“Emhh.. mas..”
Darren tiba-tiba menyatukan bibir keduanya membuat perkataan Clarissa terhenti detik itu juga. Darren tidak suka melihat istrinya banyak membantah. Ia lebih suka Clarissa pasrah di bawah tubuhnya.
Bugh
Bugh
Clarissa memukul punggung suaminya berulang kali meminta untuk dilepaskan. “Hmptt.. lewpasin, mas!” Clarrisa memberontak sembari berbicara dengan nada tidak jelas.
“Huhh..”
Clarissa menghirup oksigen sebanyak mungkin setelah Darren melepas bibirnya. “Huhh..” dadanya terlihat naik turun karena hampir kehabisan nafas.
“Kenapa, hm?” ujar Darren sembari mengusap bibir istrinya yang basah
“Suka banget bikin Clarissa kehilangan nafas.”
Darren terkekeh geli mendengarnya. “Tapi kamu juga suka kan!?”
“Enggak.”
“Oh, ya?” Clarissa memalingkan wajahnya enggan menatap wajah sang suami.
“Mari kita buktikan kamu benar suka atau enggak.”
Darren menyelipkan kedua tangannya di sela ketiak Clarissa lalu mengangkat tubuh wanita itu ke atas meja. “Eh,” dengan sigap Clarissa mengalungkan kedua tangannya pada leher Darren untuk berpegangan.
“Mas Darren mau ngapain?”
“Ingin membuktikan kalau kamu tidak suka dengan bibir saja.”
Glek
Clarissa menelan ludahnya kasar. Bahkan ia tidak mengatakan hal tersebut, tapi suaminya sendiri yang berasumsi seperti itu. “Clarissa tidak mengatakan seperti itu, mas.”
“Lalu?”
Darren mendekatkan wajahnya membuat Clarissa mundur, bahkan ia menahan nafas karena jarak wajah keduanya begitu dekat. Clarissa takut Darren melakukan sesuatu padahal laki-laki itu sudah Sah menjadi suaminya.
Clarissa menahan d**a bidang suaminya. “Mas Darren mau apa? Ingat, kita sekarang ada di kantor, mas.” ucapnya dengan nada gugup
“Hmm.. terus?”
“Jangan berbuat aneh-aneh.”
“Nggak ada yang aneh.”
“Yaudah, kalau gitu jangan dekat-dekat seperti ini! Mundur, mas!”
Bukannya mundur Darren justru semakin mendekat ke arah Clarissa. Bahkan tubuh Clarissa hampir terbaring di atas meja kerja Darren. Clarissa semakin tidak nyaman dengan perbuatan suaminya.
“Kak, jangan seperti ini!”
“Clarissa capek nahannya!”
Darren terkekeh mendengar perkataan Clarissa. “Nggak ada yang nyuruh kamu buat nahan saya, Clarissa.”
“Tapi…”
Clarissa berhenti bicara ketika Ibu jari Darren menyentuh bibirnya. Tatapan Darren tidak bisa bohong, dan ia mengerti arti tatapan itu. Darren semakin mendekatkan wajahnya, dan…
Cup
Darren menyatukan bibir keduanya. Belum sempat Clarissa menghindar Darren langsung menyerangnya begitu saja. Kedua tangan Clarissa digenggam oleh Darren membuat wanita itu tidak bisa bergerak. Ia terlihat pasrah dengan permainan suaminya.
“Enghh..” lenguh Clarissa
“Hmptt..”
Clarissa sedikit memberontak namun Darren langsung mengatasinya. “Mas.. hmptt..” Clarissa mulai kehabisan nafas. Ia membutuhkan oksigen.
Menyadari hal itu Darren melepas bibirnya. Ia beralih ke arah leher istrinya yang tertutup hijab. Clarissa mencoba menahan pergerakan Darren namun laki-laki itu menghalanginya.
Cup
“Mash…” lirih Clarissa
“Sstt.. jangan berisik, sayang!”
Perlahan tubuh Clarissa terbaring sempurna di atas meja kerja Darren, hal itu mempermudah dirinya untuk melakukan lebih. Satu per satu Darren melepas kancing jas kantornya serta kemeja yang ia kenakan. Setelahnya ia membuang pakaian itu ke lantai.
“Mas…”
“Sstt..” Darren mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibir Clarissa agar wanita itu diam.
“Clarissa nggak nyaman berada di sini, mas.”
“Hanya sebentar!”
“Tapi bagaimana kalau…”
“Tidak akan, sayang. Saya sudah mengunci pintu agar tidak ada yang masuk sembarangan.”
Darren menarik kedua tangan Clarissa secara perlahan. Clarissa duduk di atas meja kerja Darren dengan kedua tangan yang mengukung di sisi kanan dan kiri. Tatapan Darren begitu lekat dan lembut.
“Saya lepas hijab kamu, ya!” ujar Darren
“I-iya, mas.” jawab Clarissa dengan nada gugup
Perlahan jemari kekar Darren melepas hijab yang dikenakan istrinya. Tatapannya terus tertuju ke arah Clarissa. Setelah berhasil terlepas ia menaruh hijab istrinya di atas meja. Tidak lupa Darren juga melepas ikat rambut istrinya, dan seketika rambut panjang Clarissa tergerai dengan begitu indah.
“MasyaAllah.. cantik sekali istri saya!”
Blush
Kedua pipi Clarissa seketika bersemu merah. Ia menunduk malu setelah mendengar pujian dari suaminya. “Kenapa nunduk, hm? Biarkan saya menatap wajah cantik kamu dengan kemerahan di kedua pipi ini.” ujar Darren sembari mengelus pipi istrinya.
“Mas Darren jangan terus memberikan gombalan pada Clarissa.”
“Saya nggak gombal, tapi kenyataan.”
“Istri saya begitu cantik.” lanjutnya
Darren menyelipkan anak rambut Clarissa ke belakang telinga agar ia bisa melihat wajah cantik istrinya tanpa terhalang apapun. Tangan Darren turun lalu menuju ke arah punggung Clarissa untuk membuka resleting gamis yang dikenakan wanita itu.
Srett
Perlahan resleting gamis Clarissa turun ke bawah menunjukkan Darren berhasil membukanya. Dan, entah bagaimana caranya gamis yang Clarissa kenakan sudah tergeletak di lantai. Darren menatap istrinya tanpa berkedip. Jantungnya berdegup kencang melihat kecantikan istrinya saat ini.
“Mas Darren jangan menatap Clarissa seperti itu.” cicitnya
“Saya sangat menyukai pemandangan di hadapan saya saat ini.”
“Mash..” Clarissa menyilangkan kedua tangannya di depan d**a setelah mendengar perkataan Darren. Ia malu bercampur salah tingkah.
“Hei, kenapa ditutup? Jangan, sayang!” ujar Darren sembari menarik kedua tangan Clarissa ke dalam genggamannya.
“Biarkan saya menatapnya dengan leluasa. Lagipula ini semua milik saya!” lanjutnya
Darren semakin mendekat, dan…
Klek
Darren berhasil melepas satu-satunya pengait yang melindungi d**a Clarissa. Clarissa melebarkan matanya karena terkejut. Sekalipun menahan Darren tetap akan melakukannya.
“M-mas, jangan dilepas!” ujar Clarissa sembari menggelengkan kepalanya pelan
Darren hanya tersenyum kecil, dan setelahnya membuang benda itu ke lantai. “Mass…” pekik Clarissa
Dengan cepat Darren menahan kedua tangan Clarissa ketika ingin menutupi tubuhnya. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Clarissa memejamkan matanya dengan kuat karena merasa malu, bahkan saat ini kedua pipinya terasa panas. Ia yakin saat ini kedua pipinya terlihat memerah seperti kepiting rebus.
“Sstt.. diamlah, Clarissa!”
“Jika kamu banyak bersuara takutnya didengar oleh pegawai yang lain. Lebih baik kamu diam dan nikmati moment kita hari ini.” bisik Darren dengan suara lembutnya
“Tapi, mas…”
“Kamu tidak ingin hal itu terjadi kan?” Clarissa menggelengkan kepalanya
Darren tersenyum smirk melihat jawaban istrinya. “Kalau gitu diam, dan jangan banyak memberontak.”
Setelah memastikan Clarissa diam tatapan Darren turun ke bawah. Darren tersenyum manis. Seketika tenggorokannya terasa kering karena sudah tidak sabar menginginkannya.
Dan tiba-tiba…
“Mashh…” Clarissa terkejut dengan perbuatan Darren yang begitu tiba-tiba
Darren melakukannya begitu cepat, bahkan Clarissa belum mengumpulkan kesiapan untuk menerima serangan darinya. Clarissa mencengkram rambut Darren ketika hisapan itu cukup kuat.
“Mass.. pelanhh-pelanhh!” ujar Clarissa dengan nada meracau
Darren minum selayaknya bayi, cukup kuat, membuat Clarissa sedikit kuwalahan. Rambut Darren terlihat begitu berantakan karena perbuatan Clarissa. Sesekali Clarissa menggigit bibir bawahnya agar tidak begitu kencang mengeluarkan suara indahnya. Ia takut pegawainya yang lain merasa curiga jika mendengar suaranya.
“Cukup, mas!”
“Clarissa…”
“Enghh..” Clarissa melenguh karena merasakan getaran aneh dalam dirinya.
Darren beralih menegakkan tubuhnya, dan…
Cup
Darren menyatukan bibir keduanya dengan nafas terengah. Ia tidak peduli sekalipun nafasnya hampir habis. Darren kehilangan kendali membuat ia sedikit kasar melakukannya.
“Emhh..” lenguh keduanya
Suara keduanya terdengar begitu indah. Suasana yang sunyi dan dingin membuat keduanya semakin leluasa. Tangan Darren tidak tinggal diam. Ia meremas benda kenyal kesukaannya. Benda favorit miliknya yang tidak akan terlupakan untuk menyentuhnya.
“Mashh…” lenguh Clarissa
“Sshh..”
“Pelan-pelan, mas! Sakit!” Clarissa meringis kesakitan ketika Darren semakin kuat meremasnya.
Darren benar-benar hilang kendali. Matanya terlihat berkabut pertanda ia menginginkan lebih dari ini. Ia sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Darren ingin melakukannya sekarang.
Clarissa menahan tangan Darren. Tatapannya terlihat begitu sayu, keduanya sama-sama menginginkan, namun Clarissa masih bisa mengendalikan dirinya dan memiliki kesadaran.
“Jangan di sini, mas!” ucapnya dengan suara pelan
“Baiklah. Kita pindah ke kamar sekarang!”
Tanpa basa-basi Darren langsung menggendong Clarissa ala bridal style. Ia membawanya ke sebuah kamar yang ada di dalam ruangannya. Kamarnya cukup luas dan mewah. Kamar yang selalu ia gunakan untuk istirahat ketika sedang lelah.
Darren menurunkan Clarissa dengan pelan dan hati-hati seolah dia adalah barang yang mudah pecah. Setelah melepasnya Darren bergerak menindih tubuh Clarissa. Ia menggenggam kedua tangan Clarissa dengan cukup erat namun terasa lembut.
“Tatap saya, Clarissa!” ujar Darren
“Malu, mas!”
“Saya tidak akan memulai jika kamu masih berpaling. Saya ingin melakukannya dengan saling menatap.”
Akhirnya Clarissa memberanikan diri menatap ke arah suaminya. Tatapan keduanya terlihat sayu dan saling menginginkan. “Boleh saya memulainya?” tanya Darren dengan suara beratnya.
Next>>