“Assalamualaikum warahmtullah.” salam Darren sembari menolehkan kepalnya ke kanan dan ke kiri.
“Assalamualaikum warahmatullah.” diikuti Clarissa sebagai tanda berakhirnya sholat yang ia kerjakan.
Darren membaca doa terlebih dulu lalu berbalik badan menghadap ke arah sang istri. Clarissa menunduk malu ketika Darren menatapnya. Jantungnya berdebar kencang tidak karuan.
“Ya Allah, perasaan macam apa ini? Kenapa jantungku berdebar kencang seperti ini?” ujar Clarissa dalam hati
Darren memegang dagu Clarrissa dengan Ibu jari dan telunjuknya. Ia mengangkat sedikit agar bertatapan dengannya. Mata indah milik Darren menyorot teduh, seolah mengatakan kamulah perempuan yang aku tunggu selama ini.
Darren memegang ubun-ubun Clarissa lalu membaca doa sebelum melakukan hubungan suami-istri. “Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaan wa jannibi syaithoona marazaqtanaa.”
“Aamiin.”
“Boleh saya membuka mukenah kamu?”
Clarissa mengangguk pelan lalu menundukkan pandangannya. “Bismillah’hirohmanirrahim.” ujar Darren
Darren membuka mukenah yang istrinya kenakan, dan terlihatlah rambut indah milik Clarissa yang dia jaga selama belasan tahun. Rambut itu seketika tergerai indah ketika Darren berhasil membuka mukenahnya.
Darren berdecak kagum melihat kecantikan istrinya. “MasyaAllah.”
“Cantik!”
Blush
Kedua pipi Clarissa bersemu merah ketika mendengar pujian suaminya. Setelah menikah pujian terus keluar dari mulut Darren untuknya. Bahkan sebelumnya ia tidka pernah membayangkan pernikahannya akan sebahagia ini.
“Kok merah pipinya!?”
“E-enggak kok.”
“Malu, hm?”
“I-iya. Untuk pertama kalinya jadi Clarissa malu, dan rasanya aneh.”
“Nggak papa. Saya mengerti.”
“Wajar jika kamu malu-malu seperti ini, nanti juga akan terbiasa jika sudah lama kita hidup bersama.” lanjutnya
Setelahnya Darren menggendong Clarissa menuju tempat tidur. Ia tidak ingin menunda-nunda lagi. Setiap pasangan suami-istri pasti ingin memiliki keturunan. Darren ingin memiliki seorang anak laki-laki agar bisa dijadikan seorang pewaris.
Darren menindih tubuh Clarissa sembari menatapnya lembut. Ia mengelus pipi Clarissa membuat perempuan itu memejamkan mata. Clarissa terlihat menikmati sentuhan suaminya.
Sentuhan Darren beralih pada bibir merah alami milik Clarissa. “Boleh aku merasakannya?”
Clarissa membuka mata setelah mendengar pertanyaan Darren. Ia mengangguk pelan memberikan izin pada Darren untuk melakukan keinginannya. Dan…
Cup
Darren menyatukan bibir kedunya. Mereka sama-sama memejamkan mata saling menikmati moment yang keduanya ciptakan. Kedua tangan Darren menggenggam tangan istrinya dengan erat.
“Enghh..” lenguh Clarissa
Clarissa mulai larut dengan permainan suaminya. “Emhh..”
“Mashh..” Clarissa bergerak tidak nyaman karena hampir kehabisan nafas.
Di detik terakhir Darren menggigit bibir Clarissa membuat perempuan itu meringis kesakitan. “Awss..” ringisnya
“Huhh..”
“Sakit?” Darren mengusap bibir Clarissa yang basah karena perbuatannya barusan.
“Sedikit.”
Clarissa menghirup udara sebanyak mungkin karena hampir kehabisan oksigen. Dadanya terlihat naik turun tidak beraturan. “Huhh..”
“Maaf, saya kelepasan.”
Darren mulai melepas kancing pakaiannya satu per satu. Meskipun begitu tatapannya tidak pernah lepas dari wajah cantik sang istri. Tatapannya mulai berkabut pertanda ia menginginkan lebih dari ini.
Darren melempar pakaiannya ke sembarang arah, hal itu membuat Clarissa berpaling. Kedua pipinya terasa panas saat Darren melepas baju tepat di hadapannya. Bahkn jarak wajah mereka berdua cukup dekat.
“Tataplah saya, Clarissa!”
“Tapi…”
Cup
Darren mencium sekilas bibir Clarissa membuat perkataan perempuan itu terhenti. “Saya tidak menerima bantahan, Clarissa. Saya ingin kamu menatap saya dengan sepenuh hati.”
“Clarissa malu, mas!” cicitnya
“Maka dari itu mulai dari sekarang mulai dibiasakan, ya! Saya suka melihat mata indah kamu.”
“Akan Clarissa usahakan.”
Darren tersenyum mendengarnya. Dan…
Cup
Dalam hitungan detik Darren kembali menyatukan bibir keduanya. Clarissa atau Darren saling menikmati apa yang mereka lakukan. Sebagai seorang istri Clarissa pasrah di bawah suaminya. Tidak ada perlawanan sama sekali darinya.
“Enghh..” lenguh Clarissa
Genggaman keduanya semakin erat menunjukkan mereka saling menginginkan. Clarissa larut dengan perlakuan suaminya. Darren melepas bibirnya lalu menyatukan kening keduanya.
Dada Clarissa maupun Darren bergemuruh hebat. Nafas keduanya terlihat naik turun. Sejenak mereka mengambil nafas untuk mendapatkan oksigen. “Clarissa hampir kehabisan nafas, mas.” lirihnya dengan tatapan sayu
“Maaf!”
“Saya lanjut, ya!” Clarissa hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya.
Tanpa pikir panjang Darren melepas pakain yang dikenakan istrinya. Ia membuangnya ke sembarang arah. Sontak Darren bisa menatap pemandangan indah tepat di hadapannya. Pemandangan yang sebelumnya belum pernah ia lihat.
Tatapan Darren membuat Clarissa merasa malu. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan d**a sembari memalingkan wajah. Kedua pipinya terasa panas. Ia yakin kedua pipinya memerah seperti kepiting rebus.
“Jangan ditutup!” ujar Darren sembari menarik tangan Clarissa
“Mas, tapi…”
“Saya ingin melihatnya. Pemandangan indah yang tidak boleh dilewatkan.”
Tatapan Darren begitu lekat, bahkan matanya terlihat berkabut menginginkan sesuatu. Tatapannya turun ke bawah menelusuri pemandangan indah di hadapannya saat ini.
“Mas, jangan menatap Clarissa seperti itu!” ucapnya dengan nada malu-malu
“Kenapa? Saya suka melihatnya.”
“Ini semua milik saya! Tidak ada yang boleh menyentuhnya, walaupun seujung kuku sekalipun.” ujar Darren dengan nada penuh posesif
Blush
Nada posesif Darren membut hati Clarissa berdesir hebat. Rasanya mendebarkan sekaligus campur aduk. Clarissa memberanikan diri menangkup wajah Darren. Tatapannya begitu lembut membuat Darren terhipnotis.
“Tidak ada orang lain yang bisa menyentuh atau memilikinya, kecuali Mas Darren.”
“Apa yang Clarissa miliki sepenuhnya milik Mas Darren, dan begitupun dengan sebaliknya.” lanjutnya
Darren tersenyum mendengarnya. “Terima kasih.”
“Boleh saya mulai?”
Clarissa mengangguk malu-malu. “Silahkan, mas! Clarissa mengizinkan Mas Darren memiliki Clarissa seutuhnya.”
Dan setelahnya terjadilah malam panjang bagi Clarissa dan Darren. Keduanya larut dengan moment indah yang baru pertama kali mereka lakukan. Keduanya memang belum memiliki rasa apapun, namun sebagai istri yang baik Clarissa menjalankan tugasnya dengan baik. Ia harus memenuhi kebutuhan biologis suaminya agar hubungan mereka tetap harmonis.
"Sedikit lagi!" ujar Darren dengan nafas berat
"Sshh.. sakit, mas!"
"Sabar..."
Clarissa mencengkram kuat punggung suaminya sebagai pelampiasan. Ia merasakan sakit dan perih ketika penyatuan. Ia memejamkan mata menetralisir rasa sakit yang dirasakan. "Awss.. mashh, pelan-pelan!"
Darren mendorong tubuhnya dengan kuat, dan...
"Aarrgghh.." lenguhnya
Akhirnya Darren berhasil menerobos dinding itu setelah mendorong tubuhnya dengan kuat. Sejenak ia berhenti karena melihat istrinya menitihkan air mata. Ia memang tidak tahu apa yang dirasakan istrinya, namun ia mencoba untuk memahami. "S-sakit, mas!" lirih Clarissa
"Sstt.. sebentar lagi rasa sakit itu akan berubah, sayang."
Next>>