Bab 17

1308 Words
Leroy tak menggubris panggilan Alvaro, dia sudah kembali fokus pada Zia. Ingin kembali melahap satu bagian tubuh Zia yang mungkin akan menjadi favoritnya. "Leroy, angkat. Aku takut jika itu penting." Leroy mendengus kesal, di tetap memeluk Zia posesif. Sementara Zia merapikan kembali pakaiannya. Meskipun jantungnya masih berdetak kencang tapi sepertinya ada hal penting yang Natalie ingin sampaikan kepadanya begitu juga dengan Alvaro. "Katakan, jika itu bukan hal penting aku akan memotong gajimu!" Tuan muda sensi sekali, seperti orang belum dapat jatah saja. "Kau mau mati Al?" Laki laki itu sedang mengadakan konferensi pers karena dia juga termasuk salah satu model ternama di negara ini. Dia juga mengatakan jika Tuan muda memaksa Nyonya muda menikah dengan nya padahal tuan muda sudah mempunyai kekasih. Laki laki itu juga membeberkan perihal tuan muda yang kemarin sempat menemui mantan kekasih tuan. Jadi sekarang tuan ingin melakukan pembelaan seperti apa? Karena masalah ini, semua dewan direksi menuntut tuan turun dari jabatan CEO juga beberapa saham langsung menurun drastis. Tapi tuan besar dan mertua belum mengambil tindakan apapun. Mereka berpesan agar tuan sendiri yang menyelesaikan masalahnya." Leroy dan Zia saling memandang, bisa bisanya seorang Rama melajukan itu semua kecuali jika di belakangnya ada orang yang mendukung Rama. "Cari tahu dengan siapa laki laki sialan itu bekerja sama. Satu jam dari sekarang aku sudah dapat laporannya!" Sekarang gantian Zia yang mengangkat telfon dari Natalie. "Ada apa lagi?" Aku menemukan beberapa bukti tranferan mencurigakan dari Rama ke pihak management. Aku rasa ada beberapa pihak management yang ikut mendukung Rama. Atau bisa jadi, ada salah satu petinggi yang tak suka dengan mu? Zia menaikkan sebelah alisnya bingung, karena selama ini pekerjaannya selalu baik baik saja. Dan kenapa setelah dia menikah ada hal hal seperti ini yang baru muncul. "Cari tahu siapa yang bertransaksi dengan dia, jika kau kesulitan gunakan kekuasaan Daddy untuk menerobosnya. Satu jam dari sekarang semua data itu sudah harus selesai!" Zia mematikan sambungan telfonnya, karena sejak tadi dia sudah menahan napasnya ketika Leroy tiba tiba menciumi leher miliknya. Tak hanya itu, tangan Leroy sudah kembali merambah masuk ke dalam baju milik Leroy. "Leroy, bisa tidak kau menahannya lagi? Kita sedang ada masalah seperti ini!" Zia kesal karena Leroy terlihat santai. Dia bahkan tak mendengarkan apa yang di katakan Zia saat ini. "Aku tahu, tapi juniorku juga tak bisa menunggu sayang. Kau tahu, menahan nya yang sudah sangat tegang membuat kepalaku pusing. Tak cuma kepala atas, tapi kepalaku bawah juga ikut pusing." keluh Leroy. Zia menganga, bisa bisa nya seorang Leroy mengatakan itu tanpa ada filternya sama sekali. Ingin rasanya dia merobek mulut Leroy yang semakin kesini semakin terlihat wajah aslinya. "Leroy .....ahhh ....." Zia kembali mendesah ketika Leroy memainkan puncak mungil miliknya. Leroy yang melihat wajah Zia mendongak ketika dia menyesapi leher nya pun tersenyum samar. Katakan Leroy gila, dia baru saja melepaskan wanita di masa lalu nya dan saat ini dia sedang menikmati wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Zia meremas rambut Leroy yang sedikit panjang. Zia menekan kepala Leroy yang masih sibuk menikmati benda bulat kenyal itu seperti bayi yang kelaparan. Zia harus mencari cara agar Leroy mau berhenti melakukan nya. Meskipun mereka sudah menikah tapi masih ada rasa ragu di benak Zia. Mengingat beberapa masalah yang datang kepada mereka setelah mereka menikah. Saat tangan Leroy menyusuri ke bagian pangkal paha, Zia benar benar langsung menghentikannya. "Leroy, jangan ..... aku belum siap." Mata Leroy yang terpejam langsung terbuka, dia seketika sadar jika dirinya juga terlalu cepat. Dia lalu memeluk Zia erat, mengontrol napasnya yang memburu juga berusaha meredam hasrat liarnya yang semakin panas. "Zia, maaf. Aku kelewatan kali ini." bisik Leroy lirih. Leroy memeluk tubuh Zia semakin erat, sedang Zia masih terdiam di tempatnya tanpa membalas pelukan Leroy kepadanya. Leroy lalu memindahkan tubuh Zia ke atas meja makan. Dia meletakkan kepalanya di pangkuan Zia. Zia spontan mengusap kepala Leroy, sedangkan Leroy sudah memeluk pinggang Zia dalam diam. "Seandainya aku dulu dengarkan omongan