Pagi datang tanpa cahaya. Kamar sempit itu masih gelap karena semalam Ella tak pernah menyalakan lampu. Udara di sekitar masih terasa dingin, lembap, dan sunyi ... terlalu sunyi. Ella terbangun di kursi kayu yang sempit, lehernya pegal, punggungnya nyeri. Ia berkedip pelan, seolah ragu dunia masih ada. Tangannya refleks bergerak ke perutnya. Namun, sentuhan itu membuat dadanya sesak. Matanya memanas, air mata yang belum sempat jatuh semalam kini menggenang di sudut matanya. Ia menatap perutnya lama dan berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan memudar bersama pagi. Namun tidak, kenyataan tetap di sana. Ia berdenyut pelan dan ... hidup. Dengan langkah tergesa dan napas tak beraturan, Ella berdiri. Kursi di belakangnya berdecit lirih. Ia berjalan ke dapur kecil yang nyaris kosong, mem

