Mobil hitam itu melaju tanpa suara, membelah jalanan kota yang mulai padat. Ella duduk kaku di jok belakang, punggungnya tegak, tatapannya lurus ke depan, tidak ada perlawanan yang berarti yang ia lakukan. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya yang terus tertutup, hanya rahang yang mengeras dan tangan yang bertaut di atas perutnya, seolah itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa. Di sampingnya, Levon menyilangkan kaki dengan santai. Ia tidak menoleh dan tidak bertanya. Ia bahkan tidak peduli pada raut wajah Ella yang membeku oleh amarah. Yang ia tahu hanya satu hal, sekarang Ella telah kembali berada dalam jangkauannya, dan itu saja sudah sangat cukup. Lampu kota perlahan tergantikan oleh jalanan yang lengang. Gerbang besi tinggi dengan lambang Vercelli terbuka otomatis