mama dan papa kalau dia cuma manfaatkan aku mungkin masalah ini tak akan terjadi. Kau juga tak akan sakit hati ketika menikah dengan ku." Usapan di kepala Leroy terhenti, dia merasa jika Leroy lebih sensitif dari pada dirinya. Padahal masalah ini bisa diselesaikan dengan cepat. Tapi Zia merasa jika Leroy masih berat dengan masa lalunya. "Mandilah, aku akan minta Alvaro dan Natalie datang kesini." Leroy mengangkat kepalanya dia merasa jika Zia tengah menghindarinya. "Kau marah padaku?" Leroy lalu bangun dan berdiri di depan Zia dengan sorot mata yang berbeda dari pada yang tadi. "Marah untuk apa?" "Kenapa tak menanggapi ku ketika kau bercerita tentang dia?" Zia menghela napas panjang, kali ini dia sangat bingung dengan kelakuan Leroy. Rasanya Leroy yang dia lihat bukan Leroy yang sebelumnya selalu bersikap datar. Tangan Zia terulur ke kening Leroy dan benar dugaannya. Suaminya demam, untuk itulah kenapa dia rewel seperti anak bayi. "Badanmu tiba tiba demam, kau terlalu banyak berpikir." Zia turun dari atas meja, dia menarik tangan Leroy dan membawanya masuk ke dalam kamar. Selain karena hasratnya tak bisa tersalurkan tiba tiba badannya tak nyaman karena banyak berpikir. Dan baru ini Leroy merasakan hal seperti ini. Sebelum sebelumnya meskipun dia sakit dia tak akan bersikap manja seperti sekarang. Zia menyuruh Leroy untuk tetap di kamar sementara dia mengambil obat untuknya. "Minum, habis itu istirahat. Kau bisa tidur sampai nanti mereka tiba disini." Leroy mengambil obat yang ada di tangan Zia, meminumnya lalu menurut pada Zia untuk segera istirahat. "Kau mau kemana?" Leroy bahkan kembali mencekal tangan Zia agar Zia tak pergi dari sana. "Aku kembali ke dapur membereskan bekas piring tadi. Kau tidurlah, aku tak akan pergi kemana mana." "Temani aku dulu." Nada bicara Leroy bukan permintaan tapi perintah untuk Zia. Akhirnya Zia duduk di sebelah Leroy, membiarkan suaminya itu memeluk pinggangnya erat. "Dia menjadi aneh, seperti bukan dia. Lebih baik aku nanti tanya mama. Aku takut dia salah minum obat tadi di kantor sampai dia seperti ini." batin Zia. Hampir setengah jam berlalu, Leroy akhirnya tidur dengan pulas efek obat yang sudah dia minum tadi. Zia keluar dari kamar membiarkan Leroy untuk istirahat. Setelahnya dia membereskan semua sisa makanan mereka. Disaat bersamaan, ponsel Leroy berbunyi. Lagi lagi ada pesan masuk dari nomer baru. Zia melihatnya, menyipitkan matanya ketika membaca isi pesan itu. Ternyata dari Evelyn. Leroy, kenapa apartemen ku tak bisa aku masuki lagi? Dan aku ke apartemen milikmu tapi aku juga tak bisa masuk kesana? Dan apa ini? Kau memblokir nomerku yang lama? Kau gila Leroy, bagaimana jika aku sampai hamil anakmu dan aku tak bisa menemukanmu? Kau tega dengan ku? Apa karena wanita sialan itu, kau sampai berbuat seperti ini? Mata Zia membola membaca semua rentetan tulisan itu. "Hamil?" Satu kata itu membuat hatinya goyah, dia melihat ke arah pintu kamar dimana Leroy sedang berbaring karena demam. "Sejauh apa sebenarnya kalian berhubungan di masa lalu? Dan kau Leroy, apa kau seperti laki laki diluar sana yang juga doyan celap celup tanpa mau bertanggung jawab?" Zia meremas kuat ponsel itu, tapi kemudian dia memilih mengambil napas panjang dan menghembuskannya cepat. Dia tak akan terpancing kali ini, dia harus memikirkan semuanya pelan pelan. "Tidak Zia, kau pernah menyelesaikan masalah yang lebih dari ini. Jadi jangan cepat mengambil keputusan dalam keadaan marah." Zia meletakkan ponsel milik Leroy. Dia merasa aneh, Leroy sudah mengganti ponselnya dengan yang baru bahkan juga nomernya tapi kenapa wanita itu masih bisa menghubunginya. "Apa mungkin orang terdekatnya yang mengkhianati nya?" Zia tak bisa percaya orang disekitar Leroy kali ini. Beruntung Zia belum sampai menyuruh Alvaro dan Natalie untuk datang kesana bahkan mengirim lokasi alamat apartemen Leroy yang baru ini. "Alvaro, jangan sampai pikiran ku tentang mu salah. Jika sampai kau dibalik ini semua, aku akan membuat mu menyesal seumur hidup karena kau mengkhianati Leroy!" Zia menghubungi Natalie untuk meminta bantuan Natalie. "Nat, selidiki orang disekitar Alvaro. Gunakan kemampuan mu untuk kali ini!" Kau mencurigainya? Tapi kenapa? Apa dia melajukan sesuatu yang membuatmu waspada sampai seperti ini? to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD