Shanin menatap suaminya dengan air mata berderai. Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk menerima tiap amukan yang dilampiaskan Bravendra terhadapnya. Namun, ia tidak bisa melawan. Apa yang pria itu lakukan benar-benar di luar kendalinya untuk sanggup menahan dan menerima.
“Artinya,” lanjut pria itu, “senyummu, waktumu, tubuhmu, hidupmu, dan semuanya yang ada dalam rumah tangga ini ... dalam kendali saya.”
Kalimat terakhir itu membuat Shanin kesusahan menelan ludahnya sendiri. Kepalanya yang masih sedikit pusing itu mencerna semua ucapan Bravendra. Sampai akhirnya, Shanin benar-benar sadar bahwa hidupnya berada dalam kendali sang suami yang mempunyai sisi gelap.
Sialnya, sisi lain itu tidak pernah ia lihat sebelumnya. Shanin sadar kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah percaya bahwa Bravendra merupakan sosok pria yang sanggup memberinya perlindungan. Kenyataan pahitnya, perempuan tersebut sudah melihat wajah asli pria tersebut saat semuanya sudah terlanjut.
“Mas, aku bukan barang.” Shanin berusaha bicara dengan nada lirih, berharap emosi Bravendra pun sedikit mereda ketika mendengar suaranya yang hangat.
Bravendra diam. Tatapan nyalangnya tidak pernah berpaling dari Shanin. Lantas, tanpa berkata apa pun, tangannya kembali terangkat ke udara. Shanin refleks memejamkan mata, menunggu sakit yang entah sudah berapa kalinya ia rasakan.
Beberapa detik menunggu, waktu seakan berhenti. Shanin sadar tidak ada apa pun yang menghantam wajah maupun tubuhnya. Tamparan itu tidak datang. Hanya deru napas Bravendra yang terdengar berat dan berembus panas ketika menerpanya.
Perlahan, Shanin membuka mata. Bravendra menatap tangannya sendiri, seakan baru sadar bahwa ia nyaris melakukannya lagi. Ada kekacauan di wajahnya. Raut wajahnya sulit dibaca. Amarah. Cemburu. Takut. Sesuatu yang liar dan hancur bercampur menjadi satu.
Namun, alih-alih meminta maaf, Bravendra justru menurunkan tangannya dan berkata dengan suara dingin. “Lepas baju kamu.”
Jantung Shanin berdegup lebih cepat. Ia sontak memeluk tubuhnya sendiri. Perempuan tersebut menggeleng. “Mas ….”
“Saya tidak suka melihat baju tidur yang kamu pakai.” Bravendra menatap benci gaun tidur tersebut. “Baju itu hadiah dari laki-laki itu, kan?”
Shanin menggeleng pelan. “Ini sudah sangat lama, Mas. Bahkan—“
“Lepas!” Bravendra memberi perintah tegas, seakan pantang dengan bantahan Shanin kali ini.
“M-Mas, jangan begini ... aku takut.”
Kalimat itu keluar begitu pelan, tetapi cukup untuk membuat ruangan mendadak hening. Wajah Bravendra seketika berubah. Matanya menatap Shanin lebih lama, seakan kata-kata itu menampar sesuatu di dalam dirinya.
Sang istri takut padanya. Namun, lagi-lagi, Bravendra memilih menelan kenyataan itu dan mengubahnya menjadi amarah.
“Bagus,” katanya lirih. “Akhirnya kamu paham.” Ia memangkas jaraknya dengan Shanin. Satu tangannya mencengkeram keras dagu sang istri. “Jangan pernah bermain-main dengan saya, Shanin!”
Tangis Shanin pecah. Ia menutup matanya sejenak, sebelum akhirnya Bravendra menarik kedua tangannya turun. Tidak kasar seperti sebelumnya, tetapi tetap memaksa. Tatapan pria itu terlalu dekat dan begitu mengurung, bahkan begitu asing bagi Shanin.
“Listen, Shanin.” Suaranya rendah, nyaris berbisik. “Saya bisa mencintaimu lebih dari siapa pun di dunia ini. Tapi saya juga bisa menjadi neraka paling buruk kalau kamu membuat saya merasa kehilangan.”
Tubuh Shanin langsung lemas. Di luar sana, mungkin orang-orang masih membicarakan betapa sempurnanya pesta pernikahan mereka. Mungkin keluarga masih tersenyum lega. Mungkin semua tamu pulang dengan keyakinan bahwa Arshanin Rantika Putri adalah perempuan paling beruntung karena menikahi Bravendra Mahardika.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik pintu kamar pengantin ini, keberuntungan itu baru saja berubah menjadi kutukan yang sangat menakutkan. Shanin menatap pria di hadapannya dengan pandangan kabur karena air mata yang belum juga surut.
Tiga tahun ia mencintai Bravendra. Tiga tahun ia percaya bahwa pria itu adalah rumah. Tiga tahun ia menyerahkan hatinya pada seseorang yang ia pikir akan menjaganya dari segala luka.
Namun, malam ini, untuk pertama kalinya Shanin menyadari bahwa pintu yang baru saja tertutup di belakang mereka bukan sekadar pintu kamar pengantin. Itu adalah pintu neraka. Dan suaminya sendiri yang kini memegang kuncinya.
**