Bab 6. Serangan Tiba-Tiba

1045 Words
Ruang makan besar di mansion Levon terasa begitu sunyi meski dipenuhi oleh kemewahan. Ella duduk di salah satu ujung meja panjang berbahan kayu mahoni, matanya menatap kosong ke arah piring berisi makanan di hadapannya. Nafsu makannya seolah hilang setelah menyaksikan apa yang terjadi pada Vincent pagi tadi. Di seberangnya, Levon duduk dengan tenang. Pria itu sudah berganti pakaian dengan sebuahkemeja hitam rapi dengan lengan yang digulung hingga siku, rambutnya yang basah masih menetes air setelah mandi. Seolah tidak ada yang terjadi. Seolah dia tidak baru saja menyiksa seseorang hingga babak belur beberapa jam yang lalu. "Kau harus makan," ucap Levon tanpa mengangkat pandangannya dari piring. Suaranya datar namun mengandung perintah yang tidak bisa dibantah. Ella mengangkat sendoknya dengan tangan gemetar, mencoba memasukkan sesendok sup ke dalam mulutnya, tetapi tenggorokannya terasa tersumbat. Ia merasa mual. "Saya ... tidak bisa, Tuan," bisiknya pelan. Levon berhenti mengunyah. Matanya yang tajam kini tertuju pada Ella, menatapnya dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa telanjang. "Kenapa?" tanyanya singkat. "Saya terus memikirkan ... Vincent," jawab Ella jujur. "Apa yang akan terjadi padanya di ruang bawah tanah. Apakah dia—" "Apakah kau merasa kasihan padanya?" potong Levon. Nada suaranya berubah dingin. Ella terdiam. Jujur, ia tidak tahu apa yang dirasakannya. Sebagian dirinya merasa puas melihat Vincent mendapat balasan atas semua yang telah dilakukannya. Tetapi sebagian lagi ... merasa ngeri melihat sisi gelap Levon yang begitu kejam. "Jawab aku, Ellara." Levon meletakkan sendok dan garpunya, tangannya saling bertautan di atas meja. Tatapannya tidak berkedip. "Tidak," jawab Ella akhirnya. "Saya tidak merasa kasihan padanya. Tetapi ... melihat semua itu membuat saya takut." "Takut pada apa?" "Takut pada Anda, Tuan." Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Levon tidak bergerak, tidak berbicara. Hanya menatap Ella dengan ekspresi yang sulit dibaca. Kemudian, tiba-tiba ia berdiri. Kursinya bergeser ke belakang dengan suara keras yang membuat Ella tersentak. Levon berjalan mengelilingi meja dengan langkah perlahan, seperti predator yang mengintai mangsanya. Ella menegang ketika Levon berhenti tepat di belakangnya. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu yang begitu dekat. "Takut padaku?" ulang Levon. Tangannya bergerak, menyentuh bahu Ella dengan lembut. "Setelah aku menyelamatkanmu? Setelah aku memberikan Vincent balasan atas perbuatannya?" "Tuan ...." Ella mencoba berbicara, tetapi suaranya tercekat. Levon membungkuk, wajahnya kini sejajar dengan telinga Ella. Napasnya yang hangat menerpa kulit gadis itu. "Dengarkan aku baik-baik, Ellara," bisiknya dengan suara rendah yang mengirimkan getaran ke seluruh tubuh Ella. "Aku memang kejam. Aku memang monster. Tetapi semua itu hanya untuk orang-orang yang berani menyakiti apa yang menjadi milikku." Ella menelan ludah. "Milik ... Anda?" "Ya." Levon mengangkat dagunya, memaksa Ella menatap matanya. "Kau adalah milikku sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun ...siapa pun juga menyakitimu lagi." Jantung Ella berdegup kencang. Entah karena takut atau karena sesuatu yang lain yang tidak bisa ia pahami. "Tetapi jika kau sendiri yang mencoba melarikan diri dariku ...." Levon tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi." Sebelum Ella bisa menjawab, pintu ruang makan terbuka dengan keras. Seorang pria berjas hitam masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya pucat. "Bos!" panggilnya. Levon melepaskan Ella dan berbalik menghadap anak buahnya itu dengan tatapan tajam. "Apa yang terjadi, Daniel?" "Ada ... ada masalah besar, Bos." Daniel