Bab 18

1319 Words
Zia terus menimbang untuk mengatakan semuanya pada Natalie. Lalu dia akhirnya menceritakan semua nya pada Natalie tentang apa yang terjadi pada Leroy. Jadi karena itu kau mencurigai Alvaro? Semuanya masuk akal mengingat Leroy juga sudah mengganti ponselnya. Tapi bisa jadi Leroy sendiri yang memberikan nomer baru itu pada nenek lampir itu. Zia kembali terdiam, tapi untuk apa Leroy harus susah susah seperti itu jika hasilnya akan sama saja. "Beritahu aku apa yang terjadi jika kau menemukan sesuatu tentang Alvaro. Atau bisa juga jika selama ini memang semua sudah di atur oleh Alvaro!" Sekarang ganti Natalie yang terdiam, semua menjadi masuk akal untuk mereka. Baik, aku akan melakukan apa yang aku minta. Jaga dirimu Zia, ingat jangan terlalu terlena dengan apa yang laki laki katakan terlebih kau menikah karena dijodohkan dan laki laki itu pernah bersama perempuan lain. Aku tak mau kau terpuruk, dan jika dia sampai menyakitimu aku juga tak segan menghabisinya. Natalie memutus sambungan telfon itu, Zia tahu jika Natalie serius dengan apa yang dia katakan. Zia menghembuskan napas panjang karena merasa jika pernikahan nya akan menyita tenaganya. "Dia seorang keturunan Mahasura, tapi dia lembek sekali menyangkut wanita. Mau heran tapi itu Leroy." Zia kembali melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan sisa dapurnya. # Disatu sisi, Evelyn sedang kelimpungan mencari tempat tinggal yang baru karena Leroy benar benar mengusirnya. Dia bahkan mencabut semua fasilitas yang diberikan ya dulu. Semua kartu miliknya diblokir tanpa ada yang tersisa. "Berengsek kau Zia, kau merebut Leroy dan sekarang yang aku punya juga di ambil!" Evelyn terus menghubungi Leroy tapi tak mendapat respon sama sekali meskipun semua pesannya sudah dibaca. Tak lama, sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya. "Masuk, aku antar kau ke tempat lain!" Tanpa menunggu lama, Evelyn masuk ke dalam mobil itu. "Kenapa kau tak datang sejak tadi, aku sudah lelah berjalan seperti gelandangan." Orang yang baru saja di omeli itu tersenyum tipis, dia lalu meraih tangan Evelyn dan mencium tangannya. "Jangan marah sayang, aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu. Aku akan mengantarmu ke apartemen kita. Sementara waktu kau tinggal disana, jangan mengganggu Leroy. Dia saat ini selalu bersama istrinya. Jika kau nekat, kita tak akan mendapatkan apa apa lagi." Evelyn sudah mendengus kesal mendengar itu tapi saat ini dia tak bisa melakukan apa apa kecuali menurut pada laki laki yang ada di sebelahnya. # Zia yang saat ini menunggu Leroy di ruang tengah melihat beberapa gosip yang masih tersebar luas dimana Rama terus mengadakan konferensi pers terkait apa yang dilakukan Leroy kepadanya meskipun semua itu tak benar. "Cih, wajahnya saja terlihat polos ternyata topengnya juga menyebalkan." gerutu Zia. Greb.... "Eh..... " Zia sedikit berjingkat ketika ada yang memeluknya dari belakang. "Siapa yang menyebalkan?" Suara Leroy terdengar serak, Zia langsung menarik tangan Leroy untuk duduk di dekatnya. Dia memeriksa kening Leroy yang masih sedikit demam. "Kenapa kau bangun? Kau butuh sesuatu?" Leroy melepas tangan Zia yang ada di keningnya. Lalu dia menyandarkan kepalanya yang masih terasa berdenyut. Entah kenapa di depan Zia dia merasa lemah sekali. Berbeda ketika dia belum mengenal Zia. "Aku terbangun, dan kau tak ada di kamar. Jadi aku mencarimu kesini." Leroy bersikap manja kepada Zia seperti anak ayam kepada induknya. Rasanya aneh tapi Zia membiarkan saja sesuka Leroy. Lalu tak sengaja Leroy melirik ponsel Zia dimana disana ada tayangan siaran langsung yang menampilkan Rama sedang mengadakan konferensi pers. "Aku penasaran, sebenarnya siapa yang menghajarnya sampai wajahnya seperti itu?" Zia mengedikkan bahunya tak acuh. "Lagian nanggung sekali, kenapa tak sekalian di patahkan tangan kakinya. Kenapa cuma di bikin lebam saja? Kalau pun itu anak buah ku pasti sudah patah kaki dan tangannya!" Uhuk.... Zia tersedak ludahnya mendengar ocehan Leroy saat ini. Tapi semua yang dikatakan Leroy ada benarnya. Bisa jadi Rama memang merekayasa semua kejadian itu agar semua orang bersimpatik padanya. Bahkan tagar di semua media sosial meminta Zia menceraikan Leroy saat itu juga. Zia beralih pada Leroy, meletakkan ponselnya dan pandangannya fokus pada suaminya. "Leroy, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu." Leroy yang semula gelendotan