Rafan menatap punggung Kirana yang melangkah pelan menuju kamarnya. Langkah wanita itu terlihat berat, seolah setiap pijakan adalah beban yang tak sanggup lagi ia tanggung. Lampu koridor memantulkan bayangan mereka di lantai marmer, bbayangan yang berdiri terlalu dekat namun terpisah oleh batas yang tak terlihat, tapi terasa nyata dan menyakitkan. Rafan mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, kalau Kirana masuk ke kamar itu sekarang, malam ini akan berakhir seperti malam-malam sebelumnya. Dengan jarak. Dengan diam. Dengan perasaan yang dipendam sampai nyaris membusuk. “Kirana…” Suara Rafan terdengar pelan, tapi cukup membuat Kirana berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, namun ia tak langsung membukanya. Bahunya sedikit bergetar, buk