melirik sekilas ke arah Ella, seolah ragu untuk berbicara di hadapannya. "Katakan!" bentak Levon. Daniel menarik napas dalam. "Keluarga Konstantin tahu tentang Vincent. Mereka mengirim pesan ... mereka menuntut kompensasi atau akan ada perang." Levon tertawa. Tawa yang dingin dan mengejek. "Perang? Mereka pikir mereka bisa mengancamku?" "Bos, keluarga Konstantin bukan lawan yang mudah. Mereka punya koneksi dengan—" "Aku tidak peduli!" potong Levon. Amarahnya mulai meluap. "Vincent bekerja untuk mereka dan dia berani menyentuh milikku! Itu sudah cukup alasan untuk menghancurkan mereka semua!" Ella mendengarkan percakapan itu dengan jantung berdegup kencang. Perang? Semua ini karena dirinya? "T-Tuan Levon," Ella mencoba berbicara, tetapi Levon mengangkat tangannya, membungkam gadis itu. "Daniel, kumpulkan semua orang. Aku ingin pertemuan darurat dalam satu jam." Levon berbalik menatap Ella. "Dan kau, kembali ke kamar. Jangan keluar sampai aku mengizinkanmu!" "Tetapi—" "Sekarang, Ellara!" Suara Levon menggelegar di seluruh ruangan. Ella langsung berdiri, tubuhnya bergetar. Ia berlari keluar dari ruang makan tanpa menoleh ke belakang. -- Di kamarnya, Ella berjalan mondar-mandir dengan cemas. Pikirannya kacau. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kehadirannya di sini akan menyebabkan konflik sebesar ini. "Dia melakukannya untukku," gumamnya sambil meremas rambutnya sendiri. "Aku harus pergi. Aku harus—" Pintu kamar terbuka tiba-tiba. Ella terlonjak kaget dan berbalik. Matanya membelalak melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Bukan Levon. Seorang wanita berpakaian serba hitam, dengan rambut panjang tergerai dan tatapan mata yang tajam. Di tangannya ada pistol yang terhunus, mengarah langsung ke arah Ella. "Jadi kau adalah gadis itu? Gadis yang membuat Levon Vercelli kehilangan akal sehatnya," ucap wanita itu dengan nada mengejek. Senyum tipis terlukis di bibirnya yang merah. Ella mundur selangkah, tubuhnya menabrak meja di belakangnya. "S-Siapa kau?" Wanita itu melangkah masuk, menutup pintu dengan kakinya. "Aku? Katarina Konstantin. Dan kau, sayang ... adalah kunci untuk menghancurkan Levon Vercelli." Ella merasakan darahnya mengalir dingin. "Apa ... apa yang kau inginkan?" "Sederhana," jawab Katarina sambil memeriksa pistolnya dengan santai. "Aku ingin kau ikut denganku. Kau akan menjadi jaminan kami. Dan kalau Levon tidak mau mengikuti permintaan kami ..." Ia mengarahkan pistol tepat ke dahi Ella. "... kau akan mati." "TIDAK!" Teriakan Ella terpotong ketika Katarina maju dan memukul kepalanya dengan gagang pistol. Rasa sakit yang tajam menyambar, dan pandangan Ella langsung menggelap. Hal terakhir yang ia dengar sebelum kehilangan kesadaran adalah suara tembakan yang menggelegar dari lantai bawah. Levon .... Gelap mulai menelan kesadarannya, tetapi sebelum dunia benar-benar memudar, Ella mendengar dentuman keras lain dari lantai bawah, lebih dekat, lebih memekakkan. Dinding kamar bergetar hebat, lampu gantung bergoyang, dan suara teriakan memenuhi seluruh mansion. Langkah-langkah cepat terdengar menaiki tangga, diikuti suara tembakan pendek yang memecah udara. Katarina menoleh tajam, bersiap menembak ke siapa pun yang muncul. Ella hanya mampu merintih pelan, tubuhnya tak sanggup bergerak. Pintu kamar diterjang. Kayu hancur berhamburan. “ELLARA!” suara Levon memenuhi ruangan, bergemuruh seperti badai. Tatapan pria itu langsung membara ketika melihat Ella tersungkur di lantai dan Katarina berdiri dengan pistol terangkat. Wajah Levon berubah, bukan sekedar amarah biasa, tetapi murka yang begitu gelap hingga membuat udara seolah membeku. Katarina tersenyum miring. “Teruskan langkahmu, Levon, dan gadismu mati.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD