Pagi ini Leroy mengajak Zia pergi ke kantornya. Zia pun tak ada pekerjaan yang mendadak.
Alvaro menatap bingung pada suasana kantor yang sedang sibuk dengan beberapa orang.
"Ini ada apa?" tanya Alvaro bingung.
Salah satu karyawan Leroy pun ikut bingung karena Alvaro malah bertanya hal itu kepadanya.
"Apa tuan Alvaro tak tahu jika hari ini tuan Leroy mengadakan jumpa pers di kantor ini bersama nyonya Zia."
Tubuh Alvaro membeku, seketika pandangannya melihat semua orang yang berlalu lalang menyiapkan beberapa keperluan untuk jumpa pers itu.
"Kenapa aku tak tahu?" gumam Alvaro.
"Apa yang kau tak tahu?"
Alvaro langsung berbalik, di depannya ada Leroy dan Zia yang menatapnya heran.
"Semua ini apa tuan? Kenapa aku tak tahu apa apa? Tuan menyembunyikan sesuatu dariku?"
Leroy mendelik mendengar pertanyaan Alvaro. Dia lalu mendengus kesal pada Alvaro. Leroy mengambil ponselnya lalu menunjukkan pada Alvaro seberapa banyak Leroy menghubunginya.
"Kau kemana? Aku menghubungi mu sejak semalam tapi ponselmu tak aktif sama sekali. Jadi jangan mengomel jika kau tak tahu apa apa hari ini. Dan lagi, papa menyuruhku mengadakan jumpa pers ini mendadak. Aku tak bisa menolak, apalagi istriku juga terkena imbasnya!"
Alvaro gelagapan mendengar omelan Leroy kepadanya. Dia mengambil ponselnya dan ternyata benar, ponselnya mati tak bisa dinyalakan.
"Tuan maaf, ponselku kehabisan daya. Sepertinya aku lupa mengisi baterainya kemarin."
Alvaro terlihat panik karena dia tak tahu apa apa soal masalah ini.
"Sialan, ini semua karena Evelyn, jika dia tak terus menggodaku, aku tak mungkin kelewatan hal penting seperti ini. Dan apa tadi, Leroy menghubungi sejak semalam. Lalu apa yang dia rencanakan? Apa dia benar benar akan membuat Rama menjauh dan membongkar kebusukan Rama? Kenapa aku tak tahu sama sekali?" batin Alvaro .
Leroy yang merasa Alvaro aneh pun kembali menegurnya.
"Kau mau ku pecat Al, kenapa malah diam saja?"
Alvaro tergagap, dia lalu menyusul Leroy yang akan naik ke ruangannya sebelum jumpa pers itu dilakukan.
"Sial aku tak bisa menghubungi Evelyn dan yang lain. Ah, kenapa malah ponselku kehabisan daya?" batin Alvaro lagi.
Leroy dan Zia saling lirik melihat wajah Alvaro yang panik. Tapi Zia tahu, dalam mata Leroy ada rasa kecewa yang luar biasa karena dikhianati orang terdekatnya.
Zia menggenggam tangan Leroy lebih erat agar Leroy tak sampai lepas kendali.
"Tenanglah," ucap Zia.
Semua sudah di atur sebaik mungkin oleh Zia dan Natalie. Leroy hanya akan mengikuti apa yang di katakan Zia semalam. Dia sudah menyerahkan semuanya pada Zia soal hidupnya terlebih ketika mengetahui kenyataan bahwa Alvaro asisten nya sendiri mengkhianati nya.
Alvaro menyusul Leroy ke dalam ruangannya, dia memeriksa jadwal yang harus Leroy lakukan.
"Tuan, hari ini kau harus meting dengan investor dari Jerman dan juga Jepang. Mereka tak akan bisa menunggu lebih lama lagi."
Leroy mengerutkan keningnya ketika Alvaro membacanya semua agenda hari ini.
"Al, apa kau tak punya otak?"
"Hah? Apa maksud tuan?" tanya Alvaro bingung.
Leroy mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan.
Semua agenda meting hari ini sudah aku selesaikan melalui meting online di bantu oleh papa semalam. Karena papa juga ada keperluan dengan mereka. Lagipula jam sepuluh nanti aku akan mengadakan jumpa pers untuk masalah yang di timbulkan oleh laki laki sialan itu!"
Uhuk....
Zia tersedak ludahnya sendiri karena mendengar nada bicara Leroy yang kentara sekali jika Leroy membenci Rama.
"A-apa tuan? Semua sudah selesai?"
Leroy menatap Alvaro tak mengerti.
"Kau hari ini aneh sekali, salah mu sendiri kenapa sejak semalam ponsel mu mati dan tak bisa dihubungi!" Omel Leroy kesal.
Setelah itu Leroy kembali memeriksa beberapa laporan yang tinggal di setujui nya saja.
Sedangkan Zia memperhatikan Alvaro yang terlihat gelisah di tempatnya. Senyum samar terbit di wajah cantik itu. Tak hanya Zia, Leroy juga sempat melirik ke arah Alvaro.
Zia dan Leroy sengaja membuat ponsel Alvaro kehabisan daya dengan terus terusan menghubunginya.
Tapi bukan Leroy atau Zia yang melakukannya melainkan anak buah Leroy yang membawa ponsel Leroy.
Dan hari ini, Leroy terpaksa membeli ponsel dan nomer baru lagi agar Evelyn tak bisa menghubunginya. Kalaupun aktif pasti itu anak buah Leroy yang melakukannya.
