Bab 16

1331 Words
Mereka masih saling tak bicara setelah apa yang barusan mereka lakukan. Zia sendiri tak mengerti dengan apa yang di inginkan oleh Leroy kepadanya. "Aku sudah menghentikan dukunganku pada Evelyn. Semua fasilitas yang dia terima selama ini sudah aku tarik. Apartemen juga mobil dan kartu yang dia bawa sudah aku blokir semua." Zia sedikit tercengang dengan semua yang dikatakan Leroy. Tak menyangka jika laki laki yang berstatus suaminya itu langsung melakukan semua nya setelah melihat bukti jika wanita yang selama ini bersamanya sudah membohonginya habis habisan. "Kau tak apa apa?" Leroy melihat ke arah Zia sebentar, mengambil napas panjang lalu menghembuskannya cepat. "Bohong jika aku bilang aku tak apa apa. Aku pernah mencintainya tulus, ada waktu yang beberapa kali bersamanya. Dan maaf jika perkataan ku ini menyakiti hatimu." jawab Leroy lirih. Zia tak bisa menghitung berapa kali Leroy meminta maaf kepadanya. Tapi masalah Leroy dengan Evelyn dia tak ingin ikut campur. Dia tak mau menambah masalah lagi dengan Evelyn. Kruyuk..... Perut Leroy berbunyi, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. Sementara Zia bengong lalu tiba tiba terbahak. Bagaimana tidak, dia tiba tiba menjemput Zia di tempat pemotretan. Dan membawakan banyak makanan untuk semua orang tapi dia sendiri sudah kelaparan. "Jangan menertawakan ku Zia, aku malu sekali." Zia berdehem, dia lalu berdiri dan meninggal Leroy untuk pergi ke dapur. Dia ingin melihat isi dapur Leroy seperti apa. Saat membuka kulkasnya dia sempat terkejut karena kulkasnya penuh dengan bahan makanan. Berpindah ke lemari yang ada disana, semua lengkap. Makanan instan pun ada. Semua bumbu lengkap. Tapi Zia malah curiga, Leroy tinggal disana sendirian dan semua kebutuhan dapur lengkap. "Kau tinggal bersama siapa disini? Ada bibi yang datang kemari?" Leroy yang mendengar pertanyaan Zia membuka kedua tangannya. Menoleh ke arah Zia yang ternyata sudah pindah ke dapur. "Tak ada, aku tinggal sendiri disini. Dan jika kau curiga aku tinggal bersama seorang perempuan karena bahan di dapur lengkap, sepertinya otak mu harus di ganti." Zia melotot ke arah Leroy karena semua perkataan Leroy yang menyuruhnya mengganti otak. Leroy yang melihat Zia kesal terkekeh, dia lalu mendekat ke arah Zia, meraih pinggang istrinya lalu memeluknya erat. Zia ingin sekali mendorong tubuh laki laki itu tapi Leroy memeluknya sangat erat. "Maafkan aku, jangan selalu di masukan hari semua kata kataku." "Kau menyebalkan!" "Aku menyukaimu." sahut Leroy cepat. Tubuh Zia membeku, mulutnya tak bisa lagi mendebat Leroy setelah Leroy mengatakan itu kepadanya. Leroy yang melihat istrinya diam langsung melepaskan pelukannya. "Zia, kau tak percaya padaku?" Zia langsung menggeleng, dia mendongak melihat Leroy yang lebih tinggi dari pada dirinya. Cup.... Belum sempat Zia mengatakan sesuatu lagi, Leroy sudah mencuri satu ciuman lagi dari Zia. "Jangan marah sayang, lebih baik kau masak sesuatu. Aku lapar sekali, atau kau ingin aku memakan mu saja?" goda Leroy. Bugh .... Zia memukul bahu Leroy keras yang membuat Leroy langsung meringis kesakitan. "Sakit sayang, kenapa kasar sekali?" rengek Leroy. Zia tak menggubris, dia berbalik lalu membuka kulkas disana. Mengambil beberapa bahan makanan yang cepat untuk dimasak. Jika dia harus masak nasi, waktunya terlalu lama. Jadi Zia mengambil spaghetti dan bahan pelengkapnya. Leroy menyaksikan Zia yang sedang memilah bahan masakan. "Kau alergi makanan tertentu?" tanya Zia tanpa berbalik. "Tidak." Zia mengangguk dan melanjutkan acara masaknya. Sementara Leroy memilih memperhatikan istrinya itu sambil bersandar pada dinding tak jauh dari Zia. " Mereka memang berbeda, aku harus berterima kasih pada papa dan mama yang sudah menjodohkan aku dengan Zia." batin Leroy. Senyum tipis terpatri di wajah tampannya. Sekilas dia ingat ketika bersama Evelyn dan itu ada di apartemen nya yang lama jauh dari apartemennya yang baru ini. Saat itu dengan keadaan yang sama, Leroy baru selesai rapat sejak pagi. Dia menemui Evelyn dan saat dia tiba, perutnya juga keroncongan karena belum sempat makan siang. Ada Evelyn disana tapi Evelyn tak peduli, dia hanya sibuk bermain ponsel dan mengabaikan keadaan Leroy. Ketika Leroy meminta Evelyn untuk menyiapkan makanan, Evelyn berkilah jika dia sedang lelah. Evelyn memilih memesan makanan online, itu pun Leroy sendiri yang membayar nya. Yang lebih membuat syok adalah banyak makanan yang di pesan Evelyn. Ketika di tanya jawaban Evelyn mengatakan jika sebagian makanan itu akan dibawanya pulang ke apartemen Evelyn. Jika mengingat itu ternyata Leroy benar benar bodoh sekali. "Ayo makan, sudah matang." Leroy mengikuti Zia yang sudah ada di depan meja makan. Meskipun terlihat sederhana tapi semua masakan itu benar benar menggoda selera Leroy. Cup.... "Terima kasih istri." Blush .... Pipi Zia sudah memerah seperti kepiting rebus ketika Leroy memanggilnya seperti itu. Dia tak berani mengangkat wajahnya karena takut kalau Leroy akan meledeknya. Leroy mengambil suapan pertama dan merasakan masakan Zia. Dia tersenyum tipis lalu melanjutkan makannya dengan tenang. Sementara Zia memperhatikan Leroy dalam diam. Ada rasa hangat dihatinya ketika masakan sederhana nya dinikmati oleh Leroy. Ponsel Zia berbunyi dan itu dari Natalie. "Ada apa Nat?" Gawat Zia, Rama saat ini ada di rumah sakit dan dia bilang jika anak buah Leroy menghajarnya di tengah jalan. Sekarang Rama sedang sekarat, tubuhnya penuh luka juga tulang tangan dan kakinya patah. Aku mau langsung menyangkal tak bisa karena dia punya video CCTV yang menunjukan jika orang orang itu adalah orang milik Leroy. Zia menaikkan sebelah alisnya lalu melihat ke arah Leroy yang tengah makan dengan lahap. "Tak mungkin itu anak buah Leroy, dia sedang makan siang bersama ku. Dan sejak tadi dia tak memegang ponselnya sama sekali." Leroy yang mendengar Zia menyebut namanya pun mengalihkan perhatiannya pada Zia. Terlebih ketika raut wajah Zia sudah berbeda sejak tadi. "Sayang kenapa?" Natalie yang mendengar suara Leroy memanggil Zia dengan sebutan sayang pun langsung terdiam. Zia, kata kata Leroy di tempat pemotretan tadi menjadi bukti jika Leroy mengancam Rama. Zia mengusap wajahnya kasar, dia lalu menghela napas panjangnya karena tak menyangka jika akan ada kejadian seperti ini. Dia baru saja menikah dua hari tapi masalah demi masalah langsung menghampiri nya dan juga Leroy. "Pantau terus Nat, aku akan bicarakan ini dengan Leroy." Setelah mengatakan itu, Zia mematikan sambungan telfonya. Saat dia berbalik, dia melihat Leroy mengulurkan tangan kepadanya. Zia menurut, dia menyambut tangan Leroy dan duduk di pangkuan Leroy dengan gelisah. "Kenapa? Ada masalah? Atau aku berbuat hal yang tak kau suka lagi?" Zia menatap wajah Leroy yang sedang penasaran kepadanya. Lalu Zia membuka ponselnya dimana Natalie sudah mengirim pesan yang berisi berita tentang Leroy yang menyuruh anak buahnya menghajar Rama. Rahang Leroy mengetat, lalu dia melihat ke arah Zia yang masih terus menatapnya. "Kau percaya pada berita itu?" Zia menggeleng, dan itu cukup membuat Leroy bernapas lega. "Aku akan mengurusnya. Dan rekaman CCTV itu sepertinya ada yang mengaturnya. Kau tahu sendiri kalau aku tak sempat mem...mmph ..." Mata Leroy membola ketika Zia tiba tiba menciumnya tanpa aba aba. Tak hanya ciuman biasa tapi Zia melumat bibir Leroy lebih dahulu. Leroy yang awalnya kaget akhirnya menutup matanya mengikuti keinginan Zia saat ini. Ciumannya semakin intens dan hawa di meja makan itu semakin panas. Zia bergerak gelisah di atas pangkuan Leroy. Terlebih saat ini dia merasakan milik Leroy semakin membesar di bawah nya. Eungh ..... Zia melenguh tanpa sadar ketika tangan Leroy menangkup benda kenyal milik Zia. Tak hanya menangkup biasa, tapi Leroy juga menggerakkan tangannya lembut disana. Kurang puas karena tangannya terhalang pakaian Zia, tangan Leroy menelusup masuk ke dalam baju Zia. Zia sedikit berjingkat karena tangan panas Leroy langsung bersentuhan dengan kulitnya. "Ahh......." Desahan pertama Zia ketika ciuman nya terlepas dan bibir Leroy pindah ke telinga juga leher Zia. "Leroy ....." panggil Zia lirih. Leroy yang menggila menyingkap baju Zia dan membuat milik Zia langsung berhadapan dengan wajah Leroy. Hap.. Leroy melahap benda kenyal yang besar itu. "Ah ....Leroy geli......" Zia bergerak gelisah dan menekan bokongnya pada milik Leroy. Rasanya benar benar gila karena ulah Leroy. Baik Leroy dan Zia baru pertama kali merasakan nya. Dan semua yang mereka lakukan murni karena insting manusia. Zia semakin menekan kepala Leroy agar terus bermain disana. Tapi kesenangan itu tak berlangsung lama ketika ponsel Leroy dan Zia berbunyi secara bersamaan. Mereka saling pandang dan melihat ponsel masing masing dimana Natalie dan Alvaro menelfon mereka secara bersamaan. "Sayang nanggung....." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD