Satu minggu kemudian
“Sayang, mas berangkat dulu ya!” pamit Darren pada istrinya, Clarissa
“Iya, mas. Hati-hati, ya.”
Clarissa mencium punggung tangan suaminya dengan penuh hormat. Hubungan keduanya semakin harmonis. Meskipun menikah tanpa didasari rasa cinta Clarissa maupun Darren bisa saling menerima satu sama lain. Bahkan mereka terus belajar menjadi pasangan yang baik.
Darren mengelus kepala istrinya dengan lembut. “Kalau ada apa-apa langsung hubungi mas, ya!”
“Iya, mas.”
Cup
Darren mencium kening istrinya cukup lama. Hal baru yang telah menjadi kebiasaan bagi keduanya ketika ingin berpergian ataupun pulang dari suatu tempat. Hal itu bertujuan agar hubungan rumah tangga mereka tetap harmonis. Karena tidak semua keluarga bisa melakukan hal-hal kecil yang bisa membahagiakan pasangan.
“Assalamualaikum.” pamit Darren
“Waalaikumsalam.”
Clarissa melambaikan tangannya ketika mobil Darren mulai berjalan pergi meninggalkan perkarangan rumah. Bibirnya tidak berhenti tersenyum manis menatap kepergian suaminya.
Clarissa begitu bahagia bisa menjadi istri dari Darren. Ia tidak menyangka laki-laki pilihan Orang Tuanya adalah orang yang tepat, dan bisa membimbingnya menjadi perempuan sekaligus istri yang lebih baik.
“Clarissa harap rumah tangga kita terus seperti ini, mas” gumamnya
Siang harinya
“Alhamdulillah.. akhirnya selesai juga.” ujar Clarissa sembari tersenyum manis
Clarissa baru saja selesai memasak untuk makan siang suaminya. Sebentar lagi ia akan pergi ke kantor untuk mengantar makan siang. Ia yakin Darren pasti senang dengan kedatangannya.
“Lebih baik aku bersih-bersih dulu dan setelah itu pergi ke kantor Mas Darren.”
Dan setelahnya Clarissa berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sebelum bertemu suami ia harus tampil secantik mungkin untuk menyenangkannya.
Beberapa menit kemudian
Setelah selesai Clarissa mengambil kotak makanan yang sudah ia siapkan. “Waktunya berangkat.”
Clarissa berangkat ke kantor Darren dengan diantarkan oleh sopir pribadinya. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan suaminya. 20 menit lagi waktunya istirahat, karena hal itu ia harus segera sampai sebelum Darren keluar mencari makanan di luar kantor.
“Pak, tolong lebih cepat lagi ya, karena saya takut Mas Darren keburu keluar kantor.” ujar Clarissa
“Baik, Bu.”
Sopir itu menambah kecepatan mobilnya sesuai permintaan Clarissa. Dan tidak lama mobil yang mereka tumpangi sampai di tempat tujuan. Rasanya begitu lega setelah sampai. Masih ada beberapa menit lagi untuk menemui suaminya. Ia harap Darren belum keluar dari ruangannya.
“Terima kasih, Pak.”
Sopir tersebut mengangguk sembari tersenyum kecil. “Ditunggu atau saya kembali pulang, Bu?”
“Em.. tolong tunggu sebentar ya, Pak! Kalau sudah saya kabari.”
“Baik, Bu.”
Clarissa melangkahkan kakinya memasuki lobby perusahaan. Ia menuju respsionis untuk menanyakan keberadaan suaminya. “Selamat siang Bu Clarissa! Ada yang bisa saya bantu?” ujar pihak resepsionis
“Em.. apa suami saya masih ada di ruangannya?”
“Masih, Bu. Pak Darren belum keluar sama sekali dari ruangannya.”
Clarissa tersenyum mendengarnya. “Terima kasih.”
“Apa perlu saya antar, Bu?”
“Tidak perlu! Biar saya sendiri saja.” pihak resepsionis tersebut mengangguk sembari tersenyum
Clarissa berjalan memasuki lift yang langsung terhubung dengan ruangan suaminya.
Ting
Pintu lift terbuka. Sebelum masuk ke dalam ruangan suaminya Clarissa menarik nafas panjang terlebih dulu. Dan setelah siap ia membuka pintu ruangan suaminya secara perlahan. Dengan sengaja Clarissa tidak mengucap salam ataupun mengetuk pintu terlebih dulu karena ia ingin memberikan Darren surprise dengan kedatangannya.
Darren berdiri di dekat jendela dengan telepon di genggamannya. Ia tidak menyadari kedatangan Clarissa. Dengan langkah pelan dan hati-hati Clarissa berjalan mendekat ke arah suaminya. Dan…
Brugh
“Mas Darren!” Clarissa memeluk tubuh suaminya dari arah belakang, hal tersebut membuatnya terkejut.
“Sayang, kamu ke sini!?”
“Iya. Clarissa kesini bawain sesuatu untuk Mas Darren.”
“Oh, ya? Apa itu?”
Darren melepas pelukannya. Ia berbalik badan menghadap sang istri dengan senyuman manis di bibirnya. Sejak saat itu Darren sudah mulai terbiasa memanggil Clarissa dengan panggilan sayang. Panggilan baru yang semakin memperkuat hubungan rumah tangga mereka.
“Clarissa bawain bekal makanan untuk Mas Darren.”
“MasyaAllah. Coba mas lihat!”
Clarissa mengangguk. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Selagi masih bisa berbakti pada suami maka akan Clarissa lakukan sebaik mungkin. Clarissa membuka kotak makanan tersebut, dan seketika harum makanan memenuhi ruangan Darren.
“MasyaAllah.. harum sekali, sayang.” ujar Darren
Clarissa tersenyum malu-malu mendengarnya. “Jangan dipuji dulu sebelum merasakan, mas.”
“Tanpa merasakan mas sudah tahu rasanya bagaimana. Rasanya pasti lezat dan bikin nagih.”
“Mau Clarissa suapin?”
Darren mengangguk semangat. “Boleh.”
“Aaaa.. buka mulutnya, mas!”
Darren membuka mulut menerima suapan istrinya. Dan, rasanya tidak pernah berubah. Masakan istrinya selalu lezat dan bikin nagih. Di saat merasakan satu suapan seketika Darren menginginkan lagi dan lagi.
“Gimana rasanya, mas? Enak?” tanya Clarissa
“Enak. Saya suka.”
“Alhamdulillah.. Clarissa senang kalau Mas Darren suka.”
“Saya nggak mungkin nggak suka masakan kamu.”
“Dihabisin ya, biar makin semangat kerjanya!”
“Pasti. Mas akan bekerja lebih semangat untuk keluarga kecil kita.” Clarissa tersenyum mendengarnya. Ia begitu diusahakan oleh suaminya.
Entah kebaikan apa yang telah ia perbuat di masa lalu sampai memiliki suami sebaik Darren. Atau bisa saja kebaikan kedua Orang Tuanya yang membuat ia sampai di titik ini.
Darren menghabiskan makanan tersebut sampai habis tidak tersisa sedikitpun. Setelah selesai Clarissa kembali menyimpan kotak makanan tersebut ke dalam tas’nya. Ia akan segera pulang karena tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya.
“Alhamdulillah. Perut mas kenyang sekali, Clarissa.”
“Syukurlah. Clarissa senang mendengarnya, mas.”
“Yaudah, kalau gitu Clarissa pulang ya! Pak sopir pasti menunggu lama.” ucapnya
“Kenapa buru-buru banget sih!? Mas baru saja selesai makan.”
“Clarissa nggak mau mengganggu mas bekerja.”
“Nggak ganggu sama sekali.”
“Duduk sini!” ujar Darren sembari menepuk pangkuannya agar Clarissa duduk di situ.
“—“
Clarissa terdiam. Sudah pasti ia merasa malu jika melakukannya, apalagi mereka saat ini berada di kantor. “Kok diam? Nggak mau duduk di sini?” ujar Darren
“Mas, kita lagi ada di kantor. Sebaiknya Clarissa langsung pulang aja.”
“Huhh..” Darren menghela nafas kasar
“Duduk sini dulu! Sebentar aja!” lanjutnya
“Tapi…”
“Lagipula ruangan ini tertutup, sayang. Nggak akan ada yang berani masuk ke ruangan ini tanpa izin dari mas.”
“Ayo, duduk sini!”
Clarissa terdiam. Ia mempertimbangkan perkataan suaminya. Jika ia menolak sama saja membantah permintaan suaminya. “Ck, Mas Darren kenapa mintanya aneh-aneh aja sih?!” ucapnya dalam hati
Perlahan Clarissa mendekat ke arah Darren. Ia tidak ingin banyak membantah karena takut tidak patuh dengan suaminya. Clarissa berdiri tepat di hadapan suaminya dengan tatapan sulit diartikan.
“Duduk sini!” pinta Darren sembari menepuk pangkuannya
“Tapi…”
“Nggak mau, hm?”
“Bukan nggak mau, mas.”
“Tapi?”
Clarissa menghela nafas kasar. “Clarissa takut tiba-tiba ada yang masuk kesini.”
“Nggak akan ada, sayang.” ujar Darren dengan nada gemas
Clarissa mengerucutkan bibirnya. “Kita kan nggak tahu. Siapa tahu ada pegawai yang buru-buru bertemu Mas Darren sampai lupa nggak ketuk pintu terlebih dulu.”
“Ck, banyak alasan ya kamu.”
Dan…
Brugh
“Astagfirullah’haladzim.” pekik Clarissa
Tiba-tiba Darren menarik tangan Clarissa membuat wanita itu jatuh terduduk di atas pangkuannya. Dengan cepat Darren memeluk istrinya sebelum Clarissa berdiri.
“Mas…”
“Sstt.. diam, tetap seperti ini!”
Clarissa bergerak tidak nyaman karena belum terbiasa duduk dengan posisi seperti sekarang ini. Pergerakan Clarissa membuat Darren merasakan hal yang sama. Justru Darren yang merasa kurang nyaman karena pergerakan gesekan yang dilakukan istrinya.
“Sayang, diam. Jangan banyak gerak!” ujar Darren
“Nggak mau.”
“Clarissa nggak akan diam sebelum Mas Darren melepaskan Clarissa.”
“Diam, atau…”
“Atau apa, hm? Mau mengancam Clarissa?”
Bukannya takut Clarissa justru balik menantang suaminya. Ia menyipitkan mata menatap suaminya dengan tatapan penuh intimidasi. Wajar jika ia terus bergerak karena posisi duduknya terasa tidak nyaman. Ia ingin turun namun Darren menghalanginya.
“Berani, hm?” ujar Darren
“Habisnya Mas Darren nggak mau lepasin Clarissa. Biar Clarissa duduk di tempat lain aja.”
“Tapi mas maunya seperti ini.”
“Clarissa…”
Cup
Darren seketika menyatukan bibir keduanya, hal itu membuat perkataan Clarissa langsung berhenti. Ia tidak suka istrinya banyak membantah. Darren menyukai Clarissa yang selalu menurut padanya. "Emhh.." lenguh Clarissa
Clarissa tidak bisa memberontak sedikitpun karena kedua tangannya terhalang tangan Darren. Itulah akibatnya jika Clarissa banyak membantah. Seketika hukuman kecil akan ia dapatkan.
Next>>