Dan pagi ini, Alvaro sengaja di tahan Leroy di ruangannya bersama Zia dengan alasan pekerjaan. Tapi melihat wajah panik Alvaro tentu saja kesempatan itu datang dengan mudah.
Tak terasa saat ini pukul sepuluh sesuai jadwal yang di tentukan.
"Tuan, nyonya, ini waktunya. Kalian sudah di tunggu dibawah."
Anak buah Leroy memanggil Leroy.
"Jangan langsung kesana, biar aku yang memeriksa keamanannya."
Alvaro ingin melangkah pergi tapi suara Leroy menghentikan nya.
"Tak perlu Alvaro, semua asisten papa yang sudah menyiapkannya."
"Ayo sayang...."
Leroy bahkan memanggil Zia dengan sebutan sayang di depan Alvaro.
Meskipun merasa aneh, tapi Alvaro yang tak tahu apa apa tetap mengikuti Leroy dari belakang.
Saat sampai di tempat jumpa pers, Alvaro lagi lagi dibuat bingung karena dia juga dilarang untuk membuka acara itu seperti biasanya.
Tanpa Alvaro sadari, semua anak buah Leroy sudah diganti yang baru atas rekomendasi dari Daddy-nya Zia. Semua itu karena ternyata anak buah Leroy juga banyak yang mengikuti Alvaro.
Acara jumpa pers itu di mulai, awalnya terlihat biasa saja. Tapi kemudian di layar besar yang ada disana terlihat jika Rama sedang berbicara dengan seseorang yang sangat di kenali mereka semua. Tak hanya itu, bukti transaksi dan juga percakapan mereka terpampang nyata disana. Alvaro merasa aneh karena semua orang melihatnya dengan tatapan membenci.
Lalu ketika dia menoleh, matanya membelalak. Semua yang dia lakukan terkuak disana.
"A-apa ini tuan? Kenapa semua ini?"
Alvaro tak lagi melanjutkan perkataannya ketika di depan sana pertemuannya dan hubungannya dengan Evelyn juga langsung dibongkar.
"Apa ini Alvaro? Sejak lama kau sudah mengkhianati ku!"
Nada suara Leroy rendah dan dingin, dia menatap tajam pada Alvaro yang ketakutan.
Tapi detik berikutnya wajah ketakutan itu berubah menjadi biasa saja bahkan terkesan muak melihat Leroy.
Zia yang tahu jika Alvaro akan langsung menunjukkan jati dirinya tersenyum samar.
"Kau bodoh tuan, ah... aku tak perlu lagi memanggil mu tuan. Kau bukan lagi tuanku."
Alvaro menjeda perkataannya lalu melihat ke semua orang yang ada disana.
"Ya, aku melakukan semuanya selama ini. Evelyn adalah kekasih ku, aku menyuruhnya untuk mendekati Leroy karena aku dendam dengan nya. Dia sudah menghabisi adikku. Jadi aku merencanakan semua nya untuk membuatnya hancur. Tapi sialnya, dia malah menikah dengan wanita itu. Harusnya kau tak pernah muncul Zia. Kau membawa kesialan untukku!"
Alvaro menatap tajam ke arah Zia, dia sudah berjalan mendekati Zia.
Sret.....
"Zia!!" teriak Leroy keras.
Satu buah pistol mengarah pada pelipis Zia yang membuat semua orang panik. Anak buah Leroy tak bisa bertindak gegabah. Tapi mata Leroy menyipit di saat dia melihat Zia yang berdiri dengan tenang dan malah masih sempat menggoda dirinya.
"Sialan, apa yang kau rencanakan sayang, dia ingin menghabisi mu!" batin Leroy.
"Kau bodoh!" ucap Zia santai.
Mata Alvaro langsung melotot, dia semakin menekan pistol itu pada kepala Zia.
"Jangan mengatakan hal yang kau tak akan bisa menanggung nya!" bentak Alvaro.
Zia terkekeh, bukan Zia namanya jika dia takut dengan pistol itu.
"Untuk apa Leroy membunuh adikmu? Apa karena adikmu mencintai Leroy tapi Leroy menolaknya lantas kau bisa mengatakan jika Leroy yang menghabisi adikmu? Atau aku harus bilang jika orang terdekat mu sendiri yang menghabisi nya karena dia juga mencintai Leroy!"
Alvaro terdiam tak mengerti dengan semua kalimat yang dilontarkan oleh Zia.
"Jangan berbelit belit, katakan apa yang ingin kau jelaskan!" bentak Alvaro lagi.
"Evelyn, sejak awal dia melihat Leroy dia benar benar menyukainya. Lalu dia memanfaatkan hubungan kalian dan memaksa mu untuk melakukan semua itu. Terlebih ketika adikmu itu juga jatuh cinta pada Leroy karena dia pernah melihat Leroy bersama mu. Dan pada akhirnya mereka bersaing untuk mendapatkan Leroy. Tapi Evelyn lebih mudah bertindak ketika dia sudah menjadi pacar pura pura Leroy karena suruhan mu. Evelyn menghabisi adikmu karena dia khawatir jika Leroy akan melirik adikmu."
Zia mengakhiri penjelasan singkat nya.
Alvaro menggeleng tak percaya, tapi kemudian di layar itu di tampilkan CCTV dimana Evelyn mendorong adik Alvaro dari lantai atas perusahaan Leroy yang lama. Mata Alvaro membelalak, tubuhnya mendadak gemetaran melihat itu.
"Itu tidak mungkin!"
to be continued