BAB 32: ASAL-USUL YANG GELAP

1034 Words

Lantai granit vila bergetar hebat saat ledakan kedua menghantam barikade gerbang depan. Suara sirine peringatan yang melolong tinggi menciptakan atmosfer distopia di tengah kemewahan Alpen yang sunyi. Amara tidak melepaskan moncong pistolnya dari dagu Sang Arsitek, meski tangannya sedikit bergetar karena guncangan emosional dari kalimat terakhir pria tua itu. Pertanyaan tentang identitas Leo terasa lebih mematikan daripada pasukan khusus yang kini sedang merayap di dinding luar gedung. "Katakan yang sebenarnya sebelum aku menarik pelatuk ini," desis Amara dengan tatapan yang mampu membekukan api. Sang Arsitek sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Ia justru menyesap sisa wiski di gelasnya dengan tenang, seolah kematian hanyalah gangguan kecil dalam jadwal hariannya. "Kakakmu, Arisanti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD