“Bryan, Om pulang dulu ya!” ujar Darren Seketika wajah Bryan berubah sedih. Ia masih ingin bermain dengan Darren. Kehadiran Darren membuat Bryan bisa merasakan kasih sayang dan perhatian sosok Ayah. Karena sejak lahir ia tidak merasakan hal tersebut. “Pulang ya, Om?!” “Iya, boy. InsyaAllah, besok Om ke sini lagi.” “Huhh..” Bryan menghela nafas “Kenapa harus pulang, Om? Kenapa nggak tinggal satu rumah saja sama Bryan dan Mama?” Deg Darren tersentak mendengar perkataan Bryan. Hal itu tidak mungkin terjadi, dan tidak akan pernah mungkin. Ia memiliki keluarga sendiri di rumah. Bahkan Amora terkejut mendengar perkataan putranya barusan. “Boy, Om nggak bisa tinggal satu rumah dengan kamu dan Mama kamu.” “Kenapa, Om?” “Karena kita bukan mahrom.” Bryan mengerjapkan matanya ber

