut, tetapi justru menjadi lebih intens. "Untuk apa kamu turun?" tanyanya. "Tu-tuan Levon—" Tangan kiri Levon segera terangkat, memberikan isyarat tegas agar Ella berhenti. "Diam di tempatmu!" perintahnya dengan suara keras yang membuat Ella langsung membeku di tempatnya. Ella berdiri kaku di anak tangga, tangannya mencengkeram pegangan dengan erat. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia ingin mundur, ingin kembali ke kamar dan berpura-pura tidak melihat apa pun, tetapi tubuhnya tidak bisa lagi ia gerakkan. Levon berjalan perlahan menuju tangga, setiap langkahnya terdengar berat dan penuh tekanan. Darah di tangannya menetes ke lantai marmer, meninggalkan jejak merah yang kontras dengan permukaan putih bersih. "Aku bertanya padamu, untuk apa kamu turun?" tanya Levon saat ia berhenti tepat di bawah Ella. Matanya menatap gadis itu dengan tatapan penuh amarah. "S-Saya ... saya mendengar suara, Tuan." Ella berbisik pelan. "Dan kau pikir itu alasan yang bagus untuk turun?" Levon menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. "Kembali ke atas, Ellara!" "Tapi ... itu Vincent—" Ella menghentikan kata-katanya. Ia melirik kecil ke arah pria yang babak belur di kursi. Perasaannya campur aduk. Sebagian dirinya merasa puas melihat orang yang telah menyiksanya sedemikian rupa kini merasakan hal yang sama, tetapi sebagian lagi merasa ... takut. Takut melihat seberapa jauh Levon akan bertindak. "Ya, itu Vincent," jawab Levon datar. "Dan aku sedang memberikan pelajaran padanya. Sekarang, kembali ke atas sebelum aku kehilangan kesabaran." Ella menggeleng pelan. "Saya ... ingin melihat." Levon terdiam. Alisnya terangkat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kau ingin melihat?" ulangnya, nada suaranya berubah menjadi lebih rendah dan berbahaya. "Kau tahu apa artinya itu?" Ella menelan ludah, tetapi ia mengangguk. "Saya ingin melihat orang yang menyiksa saya mendapat balasannya." Entah darimana, tetapi kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ella. Sebuah senyum tipis muncul di wajah Levon. Senyum yang sama sekali tidak hangat, melainkan penuh dengan kepuasan. "Baiklah," ucapnya. Ia mengulurkan tangannya yang tidak berlumuran darah. "Turun dan berdirilah di sampingku." Ella menatap tangan itu untuk sesaat sebelum akhirnya meraihnya. Genggaman Levon begitu kuat, memberikan rasa aman di tengah situasi mengerikan ini. Levon membimbingnya turun dari tangga dan berjalan menuju tengah ruangan. Vincent mengangkat kepalanya yang tertunduk. Matanya yang bengkak membelalak saat ia melihat Ella. "E-Ellara ..." desisnya. "Kau ... kau yang—" "Diam!" Levon memukul wajah Vincent dengan keras, membuat kepala pria itu terlempar ke samping. "Jangan berani menyebut namanya dengan mulut kotormu." Vincent meludah darah. Giginya yang patah terlihat jelas saat ia mencoba berbicara lagi. "D-Dia ... hanya p*****r murahan ... kenapa Tuan—" Kali ini Levon tidak hanya memukul. Pisau di tangannya menancap di paha Vincent, membuat pria itu berteriak histeris. "Satu kata lagi tentang dia, dan aku akan memotong lidahmu," ancam Levon dengan suara yang tenang, tetapi penuh penekanan. Ella berdiri di samping Levon, tubuhnya gemetar meski ia mencoba untuk tetap terlihat tenang. Matanya tidak bisa lepas dari Vincent. Dia, pria yang dulu begitu semena-mena, yang bisa menyiksanya sesuka hati, kini tidak lebih dari boneka yang babak belur. "Lihat dia baik-baik, Ellara," bisik Levon di telinga gadis itu. "Lihat bagaimana orang yang menyakitimu kini menangis seperti pengecut." Ella tidak menjawab. Dadanya terasa desa melihat kekejaman Levon yang begitu nyata di hadapannya. "Sekarang," Levon melepaskan genggamannya dan berjalan mengelilingi Vincent. "Aku akan memberimu pilihan, Vincent. Kau bisa mati cepat ... atau mati perlahan sambil merasakan setiap rasa sakit yang pernah kau berikan pada gadis ini." Vincent menangis. Air mata bercampur darah mengalir di wajahnya. "T-Tuan ... ampuni saya ... saya tidak akan—" "Terlambat," potong Levon. Ia melirik Ella. "Apa yang kau inginkan untuknya?" Ella tersentak. Matanya membelalak. "S-Saya?" "Ya, kau." Levon berjalan mendekatinya, meraih dagu Ella dengan lembut meski tangannya masih berlumuran darah. "Dia pernah memberi luka padamu. Kau berhak memutuskan akhirnya." Ella menatap Vincent. Pria yang dulu menyiksanya tanpa belas kasihan. Pria yang membuat tubuhnya penuh luka. Pria yang membuatnya belajar bahwa hidup adalah neraka. Pria yang menjualnya hanya karena Ella tidak pernah mau disentuh untuk memuaskan hasratnya. "Saya ...." Ella menarik napas dalam-dalam. "Saya ingin dia merasakan apa yang saya rasakan dulu." Levon tersenyum puas. "Jawaban yang sempurna." Ia berbalik ke arah anak buahnya. "Daniel, bawa dia ke ruang bawah tanah. Pastikan dia tetap hidup ... setidaknya sampai seminggu ke depan." "Siap, Bos." Daniel dan beberapa pria lainnya langsung bergerak, melepaskan ikatan Vincent dari kursi dan menyeretnya meski pria itu meronta dan menjerit memohon ampun. "TIDAK! TUAN VERCELLI! AMPUNI SAYA! ELLARA! KUMOHON—" Suara teriakan itu perlahan menghilang saat Vincent diseret keluar dari ruangan. Keheningan menyelimuti ruang tamu yang kini berantakan. Levon menatap tangannya yang berlumuran darah dengan ekspresi datar, kemudian melirik Ella yang masih berdiri kaku di tempatnya. "Kau tidak akan pingsan, 'kan?" tanyanya dengan nada yang terdengar seperti lelucon, meski wajahnya tetap serius. Ella menggeleng pelan. "Tidak, Tuan." "Bagus." Levon berjalan menuju Ella dan secara tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggangnya. "T-Tuan!" Ella terkesiap. "Kau belum sarapan," ucap Levon sambil membawa Ella menjauh dari ruangan berdarah itu. "Dan aku juga harus membersihkan diri. Setelah itu, kita akan makan bersama." Ella hanya bisa diam dan menerima perlakuan itu tanpa berani membuat ulah sedikit pun. Tidak setelah ia disuguhi pemandangan mengerikan sepagi ini. "Apa ... apa yang akan terjadi pada Vincent?" tanyanya pelan. "Dia akan mati," jawab Levon blak-blakan. "Tetapi tidak sekarang. Aku akan memastikan dia merasakan setiap detik penderitaan sebelum napasnya yang terakhir."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD