Ella menahan napas di balik tong sampah besar itu hingga langkah kaki Levon dan Lean benar-benar menjauh. Hujan gerimis membasahi ujung rambutnya, menetes pelan ke pipinya, bercampur dengan sesuatu yang terasa lebih panas dari sekadar air hujan. Levon Vercelli. Nama itu bergetar di dadanya, bukan sebagai suara, melainkan telah menjadi luka lama yang tiba-tiba terbuka kembali. Ia menutup mulutnya dengan tangan, mencegah isak kecil lolos. Matanya terpejam sesaat, seolah dengan begitu kenyataan barusan bisa lenyap. Tapi tidak. Wajah da sorot mata tajam itu, seolah menjadi cara Levon berteriak memanggil namanya. Semuanya terasa begitu nyata. “Tidak mungkin! Dia ... masih hidup?!” bisiknya lagi. Tubuh Ella gemetar hebat. Bukan karena dingin, melainkan karena ingatan perih yang datang bertu