pada lengan Zia langsung duduk tegap. Dia melihat wajah serius Zia saat ini, pertanda apa yang akan dibicarakan Zia adalah hal penting. "Jika orang terdekat mu mengkhianati mu, apa yang akan kau lakukan?" Leroy mengerutkan keningnya, dia masih tak mengerti arah pembicaraan Zia kepadanya. "Siapa yang kau maksud mengkhianati ku?" Zia menggigit pipi dalamnya ragu ketika ingin mengatakan sesuatu pada Leroy. Dia lalu mengambil ponselnya, membuka galeri. "Orang ku melihat Alvaro menjemput Evelyn di dekat apartemennya. Dan saat mereka mengikutinya, Alvaro dan Evelyn masuk ke sebuah unit apartemen yang baru." Tubuh Leroy membeku, dia melihat beberapa potret yang di ambil anak buah Zia. Dan itu benar Alvaro bersama dengan Evelyn. "Aku akan menghubunginya!" Leroy ingn pergi dengan wajah emosi, tapi Zia menahannya. "Tidak, jangan menghubunginya. Aku tak tahu ini hanya kebetulan atau memang Alvaro ada hubungan dengan mantan kekasihmu itu." Leroy tampak terdiam, dia tak bisa berpikir saat ini jika Alvaro menusuknya dari belakang. Bukan masalah jika Alvaro bersama dengan Evelyn. Tapi selama ini Alvaro tak menunjukkan hal mencurigakan. "Kenapa?" "Hah, apa yang kenapa?" Zia menatap Leroy bingung tapi melihat sorot mata Leroy membuat Zia menghela napas panjang. "Aku tak bermaksud, tapi saat kau tidur tadi, wanita itu menghubungimu, mengirim banyak pesan di ponsel mu yang baru. Dan setahuku nomer itu juga baru. Jadi darimana wanita itu mendapatkan nomermu jika bukan dari orang terdekatmu!" Leroy semakin terdiam, semua yang dikatakan Zia masuk akal. Dia menghembuskan napas panjang. Menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dengan memejamkan matanya. Zia merasa kasihan pada Leroy. Jika semua yang dipikirkan nya benar berarti Leroy di khianati semua orang yang ada di dekatnya. "Apa kau juga akan melakukan hal yang mereka lakukan? Apa kalian akan menganggap aku bodoh?" Zia masih menunggu apa yang ingin di katakan Leroy setelah ini. Zia tersenyum, sekarang gantian Zia yang masuk ke dalam pelukan Leroy. Leroy sempat tertegun dengan apa yang di lakukan Zia kepadanya. Tangah Leroy ragu saat ingin memeluk istrinya. "Jika aku melakukannya, keuntungan apa yang akan aku dapatkan? Tak ada. Mau mengambil semua uangmu? Aku pun cukup kaya!" kelakar Zia. Leroy tersenyum, dia yang semula ragu memeluk tubuh Zia akhirnya memberanikan percaya sekali lagi pada Zia. Selama ini Leroy terlalu acuh pada sekitarnya jadi dia tak pernah berpikir buruk pada Alvaro sekalipun. "Apa yang ingin kau lakukan?" Leroy malah bertanya pada Zia, dan itu membuat Zia bingung kenapa malah Leroy yang bertanya dia ingin melakukan apa saat ini. "Kenapa malah bertanya padaku, dia orang mu. Kau aneh sekali malah bertanya padaku." "Harusnya lebih baik aku tak tahu jika dia melakukan itu padaku." sahut Leroy lirih. Dia masih berpikir, alasan apa yang membuat Alvaro melakukan itu kepadanya. Rasanya selama ini dia tak pernah melakukan hal yang buruk pada Alvaro. "Aku tak tahu, tapi jika dia bersalah memang sudah sepatutnya dia harus di hukum. Dan itu terserah padamu, karena semua hal yang menyangkut urusanku, harus melaluimu." Zia mendelik mendengar itu, urusannya sana sudah sangat banyak dan ini harus di tambah dengan urusan Leroy. Melihat wajah tak terima Zia, Leroy mencubit gemas pipi istrinya itu. "Kenapa malah melihatku seperti itu? Bukannya kau tak mau jika aku berurusan dengan wanita lainnya lagi? Kau mau jika ada gosip baru tentangku?" Zia mendengus kesal, bisa bisanya Leroy memakai alasan itu untuk membuat Zia menuruti keinginan Leroy saat ini. Zia tak ingin berdebat, akhirnya dia mengangguk meskipun berat dengan keputusannya. # Di sebuah ruang tengah apartemen, terdapat dua orang yang sedang bergerak mencari kepuasan masing masing. Plak... "Argh ....." Satu tamparan keras mendarat di boking sang wanita. Tapi terlihat wanita itu sangat menikmati apa yang terjadi padanya. "Berapa laki laki yang menyentuhmu kemarin saat aku tak ada?" "Oh..... s**t .... ini enak....ehmmm...tak ada. Hanya orang orang petinggi yang memakaiku!" Laki laki yang menghujam Evelyn itu kembali menggerakkan tubuh nya dengan lebih cepat. "Kau memang jalang Evelyn, tapi sayangnya kau tak pernah bisa membuat Leroy mau menyentuhmu. Jadi ku anggap kau tak bisa melakukan apapun saat ini. Jika kau bisa membuat Leroy mau menyentuhmu aku akui kau memang hebat!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD