JPU 32

1369 Words

“Hikss..” Clarissa menangis sesenggukkan selama di perjalanan. Niatnya untuk menenangkan diri justru berakhir luka. Jika tahu sejak awal Lebih baik Clarissa diam di rumah. Namun ternyata Allah memiliki rencana sendiri untuk menunjukkan sesuatu yang seharusnya ia ketahui. “Hikss..” “Sstt.. tenanglah, nak!” “Di sini ada Bunda yang akan selalu menemani kamu.” Rosa mengelus punggung putrinya untuk menenangkan. Rosa ikut terpukul dengan kejadian barusan. Beliau merasa bersalah telah mengajak putrinya keluar. “Maafin Bunda ya, sayang.” ucapnya dengan penuh rasa bersalah “Enggak. Ini semua bukan salah Bunda.” “Bunda tidak perlu minta maaf.” ujar Clarissa dengan suara bergetar Pelukan Clarissa begitu erat seolah takut kehilangan. Ia tidak akan sekuat ini jika tidak ada Orang Tua yan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD