JPU (03)

1040 Words
Malam harinya Setelah banyaknya rangkaian acara tepat di pukul satu dini hari semuanya telah selesai. Para tamu undangan dan pihak keluarga sudah kembali ke rumah masing-masing. Saat ini hanya ada sang pengantin dan Orang Tua mereka. “Darren, kenapa kamu masih di sini?” tanya Yani Darren justru menggaruk keningnya yang tidak gatal. “Darren mau menemani Abi.” jawabnya dengan polos Brama terkekeh geli. “Untuk apa kamu menemani Abi? Abi sudah ada Umi yang menemani. Lebih baik kamu masuk ke kamar temani istrimu!” “Tapi…” “Malam ini adalah malam zafaf kamu, Darren. Kamu mau membiarkan istrimu begitu saja.” Darren langsung memalingkan wajahnya setelah mendengar perkataan Brama. Ia merasa malu mendengarnya. Bahkan kedua pipinya langsung memerah seperti kepiting rebus. Setelah acara pernikahan selesai pikiran Darren belum tertuju ke arah sana. “Abi jangan gitu, ah!” rengek Darren “Makanya ke kamar sana! Kasihan Clarissa pasti sudah menunggu kamu.” “Hmm..” “Selamat malam, Abi, Umi!” “Malam!” “Jangan lupa berikan kamu cucu yang lucu-lucu, ya.” ujar Yani sembari tertawa Darren langsung menutup kedua telinganya. Ia tidak ingin mendengar apapun dari kedua Orang Tuanya. Darren berjalan cepat meninggalkan kedua Orang Tuanya agar mereka tidak terus meledek. Resiko menjadi pengantin baru. Jika bukan sepupu yang menggodanya maka Orang Tua sendiri yang melakukan hal tersebut. Yani dan Brama geleng-geleng kepala melihat sikap putranya. “Bukannya langsung ke kamar menemani istrinya malah menemani Abi di sini.” ujar Yani “Putra Umi!” “Putra Abi juga.” Di sisi lain, Darren berdiri tepat di depan pintu kamar istrinya, lebih tepatnya kamar mereka berdua. Ia merasa ragu ketika ingin mengetuk pintu tersebut. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. “Huhh..” Darren menghela nafas kasar “Apa nggak usah aku ketuk pintunya?” gumamnya “Terus aku tidur di mana?” Darren mempertimbangkan isi pikirannya. Tiba-tiba ia merasa belum siap bertemu Clarissa, apalagi satu kamar dengannya. Setelah beberapa detik berpikir akhirnya Darren memutuskan untuk tidur di kamar lain. Darren berbalik badan lalu melangkah pergi meninggalkan kamar Clarissa. Namun baru dua langkah tiba-tiba suara Ibu mertuanya memanggil. “Darren!” panggil Rosa Deg Seketika langkah Darren terhenti. Ia berdiri mematung sembari memikirkan jawaban yang tepat jika Rosa mengajukan pertanyaan. Rosa mendekat ke arah menantunya. Darren tersenyum canggung menatap Ibu mertuanya. “Kamu mau kemana, Darren?” tanya Rosa “Em… itu..” Darren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung harus menjawab apa. “Itu kamar kamu dan Clarissa, nak!” Rosa menunjuk kamar Clarissa karena beliau berpikir Darren tidak mengetahui kamar mereka. “Ooh.. iya, Bunda.” Darren tersenyum bodoh. Ia benar-benar malu saat ini. “Langsung istirahat, gih! Kamu pasti capek kan!?” Darren mengangguk kecil. “Kalau gitu Darren masuk kamar dulu, Bunda.” “Iya, nak.” Darren kembali menuju kamar Clarissa. Perlahan ia mengulurkan tangannya memegang knop pintu. Dan… Ceklek Pintu terbuka dan Darren langsung masuk ke dalam agar Rosa tidak lagi memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Cepat-cepat Darren menutup pintu. “Huhh..” Darren menghela nafas lega setelah pintu tertutup Darren berbalik badan, dan… Glek Tubuh Darren mematung di tempat. Saat ia berbalik badan bertepatan dengan Clarissa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Clarissa hanya menggunakan handuk sebagai penutup tubuhnya. Mereka sama-sama terkejut karena kejadiannya begitu cepat. “Clarissa!” lirih Darren “Ya Allah, sejak kapan Mas Darren masuk ke kamar?” batin Clarissa berucap Sebagai laki-laki normal Darren merasakan hal aneh pada tubuhnya. Apalagi mereka saat ini hanya berdua di dalam kamar. Mereka sudah halal dan Darren bisa melakukan apapun pada Clarissa. Tatapan Darren begitu lekat. Ia mengakui kecantikan Clarissa malam ini, apalagi dengan rambut basah yang tergerai indah. Mahkota indah yang pertama kali ia lihat. Tanpa sadar Darren berjalan mendekat ke arah Clarissa. Perlahan Clarissa berjalan mundur karena takut. Jantungnya berdetak cepat melihat tatapan Darren padanya. “Kenapa Mas Darren mendekat ke arahku?” batinnya berucap “M-mas Darren mau apa?” tanya Clarissa dengan nada gugup “—“ Darren terus melangkah tanpa menjawab pertanyaan Clarissa. Karena takut dan fokus ke arah suaminya membuat Clarissa tidak memperhatikan langkahnya. Kakinya tergelincir karena lantai kamar mandi yang licin. “Aaarrghhh..” reflek Clarissa berteriak karena ingin terjatuh Dan… Hap Dengan sigap Darren menangkap tubuh Clarissa membuat tubuh perempuan itu jatuh ke pelukannya. Clarissa memejamkan matanya kuat karena takut. Setelah beberapa detik Clarissa menyadari jika tubuhnya tidak merasakan sakit. “Kenapa tubuhku tidak terasa sakit?” gumamnya Fyuhh “Emhh..” Perlahan Clarissa membuka mata setelah merasakan tiupan di wajahnya. Dan seketika tatapannya bertemu dengan mata indah milik sang suami. Jarak wajah keduanya begitu dekat membuat Clarissa maupun Darren bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Deg.. deg.. deg “Ya Allah, ada apa dengan jantungku?” batin Clarissa berucap “Cantik!” celetuk Darren “A-apa, mas?” “Ha?” seketika Darren tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara Clarissa “Mas Darren bicara sesuatu?” “E-enggak.” Darren membantu Clarissa menegakkan tubuhnya. “Kalau jalan hati-hati! Untung dengan sigap saya menangkap kamu.” “M-maaf, mas.” “Em.. Clarissa mau ganti baju dulu.” Secara tiba-tiba Darren menggendong Clarissa ala bridal style membuat perempuan itu memekik karena terkejut. “Aakkkhh..” reflek Clarissa mengalungkan kedua tangannya pada leher Darren untuk berpegangan. “M-mas Darren mau apa?” tanya Clarissa dengan nada gugup “—“ “M-mas!” Darren memilih diam. Entahlah, ia mengikuti kata hatinya tiba-tiba menggendong Clarissa. Ia membawanya ke arah tempat tidur. Sebagai laki-laki normal melihat istrinya hanya menggunakan handuk membuat pikiran Darren kemana-mana. Apalagi malam ini adalah malam pertama bagi mereka. Darren membaringkan tubuh Clariss di atas tempat tidur dengan hati-hati. “M-mas Darren mau apa?” “Saya mau kamu.” Deg Clarissa terkejut mendengar jawaban Darren. “Maksud Mas Darren apa?” Sebagai seorang istri ia sudah tahu apa yang dimaksud Darren, apalagi mereka pengantin baru. Namun di satu sisi ia belum siap. Ia masih takut. Tapi Clarissa tidak mungkin menolak permintaan Darren karena sudah kewajibannya sebagai seorang istri. Darren bergerak menindih tubuh Clarissa membuat perempuan itu tidak bisa berkutik. Jarak wajah keduanya membuat Clarissa tidak nyaman. Bahkan keduanya bisa merasakan hembus nafas masing-masing. "Mas, jangan seperti ini!" ucapnya sembari mendorong d**a bidang Darren menjauh darinya. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD