Bab 03

1045 Words
Tora menatap pada Murni yang duduk di sampingnya sekarang. Wanita baru saja meminum teh hangat yang dibuatkan oleh asisten rumah tangga mereka. Dia tersenyum manis pada Murni, yang balik menatap dirinya dengan senyuman manis sekarang. “Kenapa Mas?” pertanyaan lembut yang dilontarkan oleh Murni pada dirinya, membuat Tora rasanya tidak bisa untuk menikah lagi. Apalagi melihat senyuman Murni yang rasanya sangat tulus sekali diberikan pada dirinya, membuat dirinya semakin tidak tega untuk mempertemukan Murni dengan Kirana. Dia tahu kalau Murni juga mau dirinya menikah, tapi— dia tidak bisa rasanya untuk bersikap adil nantinya. Jahat sekali rasanya. Kalau nanti dia membuat Kirana menjadi perempuan yang diabaikan dan tidak mendapatkan perhatian pada dirinya. Apalagi jarak umurnya dengan Kirana sangat jauh sekali. Kirana lebih pantas menikah dengan Rafan dibanding dengan dirinya. “Kamu mau bertemu dengan dia?” tanya Tora. Murni mendengar pertanyaan suaminya tertawa kecil. “Kenapa tidak Mas? Aku mau melihat pilihan orang tua kamu. Apakah dia sangat cantik sehingga Mama memilihkan dia sebagai calon istri kamu.” Tutur Murni dengan wajah lembut dan senyuman yang begitu meneduhkan sekali yang diberikan oleh dirinya pada Tora. Murni memang sangat cantik sekali. Juga baik. Sayangnya, dia harus menderita karena penyakit yang mematikan. Hanya tunggu saja kata Dokter. Tuhan akan mengambil Murni dari dalam hidupnya. Tora yang membayangkan Murni pergi dari dalam hidupnya, membuatnya menggeleng. “Mas, kamu kenapa?” Tora tersadar dari lamunan menyakitkan. “Tidak apa. Rafan mau bertemu juga nggak ya sama dia? Dia itu baik. Tapi,” ada keraguan di dalam hati Tora mengatakan prihal umur Kirana pada Murni. Dia tahu kalau Murni pasti akan terkejut nantinya, ketika melihat Kirana secara langsung nanti. Murni mengerutkan kening, menunggu ucapan selanjutnya dari Tora. Yang diam dan tidak berkata apapun. “Tapi apa Mas?” tanya Murni pada akhirnya, dia sungguh penasaran sekali dengan apa yang dikatakan oleh suaminya ini. Tora tersenyum. “Kamu jangan kaget lihat dia nanti ya,” kata Tora, mampu membuat Murni semakin penasaran. Memangnya ada apa dengan wanita yang dijodohkan dengan suaminya? Wanita itu memang baik bukan? Akan merawat Tora dengan baik tidak hanya mau hartanya Tora saja. Melihat Tora yang tersenyum dan meringis pelan. Pasti ada sesuatu ini. “Memangnya kenapa Mas? Dia wanita baik, ‘kan? Mana mungkin bukan wanita baik yang dipilihkan oleh ibu kamu untuk kamu. Pasti Mama memilihkan wanita yang terbaik untuk kamu. Atau dia itu cantik sekali? Benar ya?” tanya Murni, membuat Tora mendengarnya tertawa kecil. “Kamu lihat saja sendiri nanti. Ini Rafan bagaimana? Dia masih menentang pernikahan ini ya?” tanya Tora menatap sekeliling rumah, tidak menemukan keberadaan anaknya. “Hem, dia masih tidak mau menerima kamu menikah lagi Mas. Tapi kamu yakin sama aku, kalau dia akan menerimanya nanti. Kamu tidak perlu memikirkan Rafan ya Mas. Biar aku saja nanti yang bicara sama dia, tentang kamu yang menikah lagi. Aku senang kamu mau menikah lagi.” Murni menggenggam tangan suaminya, memberikan sebuah kecupan di punggung tangan suaminya. “Kalau kamu bersiap ya. Kita akan ketemu sama dia. Murni, aku juga mau bilang. Setelah menikah dia akan tinggal di sini? Gimana? Kamu nggak setuju ya?” Tora menatap khawatir pada wajah Murni, dia takut