Darren mengelus pipi istrinya dengan lembut. “Saya tahu kamu pasti mengerti maksud perkataan saya barusan.”
Clarissa menelan ludahnya kasar. Ia bukan perempuan bodoh yang tidak mengerti perkataan Darren barusan. Sebisa mungkin ia mencoba tenang walaupun perasaannya sekarang tidak karuan.
“Boleh?” tanya Darren sekali lagi untuk memastikan
“Em…”
Perlahan Darren mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Tatapannya tertuju pada bibir Clarissa yang sejak tadi terlihat menggoda. Mau bagaimanapun ia tetaplah laki-laki normal. Setelah mempunyai seorang istri pasti rasanya berbeda.
Wajah keduanya semakin dekat, dan tiba-tiba….
Tok.. tok.. tok
Deg
Reflek Clarissa mendorong tubuh Darren menjauh. Ia langsung menegakkan tubuhnya setelah mendengar suara ketukan pintu. “Astagfirullah.” ucap Darren sembari mengucap wajahnya kasar
“M-mas ada yang ketuk pintu.”
Tok.. tok.. tok
“Clarissa, Darren, kalian belum tidur kan?” panggil Rosa
“Bunda, mas!”
Clarissa berdiri lalu melangkah mendekat ke arah pintu. “Sebentar, Bun!” sebelum membuka pintu Clarissa menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugup.
Ceklek
Clarissa membuka pintu sembari menunjukkan senyuman manisnya. Ia mencoba bersikap biasa saja walaupun saat ini jantungnya berdebar kencang. “Kenapa Bunda?”
“Em.. kamu belum bersih-bersih?”
“I-iya. Sebenarnya Clarissa mau bersih-bersih tapi tiba-tiba Bunda ketuk pintu.”
“Maaf ya, sayang. Bunda manggil kamu dan Darren untuk makan malam dulu. Sejak tadi kalian belum makan kan.”
Clarissa mengangguk pelan. “Iya, Bunda. Nanti setelah bersih-bersih kita langsung ke ruang makan.”
“Yaudah, Bunda tinggal dulu, ya! Kalian jangan lama-lama.” Clarissa mengangguk sebagai jawaban.
Setelah kepergian sang Ibunda Clarissa langsung menutup pintu, bahkan ia menguncinya agar tidak ada yang masuk. Ia melihat suaminya berbaring di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap. Ia tersenyum canggung mengingat kejadian mereka beberapa menit yang lalu.
“Mas Darren, Clarissa bersih-bersih dulu ya!” dan setelahnya Clarissa langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi sebelum Darren meminta sesuatu yang membuatnya bimbang.
Mendengar perkataan Clarissa, Darren langsung menegakkan tubuhnya. “MANDI BERDUA!” teriaknya
Dan…
BRAK
Dengan cepat Clarissa menutup pintu kamar mandi, hal itu menimbulkan suara kencang. Melihat pintu kamar mandi tertutup rapat membuat Darren berteriak kesal. “Aarrgghh..”
“CLARISSA!” teriaknya
“Astagfirullah’haladzim. Awas kamu, Clarissa.” gumamnya sembari tersenyum penuh arti
Clarissa menyandarkan tubuhnya setelah berhasil menutup pintu. “Huhh.. syukurlah!” ucapnya sembari memegang d**a
“Maaf mas, Clarissa belum siap. Bahkan yang lain sudah menunggu kita di ruang makan.” gumamnya
Clarissa melepas gaun yang ia kenakan lalu membersihkan tubuhnya. Ia tidak ingin membuat keluarganya menunggu lama karena mereka pasti sudah lelah setelah mengikuti berbagai acara malam ini. Mereka pastinya butuh istirahat cepat.
Beberapa menit kemudian.
Setelah selesai Clarissa keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaiannya. Dan ternyata Darren menunggu tepat di samping kamar mandi sembari bersendekap d**a. Wajah laki-laki itu terlihat dingin dan datar.
“Sudah selesai?” ujar Darren dengan nada dingin
“S-sudah, mas.”
“Mandi, gih! Clarissa ke bawah dulu, ya.”
“Hmm.” gumamnya dengan malas
Clarissa menahan senyum melihat respon suaminya. Ia tidak bermaksud, tapi tidak punya pilihan lain. Setelah Darren masuk ke dalam kamar mandi Clarissa melangkah keluar dari kamar. Ia akan turun terlebih dulu menemui keluarganya yang sudah menunggu di ruang makan.
“Selamat malam semuanya!” sapa Clarissa sembari tersenyum
“Malam, sayang!”
Mereka semua tersenyum manis melihat kedatangan Clarissa. “Kok sendirian, nak? Di mana Darren?” tanya Yani
“Em.. Mas Darren masih bersih-bersih, Umi.”
“Yaudah, sembari nunggu Darren datang lebih baik kita ngobrol sebentar.”
Yani ingin mengenal menantunya lebih dalam. Mereka hanya mengenal satu minggu, dan itupun beliau belum cukup memahami sikap dan sifat Clarissa. Namun beliau yakin jika menantunya perempuan yang baik.
Setelah berbincang tidak lama terdengar suara langkah memasuki ruang makan. Terlihatlah Darren dengan senyuman manisnya. “Akhirnya kamu datang juga, nak.” ujar Yani
“Mari kita mulai makan malamnya!” ujar Brama
Mereka makan dengan khidmat. Tidak ada suara di antara mereka. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang saling bersahutan. Tanpa Darren sadari wajah cemberutnya menjadi pusat perhatian kedua Orang Tuanya. Mereka merasa aneh dengan putranya itu.
***
Pukul 01.00
“Huaa..” Clarissa menutup mulutnya ketika menguap
Setelah semuanya selesai Clarissa masuk ke dalam kamar. Ia berniat membaringkan tubuhnya di atas kasur, namun tiba-tiba sepasang lengan melingkar di pinggang rampingnya.
Deg
Tubuh Clarissa mematung di tempat. Seketika rasa kantuknya hilang setelah mendapat pelukan secara tiba-tiba. Tanpa bertanya ia sudah tahu siapa pelakunya. “Mau ke mana, hm?” bisik Darren
“Clarissa mau istirahat, mas.”
“Buru-buru banget.”
“—“
Clarissa tidak buru-buru, namun tubuhnya terasa begitu lelah. Ia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya. “Em.. Clarissa capek, mas. Kan kita seharian berdiri, dan menemui para tamu undangan.”
“Hmm.. saya tahu.”
“Terus?”
“Mas mau melanjutkan moment kita tadi.”
Deg.. deg.. deg
Jantung Clarissa serasa ingin lepas dari tempatnya. Ternyata Darren masih mengingat aktivitas mereka beberapa jam yang lalu. Clarissa terdiam membisu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
“Kenapa diam, hm?” tanya Darren
“Mas…”
“Karena kedatangan Bunda kegiatan kita jadi tertunda. Namun hal itu tidak mengurungkan kita untuk melanjutkannya, bukan!?”
Glek
Clarissa menelan ludahnya kasar. Apa yang harus ia katakan pada suaminya? Darren melepas pelukannya lalu beralih memutar tubuh Clarissa agar menghadap ke arahnya.
Darren menangkup wajah Clarissa sembari menatapnya lekat. Sebagai laki-laki normal dan sudah menikah pasti Darren memiliki keinginan lebih untuk menyentuh Clarissa.
“Boleh saya meminta hak saya malam ini?” pertanyaan Darren mampu membuat Clarissa mati kutu.
“—“
“Saya ingin memiliki kamu seutuhnya, Clarissa. Menjadikan kamu istri saya sepenuhnya.”
“Ya Allah, apa yang harus aku katakan pada Mas Darren?” ujar Clarissa dalam hati
Clarissa memejamkan matanya sejenak sembari berpikir. Ia harus menyadarkan dirinya sendiri jika ia sudah menikah. Ia bukan lagi perempuan single. Mau bagaimanapun ia harus memenuhi kebutuhan biologi suaminya.
Perlahan Clarissa membuka mata dan menjawab… “Bismillahirohmanirrahim. InsyaAllah, Clarissa sudah siap, mas.”
Jawaban Clarissa membuat Darren tersenyum. “Kamu yakin?”
Clarissa mengangguk kecil. “InsyaAllah, Clarissa sudah yakin. Jika menunggu siap sampai kapan Clarrissa memenuhi kebutuhan biologis Mas Darren!?”
“Jadikan Clarissa istri Mas Darren seutuhnya!” jawaban Clarissa membuat Darren tersenyum manis. Akhirnya Clarissa mengizinkan ia untuk menyentuhnya.
Next>>