istrinya itu tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh dirinya untuk membawa Kirana tinggal di sini bersama dengan mereka. Tora tidak bisa berbagi waktu kalau pisah rumah. Sudah pasti dirinya akan di rumah ini terus bersama dengan Murni. Karena Murni yang paling dia utamakan. Murni tersenyum mendengarnya. “Kamu bisa bawa dia tinggal di sini Mas, kalau memang dia tidak keberatan. Aku sudah siap kayak gini saja. Pakaian aku juga nggak jelek,” ucap Murni, ingin berangkat sekarang bertemu dengan wanita yang akan menjadi istri kedua suaminya. Pilihan dari mertuanya. Tora mengangguk, membantu Murni dan keduanya masuk ke dalam mobil. Tora sudah mengirim pesan pada Kirana, mengatakan kalau dirinya dan Murni akan menuju ke kafe. Gadis itu juga sudah di kafe. *** Tora dan Murni masih di dalam mobil. Tepatnya Tora yang belum siap mempertemukan Murni dan Kirana. Dua orang yang akan menjadi madu dan tinggal seatap dengan status sebagai istri pertama dan istri kedua. “Mas, kenapa hanya diam saja? Kita tidak jadi masuk ke dalam? Kasihan loh dia udah nungguin kita,” ucap Murni, memang dia belum tahu siapa nama calon istri kedua suaminya. Dia ingin berkenalan langsung dengan wanita itu, sehingga melarang suaminya untuk mengatakan siapa nama wanita itu. Tora mengangguk, setelahnya dia turun dari dalam mobil. Membantu Murni untuk turun. Keduanya berjalan masuk ke dalam kafe. Mata Tora menelusuri kafe, lalu dia menatap pada seorang gadis yang duduk dengan tenang memakai pakaian kerjanya. Dia tahu Kirana ini memiliki kantor penerbitan yang didirikan oleh dirinya satu tahun yang lalu berkat bantuan dari keluarga wanita itu. Tora membawa Murni untuk mendekati meja itu. “Maaf, Kirana. Kami datang sedikit terlambat,” ucap Tora. Kirana menengadah dan menatap pada Tora dan wanita yang ada di samping Tora. Wanita itu terkejut menatap pada dirinya. Kirana sudah menduga, wanita itu akan terkejut melihat dirinya yang masih muda dan lebih cocok menjadi anak wanita itu dibanding madu wanita itu. “Mas … ini calon istri kamu?” tanya Murni, dia menatap pada Kirana, bahkan mengusap matanya beberapa kali. Tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh dirinya sekarang, kalau calon madunya masih sangat muda sekali. Bahkan dia bisa menebak kalau umur wanita itu belum dua puluh lima tahun. Atau masih seumuran dengan Rafan? “Iya, ini Kirana Larasati. Gadis yang dijodohkan oleh Mama padaku, dan ayah Kirana adalah temanku.” Ucap Tora, dan dia bagaimana bisa lupa kalau ibunya bilang kalau calonnya adalah anak temannya Tora. Dan sudah pasti malam itu Tora tak perlu terkejut. “Muda sekali.” Ucap Murni, hal itu membuat Kirana tersenyum tipis mendengarnya. “Silakan duduk,” ucap Kirana, dia merasakan dadanya yang sesak. Sudah sejauh ini perkembangannya dengan Tora. Bertemu dengan calon madunya—istri Tora sendiri. Namun sampai sekarang Kirana belum bisa mengatakan pada kekasihnya kalau dia akan menikah dengan lelaki yang dijodohkan dengan dirinya. Bagaimana cara mengatakan pada pacarnya? Dia tidak sanggup melihat wajah terluka dari pacarnya, yang mengetahui Kirana akan menjadi istri orang bukan menjadi milik pacarnya pada akhirnya. Maafkan Kirana, sungguh Kirana ingin sekali minta maaf pada kekasihnya nanti. Tentang ia dan perjodohan ini. Perjodohan yang tak pernah diinginkan oleh dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD